Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Menyalin Peta


__ADS_3

Puteri Jia Jia memberikan Ye Chen pil pemulih, pil ini berbeda dengan yang biasa Ia gunakan namun hasilnya sungguh efektif, Ia tak perlu lagi repot-repot meresap khasiat pil karena pil itu sendiri langsung lumer di mulutnya dan energi yang terkandung di dalamnya langsung mengisi setiap sendi tubuhnya, mengembalikan staminanya dengan cepat.


"Pil ini...?" gumam Ye Chen, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Benar-benar seorang alkemis sejati, batinnya memuji orang yang membuat pil itu.


"Pil itu buatan alkemis di tempatku. Bagaimana, apakah pilnya bekerja dengan baik?" tanya Jia Jia yang heran dan takjub Ye Chen bisa dengan cepat mengonsumsi pil darinya.


Pil dari Jia Jia memang berbeda, hanya rasnya yang bisa dengan cepat mendapatkan khasiat pil sedangkan orang dari ras lain butuh waktu yang cukup lama untuk merasakan khasiat pil secara keseluruhan.


"Pil yang bagus," jawab Ye Chen. "Anda benar-benar baik nona, katakan apakah ada yang bisa kubantu?" Ye Chen berniat membalas kebaikan Jia Jia, jujur saja Ia tak mau menyimpan hutang budi kepada yang lain.


Setelah berpikir sejenak, Jia Jia berkata. "Tuan Chen, aku akan berkata jujur. Sebenarnya aku telah lama mengikutimu sampai ketika dimensi kristal roh itu tapi kemudian aku kehilangan jejakmu."


Ye Chen tertegun, Ia mencoba mengingat kembali peristiwa dulu. Mungkinkah dia ini yang aku rasakan auranya pikir Ye Chen. Dulu pernah beberapa kali Ia mendeteksi aura keberadaan lain yang mengikutinya.


"Lantas apa hubungannya denganku? kenapa kau mengikutku?" tanya Ye Chen. Tiba-tiba wajahnya memerah tanpa sebab, jangan-jangan dia suka padaku batinnya. Namun Ia menggeleng keras, aduh apa yang kupikirkan? batinnya lagi.


Untung saja puteri Jia tidak memperhatikan perubahan pada diri Ye Chen.


"Aku butuh peta, dan akulah yang memenangkannya di lelang dulu, sayangnya aku tak bisa membukanya."


Puteri Jia juga bercerita mengikuti Ye Chen karena ingin merampas peta itu karena itu adalah miliknya yang Ia menangkan di lelang kemudian dicuri tapi setelah Ye Chen melelangnya kembali maka Ia tak mencarinya lagi dan membeli peta itu di pelelangan.


Dan ketika tak bisa membuka artefak yang berisi peta itu, puteri Jia kembali mencari jejak Ye Chen, sayangnya Ye Chen telah menghilang.

__ADS_1


"Lihatlah artefak ini, aku tidak berharap banyak tapi mungkin kau bisa membukanya." kata puteri Jia lalu memberikan artefak itu pada Ye Chen.


"Tidak usah, aku telah melihat peta itu." kata Ye Chen.


"Jadi, kau yang menyegelnya kembali dan menipu kami dengan melelang barang palsu?" paman di belakang puteri Jia tiba-tiba marah, Ia yang dari awal tidak begitu suka kepada Ye Chen menjadi tidak sabar. Ia ingat betul bagaimana Ye Chen membunuh lawannya dulu, bukan membunuh tapi menyiksa sampai mati.


"Terserah apa katamu paman, jangan salahkan aku kalau kalian tertipu," ucap Ye Chen tenang seolah itu adalah hal yang biasa saja. "Sayangnya peta itu entah ada dimana sekarang tapi aku bisa menyalinnya untukmu, itu pun kalau kau mau."


Wajah puteri Jia seketika cerah, Ia meraih tangan Ye Chen dan meremasnya. "Benarkah? benarkah anda bisa menyalinnya?" bahkan ucapannya kini lebih sopan dan ramah, dengan mata bulatnya yang indah dan bening menatap mata Ye Chen yang hitam.


