Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ye Chen v Petinggi Desa Ye


__ADS_3

Di sebuah dimensi, terlihat satu bayangan gelap yang diam tak bergerak. Sesaat kemudian terdengar suara menggema.


"Sirio telah tewas, jangan bermain lagi. Pulang dan lakukan hal lain dengan baik, jangan mengacau."


Bayangan gelap itu bergoyang setelah suara itu lenyap, lalu kemudian secara perlahan berubah menjadi bentuk padat dan menghilang dari dimensi itu.


"Ye Chen, kita akan bertemu lagi." sebuah senyum tipis terlihat di bibirnya sebelum menghilang.


...


Ye Chen benar-benar menghabiskan waktunya di desa Ye, semua masalah yang dihadapi nya menguap begitu saja. Desa Ye juga menjadi sangat ramai, semua kenalan juga hadir di sana saat mendengar Ye Chen datang.


"Kakek Song, hehe kau kalah lagi haha. sadarlah pak tua, kau harusnya jangan ikut-ikut bermain."


Di lapangan depan aula desa, Ye Chen berdiri berdampingan dengan kakek Song. Mereka sedang bermain memasukkan gelang ke dalam botol.


Permainan ini murni tanpa menggunakan Qi, hanya menggunakan keahlian fisik. Bahkan Ye Chen pun kadang-kadang harus gagal dan kalah berkali-kali. termasuk kalah dengan kakek Song.


Inilah kali pertama Ye Chen menang dan gayanya seperti tidak terkalahkan saja. Bahkan yang lain tak ada yang berani tertawa mendengar ucapan Ye Chen ini.


"Anak busuk ini, berani kau menggodaku hah? coba lihat sudah berapa banyak kristal rohmu terbuang haha."


Semua orang senang menantang Ye Chen karena Ye Chen memang tidak terlalu hebat dalam permainan ini sehingga semua orang punya kesempatan untuk mengalahkannya.


Dan yang paling penting adalah kristal roh yang dimenangkan dari Ye Chen itu adalah jenis tertinggi. Jika melakukan kultivasi menggunakan kristal roh itu maka sudah pasti akan bisa naik tahap dengan cepat.


"Tuan Giro, apakah itu tuan Chen yang kita kenal? kenapa aku seperti tidak bisa mengenalinya lagi?"


Tanya salah satu pasukan seratus heran. Tuan mereka bermain judi seperti anak kecil, kadang melompat girang dan beradu mulut dengan yang lain.


"Entahlah, aku juga baru pertama kalinya melihat tuan muda begitu." balas Giro.


"Apakah tuan juga baru pertama kali kesini?" Giro mengangguk lalu berkata, "Ini adalah alam dimana tuan muda dibesarkan, desa ini dulunya sebuah hutan liar lalu berubah seperti sekarang." Giro bercerita masa Ye Chen di alam bawah.


"Kakek Song, kau curang! kau melewati garis, ah" Ye Chen lagi-lagi protes. Kalau kalah memang Ia akan protes keras dan jika kau tidak berani membantahnya maka kemenanganmu akan sia-sia, faktanya tidak ada yang benar-benar berani membantah dan Ye Chen juga tidak peduli.


"Siapa yang berani mengatakan ayahku sudah tua dan tak tau aturan?" suara lain datang dari jauh disusul munculnya seorang wanita yang cantik.


"Nona Xiao, kau akhirnya datang. Qin Gang! dia mengatakan kakek Song sudah tua dan matanya rabun, dan curang melewati garis."


"Tuan ... "

__ADS_1


Qin Gang yang berdiri di sana tak bisa berkata apa-apa.


"Baiklah, karena aku sudah datang, maka aku akan menjadi wasit! taruhannya adalah sepuluh batu roh."


Ye Chen tak bisa berkutik lagi, dia terlalu sayang pada Xiao Yun, banyak hal yang mereka lalui bersama.


Hasilnya pun sudah bisa ditebak, tak satu kali pun Ye Chen menang, meskipun Ia sangat serius.


"Kalau sudah semua, sekarang giliranku. Aku memberimu tiga kali percobaan." kata Xiao Yun.


"Tidak, lima kali." sahut Ye Chen.


"Baik lima kali, tapi jumlahnya jadi seratus batu roh."


"Heh kau akan menyesal."


"Tuan Giro, apakah menurut anda tuan Ye tidak serius?" kembali pasukan seratus bertanya.


"Jangan tanya, bahkan aku sendiri tidak pernah tau kapan Ia serius atau tidak."


"Terima kasih tuan Ye." Xiao Yun menunduk sedikit, maksudnya menggoda Ye Chen.


