Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ratu Jiajia


__ADS_3

"Tetua, aku heran, kenapa bayangan pedang hitam belum hilang setelah pemuda itu pergi? apakah dia sekuat itu? dan meskipun jiwaku bergetar tapi aku yakin bisa menahannya dengan seluruh pasukan ku."


"Jangan meremehkannya." sahut Tetua Peri. Lihat apa yang ada di atas pasukanmu.


Pria itu menoleh dan terkejut, di atas beberapa pasukannya ada kabut hitam tipis. Itu adalah Qi pedang hitam yang masih tertinggal.


"Sebelum kita bergerak menahannya, separuh pasukanmu sudah akan tewas." pria di samping leluhur bergidik ngeri.


"Qi pedang hitam itu adalah refleksi dari kebencian, selama ini masih ada di dalam hati maka itu tidak akan hilang kecuali pemuda itu pergi jauh dari sini sehingga koneksinya terputus. Coba perhatikan lagi, aku rasa kabut tipis itu tidak lama lagi akan menghilang sepenuhnya."


Benar saja, tak lama kemudian kabut hitam yang seperti benang-benang itu perlahan menghilang dan lenyap sama sekali. Bersamaan dengan itu, raut muka prajurit yang di atasnya terdapat kabut menjadi lebih tenang dan segar kembali.


"Hei kawan apa yang terjadi padamu?"


"Aku juga tidak tau, tapi jiwaku seolah ditekan dengan kuat. Aku merasakan kalau aku bergerak, aku akan langsung tewas."


"Benarkah? tapi kenapa aku tidak merasakan nya?"


"Entahlah, rasa itu muncul sesaat setelah aku berniat menyerang pemuda di bawah sana. Sial apa-apaan perasaan tadi itu."


"Itulah dirimu, tanpa sebab yang jelas langsung membenci dan berniat mencelakai orang lain."


"Tapi kita ini prajurit, mustahil untuk tidak membunuh kan?" bantah prajurit itu tak mau terima nasehat temannya.


"Betul, tapi seperti katamu, kita ini prajurit yang membunuh dan terbunuh tapi lepas dari itu, kita juga tidak ada dendam. Hais kau ini kenal saja tidak tapi langsung tidak suka dan benci. Sudahlah, rapihkan barisanmu, panglima melihat kita.


Percakapan prajurit ini terdengar dengan jelas oleh pria di samping leluhur Peri, dia adalah panglima dari para prajurit itu.


"Anda tidak turun tetua?"


"Tidak, tunggu sebentar, aku akan mengatakan sesuatu pada anak bodoh itu."


Di dalam Istana.


Setelah bayangan pedang hitam terakhir lenyap, mereka semua bernafas lega dan untuk sesaat tidak ada yang mengeluarkan suara. Kejadian tadi benar-benar membuat mereka tertekan.

__ADS_1


"Bereskan kekacauan ini."


Kaisar akhirnya bersuara, Menyuruh penjaga untuk menyingkirkan pejabat tinggi yang tewas.


"Kaisar, apa tindakan kita selanjutnya? apa perlu mengirim orang ke bukit Nannan?" seorang pejabat tinggi lainnya juga bersuara.


Kaisar mengernyitkan dahinya, "Untuk apa? apaka kau masih tidak belajar dari kejadian barusan?" kata Kaisar, nada suaranya sangat tidak enak didengar.


Bress...


Sebuah aura halus tiba-tiba menekan Istana, tak lama kemudian sebuah suara menggema.


"Kalian telah membangunkan sesuatu yang tidak boleh disentuh. berikan giok perekam Istana." Itu adalah leluhur Peri, Ia bahkan tidak repot-repot menyapa keturunannya.


"Leluhur...."


Kaisar dan yang lian berlutut, mereka tentu saja mengenal aura halus ini.


"Cepatlah, waktuku tidak banyak. Ingatlah untuk lebih bijak di masa depan." kata suara itu lagi.


"Tidak ada yang memaksamu, tapi ingatlah rakyatmu juga membutuhkanmu." lalu sebuah cahaya lembut tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam dada sang putri.


Putri Jia tidak mengatakan apa-apaan lagi. Ia juga tidak mengucapkan terima kasih atau salam lagi.


