Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Datang Berkunjung


__ADS_3

Merasa sama-sama di tingkat yang sama, tetua rumah alkemis ini merasa sanggup mengalahkan Ye Chen. Peristiwa di rumah lelang dimana Ia dan temannya dipermalukan Ia anggap hanya kebetulan saja karena Ia dan rekannya di serang tiba-tiba.


Apakah Ye Chen menganggapnya, tentu saja tidak, tetua ini sama sekali bukanlah lawannya dan Ye Chen tidak terbiasa bermain-main dengan lawannya.


Tetua ini hanya mampu berkelit beberapa kali saja ketika akhirnya belati iblis menembus dada dan kepalanya. Tewas dengan cara yang sama seperti tiga orang sebelumnya.


Ye Chen berjalan seolah tidak terjadi apa-apa, dan karena Ia menggunakan belati maka pakaiannya tidak terdapat bercak darah korbannya seperti ketika menggunakan pedang hitam.


Hanya beberapa langkah, Ye Chen berbalik dan mengeluarkan aura membunuh yang pekat.


Kemudian kembali melanjutkan langkahnya sambil tersenyum.


"Tuan puteri, jangan bermain-main lagi, orang ini tidak mudah."


"Paman, apa kau lihat belati itu? bukankah belati itu yang ada di acara lelang dulu?"


"Sudahlah ayo kita pulang, atau jangan-jangan anda masih menginginkan belati itu?"


"Tidak, aku hanya tertarik saja." ucap sang puteri memandang kagum kepergian Ye Chen, matanya berbinar senang. "Tampan dan berani." gumamnya.


"Tuan puteri, apa anda mengucapkan sesuatu?"


"Oh, itu... ayo kita ikuti ...


"Maksud anda...?"


"Eh maksudku ayo kita kembali, ah paman ini makanya dengar baik-baik kalau orang lagi bicara." Berkata begitu tapi muka puteri ini memerah tomat, sepanjang jalan pikirannya tak pernah lepas dari sosok Ye Chen.


Dia adalah puteri dari kaisar Han, namanya Han Meilan.


Parasnya cantik dengan kulit putih bersih, sikapnya sedikit angkuh tapi baik hati. Mungkin karena tinggal di lingkungan istana yang segala kebutuhannya terpenuhi, membuatnya jadi sedikit manja.


Puteri Han Meilan inilah yang menginginkan belati iblis pada ada cara lelang dan memaksa pamannya merebut dari tangan Ye Chen.


Tanpa sengaja Ia melihat orang dari rumah alkemis yang menguntit dan mengikutinya karena rasa penasaran saja. Tak disangka malah bertemu Ye Chen dengan yang bertarung dengan belati iblisnya.


...


Di rumah alkemis.

__ADS_1


"Ketua, ini tak bisa dibiarkan, orang ini telah membunuh beberapa orang kita dan satu tetua."


"Reputasi rumah alkemis lama-lama akan hancur jika kita tidak membunuhnya."


"Ia bahkan mempengaruhi tetua Kam berbelot."


"Ketua... ...."


Satu persatu tetua rumah alkemis mengajukan protes, tak satupun dari mereka yang tidak ingin membalas dendam.


Ketua rumah alkemis sebenarnya merasa marah tapi tentu saja Ia tidak bisa mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.


"Apa ada kabar dari pihak akademi kekaisaran?" tanyanya.


"Mereka tidak mau ikut campur. Menurut mereka itu adalah masalah kita sendiri." jawab seorang tetua.


"Bukankah mereka pernah berkonflik dengan orang itu juga?"


"Entahlah ketua, tapi dari yang aku dengar mereka tidak mempermasalahkannya lagi. Jadi, apa keputusan anda?"


Di tanya begini, ketua rumah alkemis terdiam. "Siapkan semuanya, dua hari lagi kita ke rumah lelang."


Ye Chen tengah asyik menikmati hidangan di salah satu rumah makan ketika ketua rumah lelang mengambil keputusannya. Sudah satu hari ini Ia tidak kembali.


Tampak ketua rumah alkemis beradu pendapat dengan tetua Kam di depan pintu.


"Tetua Kam, mau apa mereka ini kesini?" Ye Chen yang baru saja tiba.


