
Syuut...
Syuut...
Panah Qi melesat kuat secara terus menerus, tiada henti, membidik dan menewaskan siluman Ular satu persatu. Sementara Lin Yungtao yang mendapat bantuan melompat menjauh, mengatur nafas sebentar dan mulai menyerang lagi.
Puteri Jia semakin hebat saja, aura dari anak panahnya yang melesat sangat kuat dan dingin, bahkan ada beberapa siluman Ular yang tewas dengan tubuh berubah menjadi es.
"Tuan Puteri cukup, terima kasih." seru Lin Yungtao, siluman Ular itu tersisa beberapa saja dan Ia merasa sanggup menghadapinya. Tapi puteri Jia belum juga berhenti, Ia masih saja terus melepaskan anak panah meskipun siluman Ular sudah tewas semua.
Lin Yungtao melompat menjauh sambil terus meneriaki puteri Jia untuk berhenti, "Ada apa dengan tuan puteri? tidak biasanya dia seperti ini." ucapnya dalam hati. Yang Ia tau, puteri Jia orangnya tenang, penuh perhitungan, tidak seperti sekarang.
Ia lalu melompat mendekati puteri Jia, "Tuan puteri, simpan tenagamu, lihat mereka semua telah tewas." katanya mengingatkan puteri Jia yang masih belum berhenti.
Puteri Jia baru berhenti saat Ia kehabisan tenaga, anak panah yang dilepaskan nya sudah tidak stabil lagi.
"Puteri! ah anda terlalu ceroboh." Lin Yungtao mencoba membantunya duduk dan mengambilkan pil pemulih.
"Aku tidak apa-apa." kata puteri Jia. "Bagaimana dengan siluman Ular itu?" sambungnya.
Lin Yungtao tidak berkata apa-apa, Ia hanya menunjuk bangkai siluman Ular yang tergeletak di tanah, tidak ada satupun yang tewas dengan satu anak panah di tubuhnya. "Aku akan memeriksa gua itu, apa kau mau ikut?" puteri Jia mengangguk, mereka berdua pun memasuki gua.
Tak ada percakapan selama mereka menyusuri gua, hanya saja Lin Yungtao sering memperhatikan puteri Jia yang Ia anggap sedang tidak baik-baik saja namun Ia enggan menanyakannya. Sampai akhirnya mereka tiba di bagian gua yang cukup luas, di sana terdapat banyak sumber daya langka dan beberapa inti siluman Surgawi.
"Tuan puteri, cepat simpan semuanya, haha dengan begini poin kita akan cukup banyak." kata Lin Yungtao senang sementara puteri Jia hanya tersenyum kecil, mengambil setengah dari isi gua dan meninggalkan sisanya untuk Lin Yungtao.
Apa yang ditemukan oleh Lin Yungtao dan puteri Jia juga ditemukan oleh sebagian besar murid-murid yang lain.
Sementara Ye Chen yang harus kembali kecewa karena belum mencapai batas segel setelah mencarinya lagi tampak duduk di pinggir sebuah danau. "Giro, lebih baik kita berpencar untuk mencarinya." ucap Ye Chen. Ini adalah hari ketiga dari lima hari yang ditetapkan akademi di dalam dimensi.
Mereka lalu berpisah, mengambil jalan yang berbeda, Giro ke timur sedangkan Ia sendiri ke barat. "Sial lagi-lagi kabut palsu." kata Ye Chen kesal karena lagi-lagi Ia menemukan kabut palsu yang Ia pikir adalah batas segel.
__ADS_1
"Atau mungkinkah semua ini hanya ilusi dimensi?" batin Ye Chen. Berpikir kesitu, Ia lalu memperkirakan titik tengah dari dimensi itu dan pergi kesana, dari sana Ia melayang tinggi sekali dan mengerahkan seluruh kekuatan jiwanya untuk mencoba mendeteksi dimensi.
Di tempat lain, di sebuah lembah beberapa murid tampak sedang bertempur dengan sekawanan siluman kadal yang berevolusi dan membuat mereka sanggup berdiri dengan dua kaki.
"Jangan bodoh! cepat pecahkan tokenmu."
