
Ye Chen melempar pedangnya ke atas yang langsung memecah menjadi tiga, satu Ye Chen pegang dan dua lagi Ia kontrol di samping kanan dan kiri.
Dalam pertarungan biasa, Ye Chen memecah pedangnya menjadi sepuluh tapi kali ini hanya tiga saja agar daya serangnya lebih kuat.
Tehnik Ye Chen ini lagi-lagi membuat penonton terkesima, "Tidak kusangka senior memiliki banyak tehnik tingkat tinggi," ucap Ma Dong "Aku harus minta di ajarkan tehnik ini."
"Kau bilang apa? saudara Chen mengajarkan tehniknya padamu?" tanya Cia Sun penasaran mendengar Ma Dong.
"Nama tehniknya, tehnik Tapak Jiwa, kau lihat tanganku ini? ini karena aku melatih tehnik tersebut." jawab Ma Dong tanpa menoleh.
"Saudara Ma, apa kau bisa menolongku saudaramu ini?"
"Eh tumben kau begitu sopan."
"Jangan begitu, kau tolonglah aku. Beritahukan pads saudara Chen, aku juga ingin minta di ajarkan satu tehnik olehnya." bujuk Cia Sun. Entah kenapa Ia sangat tertarik dengan tehnik memecah pedang milik Ye Chen.
Ma Dong berbalik dan menatap Cia Sun, "Bisa saja, tapi ada syaratnya, kau harus memanggilku kakak Ma hehe...."
"Tidak masalah, lagian kau memang lebih tua hehe...." ucap Cia Sun membalas kekehan Ma Dong yang membuat Ma Dong garuk-garuk kepala.
"Ada syarat lain, kau harus siap mentraktir senior Chen. Aku saja hampi setiap saat membawakannya makanan."
"Aneh, bukankah kultivator seperti kita tidak terlalu membutuhkan makanan?"
"Aku juga tidak tau, tapi memang begitu kenyataannya. Dan kau nona Lu yang cantik, apa kau tidak tertarik ikut berlatih?"
"Aku tertarik pada Ye Chen." jawab Lu Jiao singkat.
"Wuahahaha...."
Ma Dong dan Cia Sun tertawa kompak bersama, "aih aih... sepertinya tuan putri kita telah jatuh hati."
"Apa sih kalian ini." ucap Lu Jiao dengan muka memerah.
"Maksudku, apa kau tertarik ingin mempelajari tehnik saudara Chen?" kata Ma Dong sambil menekan suaranya "Aku tidak bertanya apa kau tertarik dengannya."
"Tapi sudahlah, nanti saja kita bahas. Yang jelas latihan yang di berikan saudara Chen sangat sulit, sekarang berdoa saja semoga Ia tidak terluka."
Di arena pertarungan, Ye Chen kembali mengambil inisiatif menyerang lebih dulu. Pedang hitam di tangannya bergerak cepat di bantu dua klon pedang hitam.
"Tehnik anak kemarin jangan kau pamerkan di depanku." ejek menteri Su yang menggerakkan pedangnya menangkis setiap serangan Ye Chen.
Sesekali menteri Su melepaskan bola energi yang sangat panas, tapi Ye Chen berhasil menghindarinya sambil terus menyerang tanpa henti.
__ADS_1
"Tapak Jiwa...."
Siluet Tapak dengan keras menghantam menteri Su yang melompat ke samping, "Sialan apa anak ini sengaja menggiringku untuk mencari celah dan memukulku?" batin menteri Su sambil menghadang Tapak Ye Chen dengan tehnik Tinju apinya. lalu melompat jauh ke samping.
Tebakan menteri Su memang benar, Ye Chen yang sudah tau inti gerakan jurus menteri Su mencoba dengan sabar agar menteri Su terbawa oleh arus gerakan yang Ia buat sehingga berhasil membuka celah.
Tapi Ye Chen sengaja mengarahkan menteri Su ke depan para tetua yang menontonnya bertarung.
Ye Chen tau, pasti menteri Su akan menghadang tapak jiwanya lalu menghindar, dan inilah yang Ye Chen tunggu.
Begitu energi tinju menteri Su menghadang tapak jiwanya, Ye Chen dengan cepat menambah energi tapaknya sehingga menteri Su berkelit karena posisinya tidak memungkinkan untuk membalas.
Energi tinju menteri Su jadi tak bertuan dan dengan mudah Ye Chen terus menambah tekanan tapaknya berusaha menyeret energi tinju api.
Blammm...
