Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Aku Mendukungmu


__ADS_3

"Tuan muda anda tidak apa-apa? tunggulah, kami akan menyelamatkan anda." kata ketua pengawal lalu memerintah dua orang untuk memeriksa keadaan anak tuan kota dan dua orang lagi mengurus Ye Chen.


Sedangkan dua teman anak tuan kota malah pergi ke meja Ye Chen karena tertarik dengan aroma arak.


Orang-orang model begini mana punya rasa setia kawan, meskipun anak tuan kota bisa dibilang tuannya tapi mereka menganggap masalah selesai karena sudah ada pengawal yang mengurusnya.


Ye Chen hanya melirik mereka lalu menyambut serangan dua pengawal. Dengan cepat merampas pedang merek, dengan meminjam tehnik pedang panglima Cia, kedua pengawal ini terkapar begitu saja dengan luka di dada. Terakhir, Ye Chen menusuk paha mereka dengan pedang.


Melihat rekan mereka tidak berdaya, pengawal yang hendak memeriksa anak tuan kota membatalkan niatnya dan menyerang Ye Chen. Sayangnya, mereka juga bernasib sama.


Luka melintang di dada serta tusukan di kedua paha membuat mereka juga tidak berdaya.


Sisa satu pengawal lagi, yakni ketua pengawal yang kultivasinya setingkat Ye Chen.


"Kurang ajaar! kubunuh kau." ancam ketua pengawal dengan geram melihat empat anggotanya bersimbah darah.


Pedang besar ketua pengawal telah Ia hunus, Ye Chen dengan santai malah melangkah ke arah korbannya dan mengganti pedang yang sebelumnya telah rusak karena tidak kuat menerima tekanan tehnik pedangnya.


Slash...


Ye Chen mencoba kekuatan pedangnya dengan satu sabetan pedang ke arah ketua pengawal yang dengan mudah dihindarinya.


"Sepertinya hanya bisa dua kali lagi." gumam Ye Chen.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Ye Chen bergerak cepat menghadiahkan satu luka di dada ketua pengawal tanpa sempat melawan.


"Hei mau kemana kalian?" teriak Ye Chen kepada dua teman anak tuan kota yang hendak melarikan diri.


"Tuan muda... ampuni kami, kami hanya mengantar saja." rengek mereka dengan ketakutan.


"Baiklah," kata Ye Chen dengan senyuman. "Kesini dulu." Dengan wajah bahagia dua orang ini kembali masuk dan mendekati Ye Chen.


Clap... clap


Aaaah...


"Enak saja kalian pergi setelah masuk ke sini," kata Ye Chen setelah menghadiahkan tusukan pedang di paha mereka.

__ADS_1


"Wah anak orang kaya... ck ck ck." Ye Chen berdecak memeriksa kantung penyimpanan mereka dan menemukan tumpukan kepingan emas dan perak dan benda berharga lain.


"Pelayan, kesini sebentar," panggil Ye Chen kepada pelayan sudah mau pingsan ketakutan.


"Tuan muda, aku di sini saja." katanya.


"Baiklah, coba kau hitung semua kerugian di sini." pinta Ye Chen tapi karena dia adalah seorang pelayan maka Ia tidak berani dan akan berkata akan memanggil penanggung jawan rumah makan.


"Hitung semua kerugian di sini." pinta Ye Chen mengulangi pertanyaannya pada penanggung jawab rumah makan yang datang dengan muka pucat.


Belum menghitung saja, penanggung jawab rumah makan ini sudah ketakutan. Bukan apa-apa, salah satu orang yang terluka di sana adalah anak tuan kota.


Ini bukanlah sesuatu yang hanya bisa di selesaikan dengan uang saja pikirnya.


Ye Chen tersenyum lebar ketika mendengar penanggung jawab rumah makan mengatakan semua kerugian ini mereka yang tanggung.


"Kalau begitu, bawa sini kepingan emas di atas meja itu." perintahnya.


