Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Rombongan Panglima Cia Tiba


__ADS_3

Tiba di tempat pertempuran Chu Xiong, Ye Chen yang sedikit terlambat segera mengambil ketua kelompok sekte yang kultivasinya saat ini telah naik ke tahap Bumi puncak.


Dari dua yang berhasil Chu Xiong bunuh, satu di antaranya kembali bangkit karena lehernya tidak terpenggal.


"Penggal lehernya." suara Ye Chen mengagetkan Chu Xiong yang sempat terpana menyaksikan perubahan di depannya.


Ye Chen dengan cepat menyelesaikan lawannya, begitu juga dengan Chu Xiong, yang tadinya sangat sulit melumpuhkan lawannya karena kalah jumlah kini dapat membunuh mereka dengan mudah.


Kalau perbedaan kultivasi walau hanya satu tahap memang memang sangat mudah tapi berbeda lagi jika harus melawan banyak musuh.


Seperti yang Chu Xiong alami, walaupun satu tingkat lebih tinggi tapi musuh yang Ia hadapi lebih banyak. Ia harus berusaha lebih jika ingin menang.


"Tuan muda, inikah anggota sekte kegelapan itu? mereka sangat kuat, bahkan bisa menaikkan kultivasi hanya dengan sebuah cairan."


Ye Chen yang juga bingung sekaligus senang hanya terdiam. "Aku juga tidak tau apa yang mereka gunakan, tapi sebentar lagi kita akan tahu" ucap Ye Chen lalu memeriksa anggota sekte yang tewas.


"Bisa tolong kumpulkan mereka yang melakukan perubahan?" pinta Ye Chen. "Oh ya kumpulkan juga yang ditempat Song Fei, bawa ke tempatku." lanjut Ye Chen sambil menggenggam sebotol serum yang belum terpakai di tangannya.


"Apa yang sebenarnya tuan muda inginkan dengan tubuh mereka?" tanya Song Fei yang datang bersama Chu Xiong.


"Aku hanya penasaran saja." jawab Ye Chen lalu berpesan kepadanya dan Chu Xiong untuk terus berlatih.


"Jangan lupa awasi sekeliling kita, jangan menggangguku kalau tidak benar-benar penting." kata Ye Chen lalu masuk ke dalam dan melakukan penelitian pada jenazah anggota sekte.


Satu persatu anggota sekte Ye Chen teliti, mulai dari perubahan kulit sampai urat syaraf meridiannya.


Meridiannya membesar, ini berarti sebuah kekuatan besar memasukinya. Tapi ini tidak cocok, bukan begini cara kerjanya." batin Ye Chen, berbagai kemungkinan terlintas di benaknya.


Beberapa hari berlalu, Ye Chen masih saja meneliti tubuh anggota sekte.


Terakhir, Ia menimang botol serum yang di tangannya dengan sedikit frustasi.


"Ini langkah terakhir," gumamnya. "Jika setelah meminum ini tidak juga ada hasil, aku sebaiknya menyerah." Ia akhirnya meminum setengah serum lalu duduk merasakan perubahan dalam tubuhnya sendiri.


"Perasaan ini...." Barulah setelah Ye Chen meminum habis serum, perubahan dengan pelan terjadi pada tubuhnya.


Asap hitam seketika muncul di sekitar tubuhnya lalu lenyap, sama seperti anggota sekte sebelumnya. Anehnya Ia tidak merasakan sakit atau perubahan tingkat kultivasi, hanya kepalanya yang sedikit pusing.

__ADS_1


Merasa tidak ada perubahan yang terjadi, Ye Chen mengakhiri penelitiannya. Ia membakar semua yang di sana dan keluar.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Ye Chen pada Chu Xiong setelah keluar.


Chu Xiong menggeleng, lalu mundur menjauh. Ada sesuatu pada diri Ye Chen yang Ia rasakan.


"Tuan muda, apa anda masih seperti yang kukenal?" tanyanya.


"Tentu saja, kau kira aku ini siapa?" jawab Ye Chen heran.


"Aura anda...."


Seketika Ye Chen sadar, memang Ia merasa sedikit berbeda dari sebelumnya setelah meminum serum kegelapan.


Segera Ia duduk memejamkan mata dan mencoba masuk ke alam jiwanya sendiri.


