Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Han Le, Pimpinan Akademi Kekaisaran


__ADS_3

"Hahaha... anda salah sangka tuan Ye, aku hanya penasaran saja, bukan untuk mencampuri urusan anda," ucap Han Le. "Jujur saja tadinya aku ingin mengajak anda bergabung dengan akademi, tapi sepertinya mustahil." lanjutnya.


Karena tak ada lagi yang hal penting yang dibicarakan, Han Le dan tetua akademi yang lain pamit pulang. "Tuan Ye, jika ada waktu datanglah ke akademi. Dan jangan khawatir, kami tidak akan mencampuri urusan anda."


"Terima kasih, aku akan mengunjungi anda nanti." sahut Ye Chen.


Sepeninggal Han Le, tetua Kam menatap Ye Chen. "Tuan Ye anda terlalu berani, aku tau betul siapa Han Le, biarpun bijaksana tapi dia juga bukan orang yang mudah."


Ye Chen tersenyum. "Aku harus mengambil sikap, aku tak mau rumah lelang ini, yang telah dibangun dengan susah payah oleh paman Lao hancur begitu saja."


"Aku mengerti, lalu apakah anda akan berkunjung ke akademi kekaisaran?"


"Tentu saja, aku harus membalas kunjungan ini."


Dua hari berikutnya, Ye Chen benar-benar datang ke akademi kekaisaran. Ia datang sendiri.


Tetua Kam masih sibuk melanjutkan latihan alkemisnya, sementara yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.


Hanya saja, sehari sebelumnya tetua Kam mengirim surat perihal kunjungannya.


Wilayah akademi kekaisaran cukup luas, bangunan pertama setelah masuk adalah aula akademi.


Di sebelah kiri ada bangunan asrama sedangkan di sebelah kanan adalah ruang belajar.


Jauh di belakang adalah arena pertarungan yang biasa digunakan untuk berlatih atau tempat menguji para murid akademi.


Arena ini hanya seperti lapangan luas saja, sama sekali tidak terlihat seperti arena pertarungan.


Sementara kediaman pemimpin akademi dan para tetua terletak agak jauh dari arena.


Ye Chen sedikit takjub dengan suasana ini, untuk pertama kalinya ia melihat sebuah akademi.


"Silahkan tuan," ajak seorang penjaga yang memang ditugaskan untuk menjemput Ye Chen. "anda bisa menunggu di sini, aku akan melapor ke dalam." lanjut penjaga tadi, mempersilahkan Ye Chen duduk menunggu di sebuah aula. Tepat di depan arena.


Bosan menunggu dengan duduk saja, Ye Chen memutuskan untuk berjalan-jalan dan tanpa sadar memasuki arena pertarungan dan berdiri tepat di tengah, di atas sebuah lingkaran sambil memperhatikan murid-murid akademi yang sedang berlatih.

__ADS_1


Syuuut...


Sebuah klon pedang melesat cepat menyerangnya dari depan, dengan ringan Ye Chen menepis tangannya menghancurkan klon pedang bersamaan dengan munculnya seorang pemuda yang usianya lebih tua dari Ye Chen.


Tanpa berkata apa-apa, pemuda ini kembali menyerang Ye Chen dengan pedangnya. Satu klon pedang juga ikut menyerang lagi.


Ye Chen hanya menghindar saja, serangan ini baginya masih terlalu lemah sampai akhirnya Ia berhasil memukul dada si pemuda.


"Senior, mohon bimbingannya."


Seorang pemuda maju lagi, kali ini bersenjata tombak yang tanpa menunggu jawaban Ye Chen langsung menusukkan tombaknya disertai hawa panas.


Ye Chen mengernyit, Ia tidak marah, malah sedikit senang karena selain bisa melihat tehnik-tehnik dari murid akademi, para murid yang menyerangnya juga tidak mempunyai aura membunuh.


Lebih dari lima murid akademi yang maju, setiap murid memiliki kelebihan masing-masing, terutama dalam tehnik senjata yang mereka gunakan.


Pada dasarnya Ye Chen adalah orang baik, Ia tidak pernah segan berbagi kepada orang lain apalagi jika orang tersebut tulus.


