
Tak ada bagi wakil patriark berpikir, Ye Chen telah bergerak dengan kecepatannya mengejar tubuhnya yang terlempar.
Blaarr...
Perisainya hancur, tehnik terakhir yang Ia keluarkan dengan terburu-buru adalah tehnik Teratai Bermekaran. Ye Chen yang tau kelemahan tehnik ini bergerak duluan dan menghantam dengan tehnik yang sama yang baru saja dipahaminya.
Ye Chen melompat mundur, berpikir sejenak lalu mengangkat tinggi pedang hitamnya. Sementara wakil patriark yang menyadari ada kesempatan segera mengumpulkan kembali tenaganya.
Kelemahan tehnik teratai bermekaran adalah saat mengumpulkan Qi untuk membentuk teratai Qi dan melepasnya, dan waktu terbaik untuk menyerang pengguna tehnik adalah saat teratai Qi sudah hampir terbentuk.
"Tehnik Pedang Dewa...!"
Ye Chen berteriak keras, dan membentuk pedang Qi di udara. Sementara wakil patriark juga tak mau kalah, Ia dengan cepat membentuk teratai Qi yang sangat besar.
Sampai di titik dimana Ia harus membentuk teratai Qi dan tak bisa melepasnya lagi, Ye Chen menerjang cepat, melompat lurus dengan ujung pedang tepat mengarah ke dada wakil patriark. Setelah jarak mereka semakin dekat, tiba-tiba aura pedang Ye Chen menghilang berganti dengan melesatnya empat belati Qi yang mengincar kaki dan tangan wakil patriark.
"Selesai sudah." gumam patriark Xiao dari pinggir lapangan.
"Kau...!" wakil patriark berseru kaget, Ia sama sekali tidak mengira akan tertipu. Ternyata Ye Chen berbohong dengan tehnik pedang dewanya, nyatanya Ia tidak menyerang dengan pedang.
"Hehe makanya jangan terlalu yakin dengan tehnik sampahmu itu." ucap Ye Chen sambil berjalan mendekatinya yang hanya berdiri dengan tangan terkulai lemas.
"Ayah, apa yang akan dilakukannya, apa dia akan membunuhnya?" penatua Xiao bertanya lagi.
"Lihat saja, tapi kurasa tidak. Dia wakil patriark sekte Teratai, dia tak akan begitu ceroboh menambah musuh."
Di dalam ruang pelatihan, He Liang berkali-kali pingsan tapi berkat Jiang Kun yang mengawasinya, kondisinya tetap stabil. Sampai akhirnya He Liang bisa duduk dengan mantap, auranya pelan-pelan semakin kuat dan "boom!" ledakan kecil di dantiannya terdengar.
"Senior He, selamat telah telah merobos tingkat Suci."
He Liang mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan dari Jiang Kun. Akhirnya aku menerobos juga batinnya dengan mata berkaca-kaca, kesempatan yang mungkin tidak pernah Ia dapatkan jika masih terus berada di sektenya. "Dimana tuan Ye dan yang lain?" tanyanya ketika tak menemukan siapa-siapa di luar.
__ADS_1
"Ada penyusup, tuan Ye sedang mengurus mereka."
Mendengar ini, senior He tak berani menunda, Ia mengajak Jiang Kun keluar.
Patriark Xiao dan yang lain memandang kagum dan mengucapkan selamat ketika senior He tiba, metode kultivasi yang Ye Chen lakukan benar-benar berhasil.
"Sepertinya sebentar lagi kau akan menyusul kami hehe," ucap penatua Xiao. "coba lihat itu, tuan Ye berhasil mengalahkan para penyusup itu. lanjutnya sambil menunjuk hasil pertempuran Ye Chen.
Mata senior He tertuju pada korban yang tewas dan kaget karena mengenali mereka. Lebih kaget lagi ketika melihat wakil patriark yang sudah tidak berdaya. "Bukankah itu wakil patriark?" tanyanya dengan ragu.
"Jangan kuatir," sahut patriark Xiao dari samping. "Ia tak akan membunuhnya." lanjutnya lagi tetap tenang.
"Anda salah patriark, tuan Ye pasti akan membunuhnya." bantah Jiang Kun.
Sementara itu Ye Chen sudah berada di depan wakil patriark, tersenyum sebentar lalu mengangkat tangannya, melepas belati Qi menusuk kedua bahu, lengan dan kaki wakil patriark.
