Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Puteri Jia Jia


__ADS_3

Tak ada jalan lain, dimensi itu akan segera hancur, hal yang sama sekali tidak diprediksi oleh Ye Chen. Ternyata raja Iblis Youpi yang menopang dimensi itu sampai bisa bertahan dan karena Ia sendiri telah tewas maka otomatis dimensi itu akan hancur juga.


Dimensi sangat berbeda dengan alam dunia. Sebuah dimensi dapat tercipta atau diciptakan oleh mereka yang sangat kuat. Biasanya agar dapat bertahan, dimensi itu ditopang oleh sesuatu agar makhluk hidup bisa hidup di dalamnya sedangkan alam terbentuk dengan sendirinya, tanpa campur tangan siapa pun.


Seperti halnya cincin dimensi, atau cincin penyimpanan yang hanya bisa menyimpan benda mati namun berbeda lagi dengan cincin hijau milik Ye Chen yang juga merupakan sebuah dimensi. Cincin itu dulunya ditopang oleh pecahan jiwa gurunya dan setelah pecahan jiwa gurunya sirna maka yang menopang selanjutnya adalah pohon kehidupan yang Ye Chen tanam di sana atas anjuran gurunya.


Keadaan dimensi ini sama dengan dimensi kristal roh, setelah Ye Chen mengambil dan menyimpannya, dimensi itu kemudian hancur karena terputus dengan penopangnya. "Gawat! dimensi ini akan hancur." seru Ye Chen, Ia berlari menuju portal pertama yang Ia buat karena portal kedua sudah ikut hancur saat bertarung dengan raja Iblis Youpi.


Tepat saat Ye Chen melompat ke dalam portal, dimensi itu pun hancur.


"Youpi? apakah dia... ah sial, sudah kukatakan jangan bermain-main terus." ini adalah ucapan raja Iblis Sumo, mereka memiliki ikatan batin sehingga bisa merasakan apa yang terjadi dengan yang lain.


Sementara di tempat lain, tepatnya di tempat raja Iblis Mema, suasana menjadi sepi. "Tak kusangka kau bisa membunuhnya, selanjutnya apa yang akan kau lakukan?" kata raja Iblis Mema yang seolah sedang berbicara dengan orang lain.


"Apa yang terjadi, apakah si bodoh itu tewas?" Satu kabut hitam tipis muncul di depan raja Iblis Mema.


Raja Iblis Mema seketika berlutut mendengar suara ini. "Tuan, anda datang. Hubunganku terputus dengannya, aku rasa dia tewas." ucapnya tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Sayang sekali," suara dari kabut hitam terdengar lagi, lalu diam sejenak. "Hubungi Sumo, katakan padanya untuk bersiap, kirim beberapa Iblis untuk membantunya."


"Baik tuan." jawab Mema patuh.


"Tunggu dulu, bagaimana dengan inti kehidupan Youpi?"


"Dimensi itu pasti sudah hancur, aku rasa inti kehidupannya juga ikut hancur." jawab Sumo lagi.


"Apa kau yakin anak itu tidak mengambilnya?"


"Aku rasa tidak tuan, pengetahuan anak itu tidak sampai kesitu."


"Bodoh! kau sama saja dengan Youpi." suara ini membentak Sumo dengan keras.

__ADS_1


"Aku salah. maafkan kebodohanku." kata Mema, keringat dingin membasahi keningnya.


"Sudahlah, pergi sana. Ingat, jangan sampai gagal lagi kalau tidak mau jiwamu lenyap." Setelah berkata seperti itu, suara itu pun lenyap bersama kabut hitam. Meninggalkan Mema yang masih gemetar ketakutan.


...


"Guru, ada apa?"


"Baojing, tampaknya Ye Chen berhasil membunuh Youpi." kata guru Baji kepada Baojing. "Entah trik apa yang Ia gunakan sehingga berhasil membunuh Youpi." lanjutnya lagi.


Baojing yang mendengar ini, membantah ucapan guru Baji. "Tapi guru, bukankah itu wajar? kultivasi mereka pada tingkat yang sama."


Guru Baji menggeleng, "Memang sama tapi mustahil dapat mengalahkan Youpi. Kecuali Ia mempunyai beberapa tehnik khusus.


...


Dalam perjalanan ke benua utara, Ma Dong kerapkali menanyakan apa maksud dan tujuan Ye Chen menyuruhnya pergi dan berlatih ke sana kepada Chu Xiong namun Chu Xiong hanya mengatakan tunggu saja.


