Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Latihan Bersama


__ADS_3

Memahami kebingungan Gu Xia, Ma Dong mengusulkan untuk menemani Ye Chen. Tapi Ye Chen menolak dan yang lain menolak.


"Bukan peyelidikan namanya kalau kita beramai-ramai kesana." ucap Lu Jia Li yang disetujui yang lain.


"Begini saja, kamarmu hanya sebagai tempat persembunyian sementara saja, aku tidak akan masuk kecuali keadaan mendesak." sahut Ye Chen.


Ye Chen sadar betul, dua orang tingkat Langit tahap tinggi yang Ia lihat sebelumnya bukanlah hal mudah untuk di hadapi.


Menghadapi salah satu di antara mereka saja belum tentu bisa, apalagi ada dua orang, sungguh mencari kematian yang sia-sia dan Ye Chen bukan orang bodoh yang siap mengantar nyawa.


"Baiklah, malam ini aku akan membawamu masuk." Gu Xi akhirnya mengalah, keadaan ayahnya lebih penting dari sekedar kamar pribadinya.


"Saudara Chen apa kau baik-baik saja? apa kau sanggup? tanya Ma Dong yang sedikit meragukan Ye Chen.


" Tenang saja, aku pernah kesana dan orang-orang paviliun sudah tau kalau aku adalah utusa paviliun dari kota Kenanga."


Memang betul, di antara yang lain, Ye Chen adalah satu-satunya yang paling bisa di andalkan untuk tugas ini.


"Saudari Lu Jia, kau temani aku yah." Gu Xia merajuk, biarpun setuju tapi tetap saja Ia merasa sedikit aneh jika nanti berdua saja dengan Ye Chen dalam kamar.


Lu Jia mengangguk setuju, Ia tentu saja mengerti keadaan temannya.


"Saudara Chen bersiaplah, malam nanti kita berangkat. Aku kembali dulu untuk memastikan keadaan paviliun."


Malamnya Ye Chen bersama Lu Jia Li dan Gu Xia dengan mudah masuk ke paviliun.


Namun sayang, Ye Chen yang semalam penuh menyelidiki paviliun tidak menemukan apa-apa, bahkan Ia sudah mengedarkan kekuatan spiritualnya tapi tetap saja tidak menemukan keanehan.


Ketua Gu Liang yang menurut Gu Xia ada di ruangannya juga tidak keluar. Ye Chen yakin ketua Gu Liang ada di dalam.


Ye Chen hanya sebentar saja berada di kamar pribadi Gu Xia, diam-diam Ia memasang aray teleportasi di sana.


"Saudara Chen bagaimana, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Ma Dong yang kembali bertemu Ye Chen di penginapan.

__ADS_1


"Tidak ada yang aneh." jawab Ye Chen singkat.


"Sudahlah kalau begitu," lanjut Ma Dong. "Sebaiknya kita ke aula kekaisaran, hari ini adalah hari perkenalan semua peserta."


"Apa kau lupa, aku ini bukan peserta turnamen."


"Ayolah ikut saja, banyak peserta yang tidak mewakili siapa-siapa. anggap saja mencari pengalaman." bujuk Ma Dong.


Ye Chen akhirnya ikut juga, apa yang dikatakan Ma Dong ada benarnya. Tidak ada salahnya mengikuti turnamen, aku juga tak ada kerjaan lain di sini batin Ye Chen.


Seratus lebih peserta telah berkumpul di aula, paling banyak adalah kelompok tingkat Emas. Mereka lalu dipisahkan berdasarkan kelompoknya masing-masing.


"Para peserta turnamen, aku ucapkan selamat datang." sambut ketua turnamen.


Ketua turnamen lalu menjelaskan aturan turnamen, karena ini adalah turnamen antar benua maka kekaisaran hanya memilih yang benar-benar siap saja.


Untuk lolos, tiap peserta harus melewati dua ujian, yang pertama adalah bertahan dibawah tekanan aura tingkat di atasnya dan yang kedua adalah bertarung dengan kultivator di tingkat atas dengan hasil minimal imbang.