Energi gabungan Tapak Jiwa dan Tinju Api menteri Su benar-benar sangat kuat, untungnya para tetua yang menonton menyadarinya dan menghindar dengan cepat.
Lubang besar menganga di bekas para tetua menonton.
"sial Apa anak itu sengaja melakukannya." gerutu para tetua, andai saja mereka tidak cepat menghindar, pastilah sudah ada yang terluka diantara mereka.
Ye Chen tersenyum puas, Ia merasa memang merasa sedikit kesal karena tidak ada yang membantunya.
"Nah kau lihat itu? itu adalah tehnik Tapak Jiwa yang sedang aku latih." kata Ma Dong bangga.
Ye Chen mengatur nafasnya, rasa sesak di dadanya mulai terasa "Apa sampai di sini saja? Tidak!! aku harus bisa menang atau paling tidak melukainya saja."
Ia lalu mengambil lima pil dan menelannya sekaligus. diam sebentar lalu meggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir pandangannya yang sedikit mengabur.
"sekarang giliranku." kata menteri Su melesat cepat dengan pedang terhunus.
Begitu dekat, menteri Su menarik pedangnya melempar bola Qi yang panas membara.
Aaahh...
Ye Chen meraung keras, satu bola api yang tidak sempat Ia hindari menghantam dadanya.
Ia terlempar menghantam tanah dengan keras tapi Ia langsung bangkit karena merasa ada sambaran angin dari sebelah kirinya.
Trangg...
Ye Chen berhasil menangkis pedang menteri Su, "Huff hampir saja." ucapnya.
__ADS_1
Meskipun tidak terluka parah tapi dadanya terasa panas. seteguk darah kental kembali Ye Chen muntahkan.
Ye Chen menguatkan tekadnya, dengan langkah gontai sambil menarik pedang hitamnya, Ia berjalan mendekati menteri Su yang tersenyum mengejek tapi dalam hati mulai meragukan dirinya sendiri. Ia bukan ragu bisa membunuh Ye Chen atau tidak tapi apakah Ia bisa kabur setelahnya.
Kalaupun bisa lolos, Ia pasti akan menjadi buronan.
Ye Chen menancapkan pedangnya di lantai arena yang sudah hancur lalu menangkupkan dua telapak tangannya. Udara dingin seketika terasa, dan semakin dingin seiring Ye Chen yang dengan perlahan membuka telapak tangannya dan merentangkannya ke samping.
"Sial tehnik apa lagi ini, tak boleh di biarkan." batin menteri Su.
Sementara itu Ye Chen yang mulai kehilangan konsentrasi mengigit bibirnya untuk membuatnya tetap sadar.
"Tehnik Seribu Kristal Es...."
Titik-titik es mulai terbentuk dan perlahan berubah menjadi kristal yang sangat tajam. Ribuan kristal es ini melayang di atas arena pertempuran.
Tubuh Ye bergetar hebat, bola matanya perlahan berubah menjadi biru terang.
Saat terakhir ini Ye Chen bersiap memggunakan salah satu tehnik dari Naga Air yang dilatihnya.
Tak mau kalah, menteri Su juga mengeluarkan tehnik andalannya. Bola-bola Qi api mulai terbentuk di sekitar tubuhnya.
Pemimpin akademi kekaisaran berseru kaget dan segera bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Kyaaa....
Ye Chen berteriak keras, melepaskan ribuan kristal es yang seperti hujan mengguyur menteri Su dengan deras.
Suara seperti api terkena air terdengar memenuhi arena tatkala kristal es bertemu dengan bola api yang mengelilingi menteri Su.
Asap putih menutup seluruh arena sampai ke bangku penonton.
"Masih belum." gumam Ye Chen mencabut pedangnya dan melesat cepat dengan kekuatan puncak yang Ia miliki.
Krakk... Bumm
Ye Chen melentingkan tubuhnya dan kembali ke posisi awalnya, Ia tidak menyangka akan menerobos di saat seperti ini.
Ia kemudian duduk untuk menstabilkan kekuatannya yang baru saja naik ke tahap tinggi.
Karena Ye Chen mengalihkan konsentrasinya, kristal es yang Ia ciptakanpum melemah dan tidak terkontrol.
Ini membuat menteri Su mendapat angin segar, Ia memperkuat lagi bola apinya dan menyerang Ye Chen.
__ADS_1
Bummm...
Ye Chen mencoba menangkis dengan kekuatan yang masih tidak stabil. Ia kembali terlempar keluar arena dan tidak bangun lagi.