Ras Peri mempunyai perasaan yang kuat, tak mudah menggoyahkan nya. Apalagi putri Jia, cahaya lembut barusan adalah kekuatan leluhur yang diwariskan padanya namun Ia sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Warisan kekuatan yang membuat derajat serta kekuatan nya menjadi yang terkuat di alam Peri tidak membuatnya luluh.


Setelah menerima giok perekam Istana, aura halus itu pun lenyap.


Di atas langit Istana.


"Tetua and baru saja...


Leluhur Peri mengangkat tangannya, menghentikan ucapan panglima. "Itu adalah hak dan hadiah dariku. Aku akhirnya menemukan seorang pewaris. Aku yakin di masa depan Ia bisa mengatasinya sendiri."


"Panglima terima kasih telah datang."

__ADS_1


Sang leluhur pun pergi. Panglima melambai pada pasukannya kemudian pergi dari sana.


Seisi Istana kembali terdiam, entah apa yang akan terjadi lagi di masa depan. Peristiwa berturut-turut membuat semua terguncang.


Pertama orang besar atas pengkhianatan menteri Kun, membawa malapetaka hebat dan memakan korban yang tidak sedikit.


Lalu lahirnya Kaisar Iblis tepat di depan mereka dan hampir saja menghancurkan alam Peri, penolong utama menjadi pembasmi utama, siapa yang akan percaya?


Terakhir munculnya leluhur Peri dengan seorang panglima dengan pasukannya dan tak lama kemudian putri Jia mendapat warisan dunia Peri dan tiba-tiba saja menjadi yang terkuat, saat ini dengan lambaian tangannya saja, putri Jia dapat membunuh kultivator terkuat alam Peri.


Semua peristiwa ini tidak ada yang menyenangkan, nyawa bisa saja melayang tanpa disadari. Jangan sebut atau merasa senang dengan keadaan putri Jia, karena belum bisa dipastikan bagaimana sikap putri Jia. Takutnya Ia dendam dan dengan lambaian tangannya membunuh mereka semua.


"Jia'er...."


Saat Kaisar memanggil namanya, putri Jia masih berlutut, pikirannya sangat kacau. Lalu tanpa sengaja Ia memegang token pemberian Ye Chen, menggenggam nya dengan erat dan hatinya menghangat dan tersenyum


Putri Jia lalu berdiri, cahaya lembut memancar dari tubuhnya.


"Aku akan menjadi Ratu alam Peri."


Degg...


Semua terdiam, tak ada yang membantah. Status putri Jia yang sekarang adalah yang tertinggi. Kaisar dan Ibu Ratu memang ayah bundanya tapi terlepas dari itu, tetap statusnya lebih tinggi karena warisan leluhur. Putri Jia adalah yang terpilih.


Lalu apa yang akan putri Jia lakukan di masa depan? apakah akan menghancurkan alam Peri dan pergi menyusul Ye Chen? ataukah memanggil Ye Chen, Kaisar Iblis dan menjadi Kaisar alam Peri? tak ada yang tau tapi semua berharap yang terbaik, putri Jia yang mereka kenal adalah putri yang lembut dan welas asih, semoga tetap seperti itu.


"Seminggu lagi penobatanku menjadi Ratu, buatlah persiapan. Ayah, Ibu, semoga kalian merestui. Aku kembali ke kamar."


Putri Jia telah membuat keputusan, Istana akhirnya kembali sepi setelah semua pergi.


Bukit Nannan.


Ye Chen mengumpulkan semua penduduk, mengatakan yang sebenarnya lalu bertanya, "Kalian bebas untuk tinggal, tidak adak yang berubah. Hanya saja wilayah ini sekarang bukan lagi bagian dari Istana, aku tak mau ada di antara kalian yang memilih tinggal terus berhubungan dengan Istana."


Hanya beberapa orang yang kemudian pergi dari sana. Pasukan seratus dan keluarganya tentu saja tetap tinggal. "Panggil semua kerabat kalian yang ingin tinggal di sini. Lalu kumpulkan semua kerabat Istana dan suruh mereka semua pergi."

__ADS_1


Ye Chen sangat tegas kali ini, wilayah Nannan akan tertutup untuk orang luar. Setelah memutus semua jalur dengan Istana, Ye Chen palu menambah daya kekuatan kubah pelindung dan menambahkan jebakan hitam, siapapun yang yang masuk wilayah Nannan tanpa token, pasti akan tewas. Termasuk hewan atau orang yang tidak sengaja tersasar ke sana.


__ADS_2