"Untuk hadiah turnamen akan di umumkan setelah turnamen dimulai. Nah sekarang kalian boleh bubar, tiga hari lagi turnamen akan di mulai."


Belum lagi Ye Chen keluar aula, terdengar suara yang tak asing memanggilnya.


"Saudara Chen, maukah kau ikut berlatih dengan kami?" Rupanya Lu Jia Li dan Gu Xia yang datang.


"Tentu saja mau, dengan senang hati hehe...." yang menjawab ini adalah Ma Dong.


"Nah pergilah bersama Ma Dong, jangan menggangguku, kalian tau? aku bahkan belum sarapan ketika anak ini menarikku kesini." ucap Ye Chen sembari menunjuk Ma Dong.


"Saudara Chen tenang saja, di istana banyak makanan enak." bujuk Lu Jia. Sebagai salah satu anak kaisar, Lu Peng yang menjadi pelindung kota Kenanga tentu saja mempunyai istana kecil di ibukota.


"Jangan bercanda denganku." ucap Ye Chen mulai tertarik. Ia tak mungkin melewatkan makanan enak di istana.


"Tentu saja, akan kusiapkan satu meja full untukmu nanti." kata Lu Jia.

__ADS_1


"Baiklah, ayo berangkat." sahut Ye Chen tersenyum.


Sampai di istana, di sana telah menunggu dua rekan lainnya dari kota Kenanga yang sedang bersiap berlatih bersama pelindung kota.


"Oh kalian telah berkumpul, bagus. Nah kali ini aku akan melatih kalian mengumpulkan energi untuk menahan tekanan aura." kata pelindung kota tidak mau membuang waktu. "Berbarislah." Perintahnya lagi.


"Bersiaplah!"


Pelindung kota mulai menekan dengan auranya, mulanya hanya sedikit saja sekitar sepuluh persen yang Ia keluarkan, begitu Ia menaikkan tekanannya sampai dua puluh persen, hanya Ye Chen dan Ma Dong yang masih sanggup bertahan.


Sampai Tiga puluh persen, Ma Dong sudah tidak kuat lagi, berbeda dengan Ye Chen yang masih terlihat santai.


"Kita lihat sampai dimana kekuatanmu." batin pelindung kota menambah tekanannya sampai Lima puluh persen.


"Saudara Chen, kau hebat." puji Ma Dong yang menghampiri Ye Chen yang tampak terengah-engah.


"Heh kakek tua apa kau mau membunuhku?" Ye Chen mengirim telepati kepada pelindung kota.


Pelindung kota yang mendengar suara di kepalanya berpaling ke arah Ye Chen, tersenyum dan bergumam pelan. "Hebat, di usianya saat ini sudah bisa tehnik telepati."


Setelah ini pelindung kota memberikan arahan bagaimana membuat aura menjadi perisai, jadi untuk menahan tekanan aura energi itu tidak cukup dengan hanya ditahan saja, berusahalah membuat dan merubah Qi menjadi aura pelindung.


Demikianlah arahan dari pelindung kota sembari mempraktekkan tehnik perisai.


Berbeda dengan yang lain, Ye Chen berlatih asal saja, hanya sekedar ingin terlihat berlatih.


Ia bahkan masih sanggup menahan tekanan yang lebih besar lagi dari pelindung kota. Tentunya bukan hanya menahan tapi melawan balik dengan mengeluarkan aura tekanan yang sama.


"Cukup! istirahatlah, nanti kita lanjutkan lagi." ucap pelindung kota.


Ye Chen tidak ikut latihan lagi, setelah menyantap hidangan yang disediakan Lu Jia Li, Ia langsung kembali ke penginapannya.


Pikirannya masih terus terganggu dengan percobaan pembunuhan dirinya, dua tingkat Langit tinggi. Ia tidak bisa bernafas lega sebelum menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa begitu sulit, aku tidak mau mati konyol di sini." gumam Ye Chen yang merebahkan tubuhnya di pembaringan.


Tak lama kemudian, Ye Chen duduk sambil memegang token teleportasi di tangannya, "aku harus kembali kesana malam ini." ucap Ye Chen dalam hati.


__ADS_2