Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ye Chen v Sirio


__ADS_3

Ye Chen dan pasukan kecilnya terus bekerja, jika diperhatikan dengan seksama, pasukan menteri Kun sudah berkurang banyak. Ras Iblis pimpinan Sirio tidak terkecuali.


Sebenarnya tugas ini tidak gampang, tidak semudah seperti yang direncanakan. Hanya saja, Ye Chen telah memperhitungkan semuanya. Ia mengambil kesempatan selagi menteri Kun dan Sirio terlena dengan kemenangan yang sudah di depan mata.


Siapa pun pasti akan bangga jika berhasil menghitung kemenangan atas musuhnya, tidak terkecuali menteri Kun dan Sirio yang biasanya sangat cerdas. Hanya sedikit sekali orang yang bisa tetap waspada dalam situasi ini.


Lewat dua pertiga malam, sesuatu terjadi. Ratusan bola Qi dari tiga penjuru melesat cepat cepat menghantam pasukan menteri Kun tanpa peringatan. Korban dengan cepat berjatuhan di pihak menteri Kun tanpa sempat melawan.


"Tuan menteri, gawat! Istana memulai serangan mendadak!"


"Tuan menteri! pasukan banyak tewas."


"Tuan menteri, cepat perintahkan sesuatu."


"Tuan menteri...


Laporan demi laporan masuk ke ruangan menteri Kun. "Dasar tidak berguna! rapatkan barisan, bertahan! balas serangan mereka!"


Menteri Kun benar-benar marah, kemenangan sudah di depan mata bisa hilang begitu saja, para panglimanya malah sibuk melapor.


"Tapi tuan, pelontar Qi kita semuanya telah rusak dan hancur."


Laporan ini semakin membuat menteri Kun sakit kepala, "Ayo keluar! kita gempur mereka!" ucapnya dengan marah.


Menteri Kun bukan dari militer sehingga dia tidak bisa mengatur barisan, meski begitu kultivasinya juga tidaklah rendah. Tingkat Surgawi puncak. Sayangnya ini adalah medan perang, strategi dan siasat sangat penting dan itu tidak ada hubungannya dengan kultivator yang walaupun sanggup menghancurkan sebuah pasukan besar tapi tidak cukup kalau menghadapi banyaknya kultivator kuat lawan.


Panglima besar Lin sudah mengantisipasi celah ini, secara khusus Ia menyiapkan beberapa kultivator kuat untuk melawan kultivator pihak lawan seperti menteri Kun dan anaknya Kunlao.


Mungkin memang inilah puncak perang saat ini, rintihan dan pekikan kematian terdengar dari setiap sudut medan perang. Di tengah medan perang, Ye Chen dan putri Jia berdiri tenang sambil terus menghalau musuh. "Kakak Chen, apakah belum saatnya?" putri Jia menoleh dan berkata pada Ye Chen.


Ye Chen menggeleng pelan, "Belum saatnya tunggu sebentar lagi." Sedari tadi Ye Chen terus memandang ke satu arah, pandangannya ini tertuju ke satu sosok dan menguncinya.

__ADS_1


"Adik Jia, begitu waktunya tiba, aku mau kau pergi dari sini bersama Giro. Tunggu Giro datang kesini."


"Tapi... apa kau akan baik-baik saja? kalau tidak biarkan aku tetap di sampingmu, menjagamu kalau kau terluka."


Ye Chen tersenyum, "Gadis bodoh, aku pasti baik-baik saja, lelakimu ini sangat kuat kau tau?" katanya sambil mengusap kepala putri Jia, hatinya terasa hangat mendengar ucapan nya.


Beberapa saat kemudian Giro pun muncul, "Tuan, semua sudah siap."


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saat Giro datang, putri Jia akan membantu Istana didampingi Giro sedangkan Ye Chen berurusan dengan Sirio. Kehadiran putri Jia di pihak Istana akan memberikan dorongan semangat kepada para prajurit dan sedikit banyak bisa melemahkan mental pasukan menteri Kun yang berasal dari ras Peri yang berkhianat.


"Adik Jia berhati-hati lah, jangan sungkan. Ingat saja mereka bukan rakyat mu lagi." pesan Ye Chen sebelum berpisah, Ia juga sekali lagi mengingatkan Giri untuk menjaganya. Putri Jia terlalu baik dan susah untuk melukai orang lain apalagi untuk membunuh rakyatnya sendiri, itulah kenapa Ye Chen harus terus mendorongnya. Kalau tidak, akan sangat sulit untuk memenangkan pertempuran.