Apa yang Ye Chen lakukan ini menarik alis patriark Xiao, "Tidak mungkin." ucapnya lalu melesat mengejar Ye Chen yang kembali mengangkat tangannya.
Senior He juga ikut, Ia tentu tak mau melihat wakil patriark sektenya terbunuh di depan matanya.
"Oh itu, tentu saja. Apa anda keberatan patriark?" kata Ye Chen yang membuka auranya kembali, bersiap menggempur patriark Xiao jika menyerangnya.
Dalam keadaan apapun, situasinya bisa saja diluar perkiraan. Apalagi dalam sebuah pertarungan, Ye Chen tak mau lengah, harus tetap siap menghadapi segala kemungkinan.
"Simpan waspadamu, aku tak akan menyerangmu." ucapnya pada Ye Chen. "Anak ini tidak main-main, Ia bahkan bersiap menggempurku." batin patriark Xiao yang melihat Ye Chen hanya mengendurkan sedikit kewaspadaannya.
"Tuan Ye, tolong ampuni." senior yang baru tiba segera berlutut memohon ampunan wakil patriark.
"Kau juga...?" ucap Ye Chen, tapi tidak marah, Ia mengerti keadaannya. "Karena kau yang meminta, kali ini Ia kulepaskan, katakan padanya jangan pernah menggangguku lain kali, Tak ada maaf untuk yang kedua."
"Terima kasih tuan." He Liang bangkit dan memapah wakil patriark. "Tetua, kembalilah dan katakan pada patriark, aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi bagian sekte lagi."
__ADS_1
"He Liang! bagus sekali, sekarang kau sudah menjadi anjing orang lain dan menkhianati sekte." Wakil patriark mengumpulkan semua tenaga untuk memperingati senior He.
Senior He tertunduk, "Pergilah" ucapnya.
"Tunggu saja sampai aku melaporkan semuanya, kota ini akan hancur." masih mengancam dengan sombongnya.
Dari samping, Ye Chen yang masih berdiri di dekat wakil patriark menampar dan memukul rusuk wakil patriark sampai patah. "Peringatan pertama, jangan pernah berani mengancamku." ucapnya dingin.
"Senior He, sudahlah biarkan saja dia pergi. Orang seperti ini kalau tidak mati, pasti akan terus merepotkan orang lain."
"Tuan, anda sudah berjanji."
"Aku hanya berjanji tidak membunuhnya. Ah sudahlah, bawa dia pergi dan orang-orangnya."
Wakil patriark akhirnya pergi sambil membawa dua bawahannya. Langkahnya pelan, Ia memutuskan langung kembali ke sekte dan melapor.
Sepeninggal wakil patriark, suasana sedikit canggung terutama senior He, Ia merasa sedikit tidak nyaman. Belum apa-apa orang sektenya telah datang mencari masalah, bahkan wakil patriark sendiri yang datang.
"Senior He, bagaimana latihanmu?" Ye Chen mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih atas bantuan tuan." jawab senior He tertunduk.
Ye Chen hanya menggeleng. "Angkat kepalamu senior He! aku tak suka berjalan bersama orang lemah." Ye Chen berkata tegas, sedikit aura intimidasi Ia keluarkan dan membuat senior He tersentak.
Ia sadar, tidak seharusnya Ia bersikap lemah. Ye Chen telah banyak membantunya, mulai dari menyelamatkannya di dimensi kristal roh dan hari ini membantunya menerobos tingkat Suci. "Maaf, maafkan aku tuan." kali ini suaranya mantap.
"Bagus! ingatlah, anda adalah pemimpin di wilayah Ye ini. Tentu saja kalau masih menginginkannya."
"Aku akan membuat wilayah Ye menjadi kuat dan disegani." sahut senior He kembali dengan suara yang mantap.
"Aku juga."
__ADS_1
Pengrajin Mingdi yang dari tadi hanya diam tiba-tiba bersuara, hatinya kini mantap dengan pilihannya mengikuti Ye Chen dan tinggal di wilayah Ye. Terlebih lagi setelah menyaksikan semua yang terjadi.
Beginilah seharusnya sikap seorang pemimpin, tidak pernah ragu terhadap apapun yang mengancam dan tegas dalam setiap tindakan dan yang lebih penting adalah kekuatannya yang rasanya sulit ditandingi.