Tidak lama kemudian Ye Chen membuka matanya. "Oh ternyata begitu, aku mengerti sekarang. tapi ini tidak cukup, aku harus mengambil beberapa serum itu." batin Ye Chen sambil tersenyum.


"Aku keluar sebentar." tanpa menunggu reaksi Chu Xiong Ye Chen keluar aray, tujuannya adalah markas sekte dan mengambil serum kegelapan.


Ye Chen masuk markas tanpa menimbulkan kecurigaan dari anggota sekte, Ia bahkan sesekali di terlihat berbincang Santa dengan anggota sekte yang Ia temui.


"Kawan, berhenti dulu," panggil seorang anggota sekte di depannya. "Kau telah meminumnya, ada apa? apa kau menemui kesulitan di luar sana?" tanyanya.


"Yah begitulah... dan aku ke sini berniat mengambil beberapa lagi."


"Aku mengerti, silahkan ke gedung kanan, mereka pasti tidak akan menolaknya."


Bingung dengan keramahan anggota sekte yang seolah bangga akan dirinya, Ye Chen bertanya-tanya dalam hati gerangan yang terjadi.


Jangan banyak berpikir, sebaiknya ke gedung kanan saja pikirnya.


"Tingkat Bumi puncak," gumam tetua kanan begitu melihat Ye Chen. "Bagus, akhirnya ada seseorang yang tidak mati karena serum kegelapan." ucapnya dan mempersilahkan Ye Chen masuk.


Dari hasil perbincangan mereka, Ye Chen menarik kesimpulan bahwa setiap anggota sekte yang meminum serum kegelapan pasti akan mati karena tidak kuat.


Dialah satu-satunya yang selamat selama ini.

__ADS_1


"Tunggu patriark kembali, aku sendiri yang akan mengantarmu ke gedung utama." kata tetua kanan.


"Tetua, apa aku akan mati?" tanya Ye Chen pura-pura takut.


"Hahaha tidak begitu, kau akan mendapat berkah dari pangeran kegelapan. Nanti kau lihat sendiri. Ayo kita ke gedung utama sekarang, kita tunggu patriark di sana."


...


"Ayah ikuti aku."


Ini adalah suara Cia Sun. Sehari setelah kepergian Ye Chen ke markas sekte, Ia dan rombongannya tiba di desa Bunga.


Dengan sigap, Ia membawa mereka semua ke taman belakang desa.


"Apa kau yakin ini tempatnya." tanya panglima Cia, bagaimana tidak, Cia Sun membawa mereka ke sebuah tanah datar yang tidak terdapat apa-apa di sana.


"Sabarlah ayah," kata Cia Sun lalu mengeluarkan batu kristal bening pemberian Ye Chen. "Nanti aku akan membuka aray, ayah dan yang lain segeralah masuk." Cia Sun mencari sebuah tanda formasi seperti yang Ye Chen katakan dan menempelkan kristal bening di tangannya.


"Ayo masuk."


Satu persatu rombongan ini masuk, terakhir adalah Cia Sun karena di harus melepas kristal bening.


"Tuan muda Cia, selamat datang, kita bertemu kembali." sapa Chu Xiong yang berdiri menyambut bersama Song Fei.


"Paman Chu," ucap Cia Sun mengenali pria yang dulu mencegatnya.


Seolah menanti keterangan, panglima Cia memandang Cia Sun.


"Oh maaf... Maaf, perkenalkan ini adalah ayahku, tuan pelindung kota Kenanga... ...."


Dalam rombongan ini, panglima Cia, Lu Ping, Ma Dong, Lu Jia Li, dua pengawal panglima Cia dan dua lagi kultivator dari paviliun Teratai.


Chu Xiong juga tak lupa men perkenalkan diri dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


"Nona Lu, sini ikut aku." Song Fei yang Lu Jia Li satu-satunya wanita di antara rombongan tersenyum ramah dan mengajaknya ke ruangannya.


"Baik kakak Song." sahut Lu Jia Li tidak canggung. Mungkin karena sama-sama wanita.

__ADS_1


"Tuan muda kemarin keluar, katanya ke markas sekte kegelapan." kata Chu Xiong yang melihat beberapa dari mereka seolah sedang mencari sesuatu.


__ADS_2