Tidak butuh waktu lama untuk Ye Chen pergi ketempat Sirio dan sepertinya Sirio juga telah menunggunya, hanya saja Ia tidak tau siapa Ye Chen sebenarnya.


"Hoho pantas saja aku merasa pertempuran ini menjadi sangat sulit, ternyata ada rasku yang berkhianat." kata Sirio ketika merasakan aura yang Ye Chen keluarkan ketika bertemu.


"Katakan, apa tujuanmu. Jangan katakan kau hanya ingin putri kecil itu." Lanjut Sirio lagi.


"eh?" Sirio tiba-tiba menyadari sesuatu. "Hahaha aku ingat sekarang, ternyata itu kamu. Jangan kira setelah menjadi raja Iblis kau bisa berbuat seenaknya."


Sirio akhirnya menyadari siapa Ye Chen, menjadi kepercayaan pangeran kegelapan bukanlah posisi yang tidak berarti. Meskipun Ia tidak yakin bisa menang dengan mudah tapi Sirio tetap percaya diri. "Katakan, dimana inti Iblis itu, aku akan pergi dari sini."


Ye Chen bingung, "Inti Iblis? apakah aku melewatkan sesuatu?" pikirnya.


"Baiklah, akan kuberi tahu sesuatu," kata Sirio. "Lima raja Iblis bodoh itu telah membagi kekuatannya dan menyimpannya entah dimana. Apa kau pernah berpikir terlalu mudah mengalahkan mereka? kau terlalu naif anak muda."


Ye Chen samar-samar mengingat sesuatu, itu adalah pesan terakhir raja Iblis Mema dan yang lain. "Mungkinkah?" batinnya.


"Sudahlah, akan kucari sendiri. Aku yakin bisa menemukannya di tubuhmu setelah kau mati." ucap Sirio lagi.


Sementara itu Ye Chen mulai mencerna semua potongan-potongan informasi di dalam otaknya. Tanpa sadar, Ia menyentuh kunci portal yang diwariskan padanya. Kalau aku tidak salah kunci portal ini bukan hanya sekedar kunci biasa, pikirnya.

__ADS_1


Semua yang dilakukan Ye Chen, baik itu perubahan pada wajahnya sampai gerakan yang paling halus yang dilakukan Ye Chen terus diperhatikan Sirio, sampai Ia yakin akan satu hal.


"Aku tau kau menyimpannya. Waktunya mengambil titipan." ucap Sirio. "hehe aku tak menyangka kesempatan ini datang begitu cepat, salahkan dirimu yang datang padaku."


"Anak-anak! waktunya telah tiba."


Sedetik kemudian, ratusan Iblis tingkat tinggi bawahan langsung Sirio mengepung Ye Chen. Sirio juga tidak mengucapkan apa-apa lagi, Ia lalu melepas semua energinya.


Wuss...


Kabut hitam membubung ke langit ketika Sirio dan pembantunya melepas kekuatannya.


"Gawat!" seru Ye Chen Ia merasakan bahaya di depan mata.


Bumm...


Ledakan keras terdengar dari tempat Ye Chen, bahkan debu yang beterbangan tertutup oleh kabut hitam.


"Huff tadi itu sangat berbahaya." Ye Chen yang baru sekali ini merasakan bahaya sejak serangan pertama membuang nafasnya setelah lolos dari dalam kepungan.


Bress...


Sekali lagi aura yang sangat kental dengan kematian mengejutkan semuanya, awalnya ketika Sirio dan pembantunya melepas kekuatan dan sekarang giliran Ye Chen.


"Giro, apa kakak Chen akan baik-baik saja? kalau tidak biarkan aku kesana." putri Jia memandang cemas ke arah aura itu, ledakan yang teredam sangat jelas terdengar. Benturan energi seperti tak pernah putus dari sana.


"Tuan putri jangan khawatir, tuan Chen akan baik-baik saja."


Giro yang mendapat tugas melindungi putri Jia tidak dapat berbuat apa-apa selain menenangkan putri Jia, kalau tidak Ia pasti akan kesana membantu Ye Chen.


"Tuan Chen....

__ADS_1


__ADS_2