"Panggil bantuan."
"pergi dari sana!"
kelompok murid ini panik, sudah ada teman mereka yang tewas, sementara yang lain sudah banyak yang terluka. Mereka adalah kelompok murid luar yang bersatu membentuk satu kelompok kecil, berharap dengan bersatu akan lebih mudah menghadapi rintangan.
Namun sayang sekali karena mereka memasuki wilayah yang menjadi sarang dari siluman Kadal. Kelemahan bergerak dalam sebuah kelompok adalah gampang dideteksi.
"Senior, kenapa kita tidak membantu mereka?" tak jauh dari sana ada satu kelompok yang dengan tenang melihat kelompok pertama dibantai.
"Hehe tunggu mereka semua tewas atau pergi, lalu kita ambil poin mereka." yang berbicara ini adalah Kunlao, anak menteri Kun di alam Peri.
Tingkat kultivasi Kunlao setara dengan Lin Yungtao, yakni tingkat Surgawi tahap puncak dan sama-sama menjadi murid dalam di Akademi langit.
"Dugaanku benar." gumam Ye Chen yang masih melayang di atas langit. Ia lalu terbang tepat di atas lembah dan melihat semua yang terjadi dari atas.
Pada saat yang sama, kelompok kedua, ketiga dan keempat datang membantu kelompok pertama menghadapi kawanan siluman Kadal.
"Kalian terlalu lemah." kata Ye Chen dari atas. Dan memang benar, karena semua kelompok itu merupakan murid luar yang notabene lebih lemah dari kawanan Kadal.
Blarr...
Ye Chen memukul kawanan Kadal untuk melemahkan mereka. "Selanjutnya terserah kalian." ucapnya, Ia sendiri melesat jauh di belakang kawanan Kadal itu. Menuju tempat yang menjadi targetnya dan menembakkan Qi ke langit untuk memanggil Giro dan Rajawali.
Setelah menunggu beberapa saat, bayangan Giro dan Rajawali muncul dan langsung di hadapan Ye Chen. "Itu Rajawaliku," kata Ye Chen ketika melihat Giro waspada. "Kau lihat tanda itu?" lanjut Ye Chen lagi sambil menunjuk batu hitam.
__ADS_1
"Rupanya ada di sini."
"Aku juga tertipu, ternyata dimensi ini tidak terlalu luas melainkan ada banyak sekali aray ilusi." kata Ye Chen yang tanpa ragu mencabut batu hitam itu dan menandai sendiri tempat itu.
"Kau siap?"
"Kapanpun tuan, aku selalu siap." jawab Giro mantap.
"Saudara Chen...!" Saat hendak masuk, dari jauh terdengar suara orang memanggilnya.
"Kau mau kemana?" ternyata itu adalah Lin Yungtao yang melihat tanda di langit dan langsung pergi bersama puteri Jia.
"Lin Yungtao?" gumam Ye Chen.
"Apanya yang Lin Yungtao? aku tanya, kenapa kau disini dana mau kemana? kenapa kau tidak membantu orang-orang di sana?" Lin Yungtao.
"Membantu mereka? untuk apa, toh kalau tidak kuat, mereka bisa menghancurkan tokennya dan pulang." bantah Ye Chen yang memang tidak mau pusing, baginya sudah cukup Ia memberikan waktu kepada mereka dengan menyerang siluman Kadal.
"Kupikir kau orang baik."
"Aku tidak pernah bilang begitu." bantah Ye Chen lagi.
"Sudahlah, aku pergi, asal tau saja, di sana bukan hanya siluman Kadal saja tapi entah darimana datangnya, Tiba-tiba muncul makhluk lain yang seperti Iblis."
"Benarkah?" Ye Chen sama sekali tak menduganya.
"Giro!"
"Baik tuan." Giro lantas mendeteksi. "Tuan, gawat itu memang Iblis, nona Yue juga ada di sana.
Ye Chen tak menundanya lagi, langsung melesat pergi. Yang Ia pikirkan adalah Ibli-iblis itu muncul karena Ia mencabut batu hitam penanda itu.
__ADS_1