Seperti sekarang, sudah belasan murid akademi yang mendapat pencerahan, menutup kelemahan pada tehniknya.


Ye Chen mengelak dua belati yang menyambar dari depan dan mengambil satu belati, menangkis belati lain.


Gadis itu tidak tinggal diam, segera menyerang dengan belati terakhir yang ada di tangannya.


Trang...


Suara benturan belati, Ye Chen yang mengira akan diserang lagi melompat ke samping tapi si gadis tidak menyerang, melainkan melompat jauh mengejar dua belati yang tadi Ia lempar, mengambil satu belati lagi dari balik baju dan melemparnya sambil melesat.


Syuuut...


Trang...


Ye Chen menangkisnya, membuat belati terpental ke samping tapi ketika Ia hendak mengambilnya, tiba-tiba belati tersebut tersentak.


"Rupanya ada benang tipis di sana. Ini menarik." gumam Ye Chen lalu membetulkan posisinya. "Hanya satu belati itu yang ada benangnya." ucapnya setelah mengamati belati di tangannya. belati gadis yang Ia rampas tadi.

__ADS_1


Dari seberang arena pemimpin akademi serta para tetua sudah hadir, agak kaget juga ketika mendengar laporan ada seorang pemuda menantang para murid yang sedang berlatih.


"Ketua, bukankah itu tuan Ye dari rumah lelang?" tanya seorang tetua yang juga hadir di sana.


Pemimpin akademi mengangguk, "Tadi memang ada yang melapor tentang kunjungannya, tapi kenapa Ia menantang para murid? dan tuan puteri...."


"Cih hanya begitu saja, pantas saja dia menang dengan mudah kultivasi lawannya jauh di bawahnya." Seorang tetua lain ikut menimpali. Ia adalah tetua yang bertanggung jawab melatih para murid, kultivasinya di tingkat Langit tahap menengah


Di arena, di gadis yang menyerang Ye Chen yang ternyata adalah puteri Han Meilan masih terus menyerang Ye Chen.


Biarpun Ia sadar kultivasinya jauh di bawah tapi Ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.


Berbeda dengan Ye Chen yang merasa sudah saatnya mengakhiri pertarungan.


Memutuskan hal ini, Ye Chen meningkatkan kecepatannya dengan tehnik langkah angin kedua. Ia melompat ke samping, kiri dan kanan, tak memberi kesempatan Han Meilan membalas.


Sampai akhirnya memaksanya melompat mundur, tatapan kagum menggantikan rasa penasarannya.


"Tuan Ye, pemimpin menunggu anda," seorang tetua berkata dari pinggir arena. "Silahkan" lanjutnya dan mengajak Ye Chen ke aula khusus gedung utama.


Pemimpin akademi kekaisaran, Han Le lalu mempersilahkan Ye Chen duduk. "Selamat datang." ucapnya. "Maaf tidak menyambut kedatangan anda."


"Ketua Han, tidak perlu sungkan." sahut Ye Chen sopan.


"Hahaha anda pasti penasaran kenapa para murid menyerang." Ye Chen mengangguk. Lalu Han Le menceritakan bahwa di akademi ini ada sebuah tradisi yaitu siapapun yang berada di tengah-tengah arena, berarti dia menantang siapapun yang ada di sana.


"Oh pantas saja, masih beruntung mereka menyerang sepenuh hati." ucap Ye Chen merendah.


Mendengar ini Han Le tertawa, kagum akan sikap Ye Chen yang walaupun jauh lebih kuat tapi masih bisa merendah. -Dia tidak tau, sekali saja ada murid yang mengeluarkan niat membunuh, maka sudah pasti murid tersebut sudah terbelah-.


"Hahaha terima kasih, terima kasih sudah membantu murid-murid kami." ucap Han Le.


"Cih hebat apanya, lawannya saja tidak seimbang." kata tetua yang sebelumnya tidak puas dan memandang rendah Ye Chen. Menurutnya Han Le terlalu melebih-lebihkan kemampuan Ye Chen.


"Tetua, jangan tidak sopan. Tuan Ye adalah tamu." tegur Han Le sementara Ye Chen hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2