Namun setelah itu Xiao Yun berteriak keras, suaranya menggema ke seluruh desa Ye. "Apa yang kalian tunggu? kenapa tidak berterima kasih kepada pemimpin kita?"


"Pemimpin Ye terima kasih!"


Suara itu menggema di seluruh desa Ye, diikuti suara lutut menyentuh tanah. Tak ada satu pun penduduk yang tidak berlutut, dari orang tua sampai anak kecil, di sudut manapun.


Giro dan pasukan seratus bergidik melihat ini dan tanpa sadar juga ikut berlutut. Dari sudut manapun bisa terlihat bahwa Ye Chen memenangkan hati rakyatnya.


"Bangunlah...."


Suara tenang dan lembut dari Ye Chen menggema, lalu sebuah udara tipis bergerak mengangkat semua orang di tempat itu untuk bangun.


"Hais kalian ini, padahal sudah kukatakan jangan berlutut lagi."


Tak lama kemudian muncul seseorang dari dalam aula, "Tuan Song, makanan sudah siap." ucapnya lalu kembali ke dalam lagi.


Aula itu sangat besar, banyak meja panjang berjejer rapih di sana. Kakek Song sengaja mengatur ini karena Ye Chen tidak suka ada yang makan di bawah saat bersamanya.


Lalu semua penduduk muncul membawa hidangan lain, mengatur meja di luar aula untuk mereka sendiri. Tentunya para penduduk itu mengambil hewan yang Ye Chen bawa.

__ADS_1


Saat semua selesai. Ye Chen lalu dipaksa untuk mencoba semua jenis makanan. Ye Chen sendiri pasti tidak menolaknya.


Adalah kebanggaan tersendiri jika masakan yang dibuat oleh penduduk disukai oleh pemimpin mereka.


keesokan harinya pesta makan-makan baru selesai, suasana memang sangat akrab saat itu bahkan Ye Chen juga mengeluarkan Rajawali untuk ikut berpesta dan membawa anak-anak terbang.


Xiao Yun dan petinggi desa Ye pagi itu tampak berbincang akrab dengan Giro dan pasukan seratus, saling menceritakan pengalaman masing-masing.


Salah satu yang menarik adalah kehadiran pasukan seratus, mereka ini adalah bangsa Peri yang notabene terkenal dengan fisik yang bagus, kulit bercahaya dan tampan. Banyak gadis yang sering mencuri pandang ke arah mereka termasuk Song Fei, cucu luar kakek Song.


"Aku rasa dia menyukaimu." terdengar suara dari samping Song Fei.


"Ah benarkah?"


Wajah Song Fei bersemu. "Lihat saja, dia juga kadang melirikmu kan?" kata suara itu lagi.


"Ah dia sangat tampan, tubuhnya tinggi, kekar dan putih. Benar-benar seorang pemuda idaman."


Song Fei tak sengaja melirik ke samping, Ia seketika membeku. "Tuan Ye, ah dasaar aku akan memukulmu." Song Fei benar-benar malu kali ini, Ye Chen menggodanya.


"Hahaha tapi aku betul kan? hayo mengaku saja, aku bisa membantumu."


"Awas kau, aku tak peduli kau pemimpin atau bukan, aku tetap memukulmu." teriak Song Fei sambil terus mengejar Ye Chen.


Suara ribut-ribut itu menarik perhatian yang lain yang sedang duduk berbincang. "Pasti ini ulah tuan Ye lagi, pagi-pagi begini sudah membuat ulah." kata Xiao Yun geram.


Wuss...


Xiao Yun merentangkan tangannya dan memanah Ye Chen, tiga anak panah benar-benar melesat cepat.


Giro dan pasukan seratus kaget setengah mati. Bukan saja karena memanah Ye Chen tapi teknik panah surgawi yang digunakan Xiao Yun sangat akuat.


Ye Chen menghilang dan muncul di aula, "Nona Xiao kau mau membunuhku!"


"Tapi kau tidak mati kan?" sahut Xiao Yun dengan enteng.


"Hais baiklah, nona Song Fei aku minta maaf."


"kompensasi."


"Hei aku ini pemimpinmu, kenapa aku yang selalu ditindas?" protes Ye Chen, tapi tetap memberikan sebuah cincin penyimpanan berisi ribuan kristal roh.

__ADS_1


"Terima kasih tuan Ye." ucap Song Fei sambil tersenyum manis lalu pergi. Diantara semuanya, dialah yang paling beruntung. Bahkan Xiao Yun juga iri, ia hanya seratus kristal roh saja.


__ADS_2