"Tuan Ye, anda kembali," sapanya, Ye Chen mengangguk, tak mengenali siapa yang datang. "mereka dari rumah alkemis, menuntut kematian tetua mereka"


Tetua Kam lalu memperkenalkan pemimpin rumah alkemis dan para tetua rumah alkemis kepada Ye Chen, yang kemudian berbalik menghadap mereka.


Tapi sebelum Ye Chen sempat berbicara, dari jauh ada rombongan lagi yang datang.


Mereka adalah rombongan pemimpin kota dan pasukan keamanan yang hendak melerai dan membawa ke balai kota.


Selama di balai kota, Ye Chen banyak diam. Ia juga tau kewenangan pimpinan kota yang tentu saja akan mencegah pertempuran yang mungkin saja terjadi.


"Aku mengerti," kata pimpinan kota. Kami hanya menyayangkan jika ada penduduk yang jadi korban." lanjutnya tanpa ingin terlibat lebih jauh dan karena ini juga bukan pengadilan.

__ADS_1


Tiba-tiba Ye Chen berdiri dari tempatnya saat mereka semua hendak keluar.


Dengan mengeluarkan sedikit aura kematian. "Aku tidak ada niat berselisih dengan siapapun, tapi jika ada pihak yang mencoba mengangguku, aku tak akan segan." ucapnya lalu mengajak tetua Kam dan yang lain pergi.


Tiba di gedung rumah lelang, Ye Chen menatap tetua Kam. "Tetua Kam, anda adalah orang dari rumah alkemis, sebenarnya apa yang mereka inginkan? dan bagaimana sikap anda jika suatu saat nanti bentrok dengan mereka?"


Tetua Kam mau tidak mau merasa tidak enak juga. Sambil menghela Ia berkata tidak akan ikut campur, tapi Ye Chen berhasil meyakinkannya untuk menghadapi ketua rumah alkemis nanti.


"Aku tidak menyalahkan anda tetua Kam, tapi masalah ini lebih diselesaikan dengan cepat. Anda juga tau aku tak bisa selamanya di sini"


Tetua Kam membenarkan ucapan Ye Chen. "Lalu apa rencanamu?" tanyanya.


"Tidak ada, hanya menunggu mereka datang saja dan memotongnya," ucap Ye Chen santai. "Orang-orang macam mereka pasti akan datang lagi."


Tapi yang ditunggu-tunggu tidak datang juga, yang datang malah pemimpin akademi kekaisaran sendiri ditemani dua orang tetua.


Hubungan antara akademi kekaisaran dan rumah alkemis memang cukup dekat, apalagi tetua Kam yang juga termasuk salah satu yang terkuat di kekaisaran kini bergabung dengan rumah lelang.


Tetua Kam sendiri yang menyambut kedatangannya. "Saudara Han Le, tetua sekalian selamat datang." ucapnya ramah.


Han Le, pemimpin akademi kekaisaran adalah adik dari kaisar.


"Tetua Kam, tak pernah kukira anda keluar dari rumah alkemis dan bergabung di sini. Oh ya dimana pemilik rumah lelang yang baru, apa dia ada?"


"Silahkan duduk dulu."


"Tuan Ye," kata Han Le pada Ye Chen. "Sebenarnya ada masalah apa yang terjadi di antara kalian?" tanyanya tanpa bas basi.


Ye Chen hanya tersenyum. "Sama seperti masalah yang terjadi antara aku dan akademi kekaisaran." jawabnya tanpa menerangkan lebih jauh.


"Bukankah anda terlalu berani?" ucap Han Le sedikit tidak senang.


"Hanya membela diri saja, tidak lebih." balas Ye Chen lagi.


"Rumah alkemis menuduh anda membunuh salah satu tetuanya, bagaimana anda menjelaskan ini?"


"Apakah anda akan menyerahkan leher begitu saja jika ada yang berniat membunuhmu?" bukan menjawab, Ye Chen malah bertanya balik.


Perlahan suasana kian tegang. Sama seperti Ye Chen, tetua Kam juga tidak begitu senang dengan pertanyaan-pertanyaan Han Le ini.

__ADS_1


Sekaligus agak khawatir dengan sikap Ye Chen yang seperti tidak memberikan muka pada Han Le.


"Tuan Han Le, jika kedatangan anda hanya untuk masalah ini, jawabanku ini kurasa cukup. Silahkan." Ye Chen sangat tegas, masalah ini sudah cukup lama menunda perjalanannya.


__ADS_2