Barulah setelah tiba, Chu Xiong menyuruhnya pergi sendiri ke menemui patriark sekte, yaitu Patriark Ma.


"Sebaiknya kau pergi saja." sahut Chu Xiong sambil tersenyum.


Saat bertemu patriark Ma, Ma Dong akhirnya mengerti bahwa patriark Ma adalah salah satu anggota keluarganya. "Nah kau berlatihlah baik-baik di sini." kata patriark Ma lalu meninggalkan Ma Dong yang merasa senang masih memiliki anggota keluarga yang selamat.


...


"Tuan puteri, bukanlah pemuda ini yang tempo hari mengambil peta itu?"


"Kau benar paman, aku ingat betul wajahnya," ucap sang puteri. "Bawa dia." ucapnya lagi.


Paman itu tidak langsung melakukan perintah sang puteri, "Tuan puteri, apakah tidak masalah? ayah anda pasti akan sangat marah."

__ADS_1


"Bawa ke tempatku, jangan sampai ada yang melihat." kata sang puteri lagi, Ia lalu pergi sendiri meninggalkan paman.


Sosok yang dimaksud adalah Ye Chen, ledakan dimensi raja Iblis Youpi membuatnya pingsan, meskipun Ia sudah masuk ke dalam portal sebelum ledakan itu tapi efek ledakan masih sangat terasa. Ia sampai terlempar di ruang hampa di dalam portal dan berakhir dengan luka yang cukup parah.


Paman menggeleng, "Kau beruntung bertemu tuan puteri." katanya lalu mengangkat Ye Chen di pundaknya dan berjalan mengikuti puteri dari belakang.


Beberapa hari kemudian, Ye Chen terbangun. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mengenali tempatnya terbaring.


"Aaa badanku sakit semua," keluhnya ketika berusaha bangkit dari tidur.


"Kau sudah sadar, baguslah, aku jadi tak repot-repot lagi menjagamu." Suara ini mengagetkan Ye Chen. "Paman terima kasih sudah menyelamatkan aku." Ye Chen bersoja di tempat tidurnya.


"Lupakan saja. Sebentar lagi akan ada seseorang yang datang membawakan obat untukmu."


Ye Chen hanya tersenyum, Ia memeriksa keadaannya dan kaget karena ternyata Ia telah berganti pakaian, cincin hijaunya tidak ada lagi di jarinya. "Apa kau mencari ini?" sebuah suara merdu seorang wanita mengagetkan Ye Chen.


"Jangan khawatir, aku tak akan mengambilnya, aku pikir itu adalah cincin penyimpanan jadi aku ingin memeriksanya." kata wanita itu lagi.


Ye Chen merapihkan duduknya, mengambil cincin hijaunya dan memakainya. "Namaku Ye Chen, terima kasih telah menolongku." katanya dengan sopan dan ramah. Ia tentu harus berterima kasih.


Wanita itu tersenyum lembut, manis sekali. Membuat Ye Chen tidak pernah bisa mengalihkan pandangannya, inilah pertama kalinya hatinya bergetar saat melihat seorang gadis. "Kau boleh memanggilku Jia Jia." kata wanita itu.


"Oh nona Jia, maaf merepotkan." kata Ye Chen lagi.


"Ya, begitupun boleh," sahut Jia Jia ketika Ye Chen menyebutnya. Tapi dari belakang Jia Jia terdengar suara tegas berkata "Puteri Jia."


Jia Jia mengangkat tangannya, "Sudahlah paman, tidak masalah tuan Chen memanggilku nona." katanya, masih dengan senyum lembutnya.


"Tuan Chen, kau sekarang berada di tempatku. Aku menemukanmu terbaring lemah di hutan saat kembali ke sini. Boleh aku tau apa yang terjadi?"


Ye Chen yang terus menatap Jia Jia, gadis yang menurutnya sangat lembut, cara dia berbicara memang seperti tuan puteri. Duduk tegak dengan punggung lurus dibalut pakaian berwana putih seperti gaun. Sungguh pemandangan yang langka. Sangat berbeda dengannya yang sering memakai jubah hitam.

__ADS_1


"Aku bertarung dan terlempar ke sini."


Hanya itu yang Ye Chen katakan, Ia merasa tak perlu memberitahu urusannya kepada orang lain sekalipun itu adalah penolongnya.


__ADS_2