Ye Chen yang tak menyangka ini awalnya sedikit gugup tapi akhirnya Ia bisa tenang, Ia juga menggenggam tangan puteri Jia. Menatap mata birunya yang indah. Dalam pandangan puteri Jia, pupil mata Ye Chen berubah menjadi ungu dan sangat tenang. Tanpa sadar, Ia pun membalas genggaman tangan Ye Chen, menelusuri wajah tampan Ye Chen dengan matanya.


Ehem...


Ye Chen memberanikan diri, menatap puteri Jia yang masih tertunduk, Ia lalu berkata, "Nona, aku akan menyalinnya untukmu."


Tapi reaksi puteri Jia membuat Ye Chen heran.


Dengan lembut puteri Jia berdiri, lalu berbalik tanpa mengangkat wajahnya dan berjalan pergi.


Sebetulnya puteri Jia bukan tidak mau berbicara, Ia hanya tak mau mengeluarkan suara saja, takut suaranya akan bergetar, Ia hanya sanggup berjalan pelan sambil menahan debaran jantungnya. Saat melewati paman, puteri Jia meliriknya, dan paman tau apa yang harus dilakukannya.


Setelah menggeleng melihat kelakuan puteri Jia, paman berjalan mendekati Ye Chen. Ia bertanya apakah benar apa yang Ia bisa menyalin peta. Ye Chen menjawab dengan pasti, bahkan Ia dengan senang hati akan memberikan salinan peta yang lain dengan syarat harus tau untuk apa peta akan digunakan.

__ADS_1


Paman menghela nafas lalu berkata, "Mungkin kau belum tau, kami adalah ras peri. Suatu waktu saat sedang berlatih seperti biasa, puteri Jia dikejutkan dengan sebuah lubang hitam yang tiba-tiba muncul." paman mulai bercerita.


Karena penasaran, puteri Jia lalu mendekati lubang hitam itu dan akhirnya tersedot masuk ke dalamnya. Ketika melihat itu, paman yang bertugas melatih puteri Jia segera berlari dan menyusul masuk ke dalam lubang hitam untuk menyelamatkannya, beruntung mereka terlempar ke alam atas semu dan bukan tersesat di dalam dimensi portal.


Ye Chen dapat menebak alasan puteri Jia dan paman itu mencari peta, bukan lain adalah untuk menemukan arah atau petunjuk untuk kembali ke alamnya. Tapi apakah cuma itu saja? bukankah percuma saja menemukan jalan kalau tidak bisa membuka portal dimensi?


Karena penasaran, Ye Chen menanyakan hal ini kepada paman dan ditanggapi dengan tersenyum sambil berkata, "Jangan khawatir, kami memiliki cara untuk kembali. Peta itu hanya untuk mencari posisi yang pas untuk kembali saja." ucapnya.


"Ras peri...." gumam Ye Chen, bukankah Ibu berasal dari ras peri? batinnya. Seketika timbul keinginannya untuk ikut pergi ke alam peri namun Ia merasa sungkan untuk menyatakannya. Dengan segera Ia meminta alat tulis dan menyalin sebuah peta untuk paman.


"Paman...." kata Ye Chen, merasa canggung memanggil paman begitu saja.


"Tidak apa, panggil paman saja."


"Baiklah, ini petanya dan sampaikan salamku untuk puteri Jia.


Paman tersenyum, Ia dapat melihat ketulusan Ye Chen sehingga rasa tidak sukanya berangsur-angsur hilang. "Kau boleh tinggal di sini, setelah kami pergi, tempat ini akan kami tinggalkan."


"Baik paman." kata Ye Chen. Tempat itu tidak terlalu buruk. "Oh ya paman, apakah paman mendengar kabar dari sekte Pedang Langit? dan dimanakah tempat ini?" tanya Ye Chen.


"Yang aku dengar, sekte itu sudah tidak ada lagi, juga sekte Pil Dewa. Pusat alam ini sekarang berada di wilayah Ye." Paman berhenti sebentar dan memandang Ye Chen lekat-lekat, merasa ada yang janggal. Saat ini bertanya, Ye Chen yang melihat keraguannya itu mengangguk sambil tersenyum.


Paman mengangguk, seorang pemimpin yang baik pikirnya. "Nah aku pergi, jangan berubah." katanya sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2