"Anak muda, kau tidak tau dengan siapa kau membuat masalah." tiba-tiba saja ketua pengawal berkata, luka yang Ia dapat rupanya tidak cukup membuatnya pingsan seperti bawahannya.


"Sudah, kau tenang saja di sana. Harusnya kau bersyukur karena aku menghargai para orang tua itu (yang Ye Chen maksud adalah Kaisar, Lu Ping dan yang lain) kalau tidak, sudah kurobek mulutmu yang berani berkata ingin membunuhku."


"Nah keluarkan semua arakku yang telah kau minum." lanjut Ye Chen lalu menginjak perut anak tuan kota sampai muntah bercampur darah dan pingsan


"Anak orang kaya memang beda." gumam Ye Chen memeriksa dan menyimpan cincin anak tuan kota. "Tunggu saja, kami akan membalasmu berkali lipat dari ini." lagi-lagi ketua pengawal mengancam Ye Chen.


"Aduh hampir lupa," Ye Chen yang bersiap pergi, berjalan kembali menghampiri ketua pengawal. Mengambil pedangnya dan menusuk kedua kakinya.


...


Kediaman panglima Cia.


"Ayah," kata Cia Sun. "Ada apa, anda terlihat memikirkan sesuatu."


Panglima Cia menghela nafas dan mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu anak tuan kota beserta pengawalnya diserang di rumah makan dan terluka cukup parah.


"Bukankah itu bukan urusan ayah? lagipula anak itu memang pantas dihajar, reputasinya sangat buruk."

__ADS_1


Panglima Cia adalah panglima besar kekaisaran, urusan keamanan dalam kota, apalagi perkelahian kecil seperti ini memang bukanlah hal yang harus Ia pikirkan kecuali itu menyangkut keamanan kekaisaran.


"Bukan begitu, aku hanya sedikit tertarik saja melihat korban. Memang tidak ada yang tewas tapi dari luka-luka mereka, aku teringat dengan Ye Chen, coba kau tanyakan kepadanya nanti."


"Baik ayah." sahut Cia Sun.


Sementara itu di kediaman Lu Ping, Ye Chen baru saja keluar dari dimensi cincinnya ketika Cia Sun datang berkunjung.


"Oh saudara Cia, silahkan masuk." ucap Ye Chen dengan senyum ramah.


Cia Sun yang melihat ini sempat berpikir, tidak mungkin Ye Chen ada hubungannya dengan anak tuan kota.


Ye Chen terlihat sangat ramah dan baik, tak mungkin Ia melukai orang lain dengan kejam.


"Saudara Chen, bagaimana kabarmu? kemana saja kau selama ini?"


"Aku baik, kalau kedatanganmu ingin mengetahui perkelahian di rumah makan, memang aku yang menghajar orang kurang ajar itu," ucap Ye Chen yang bisa menebak maksud Cia Sun.


Tidak mungkin tidak ada masalah karena yang Ye Chen hajar adalah anak tuan kota, Ye Chen tau betul hal ini tapi tidak mungkin ia menjadi takut dan menghindar.


Ye Chen lalu menceritakan sedikit garis besar perseteruannya dengan anak tuan kota.


"Katakan saja pada ayahmu, aku yang melakukannya atau biarkan mereka datang mencariku biar kubunuh saja sekalian," ucap Ye Chen yang masih tersenyum ramah. "Saudara Cia Sun, asal kau tau, kalau bukan memandangmu dan yang lain, mereka pasti sudah terbelah.


"Jangan salah paham, aku mendukungmu. Kalau mereka macam-macam, akan kubelah juga mereka."


"Eh...," Ye Chen agak kaget mendengar niat Cia Sun. "Jangan membelah musuhmu, nanti kau di benci orang yang kau kenal."


Berpikir sebentar Cia Sun berkata lagi, "Lupakan saja, mereka juga tak akan berani jika mengetahui siapa dirimu," ucap Cia Sun. "Oh ya tadi ayah berpesan, dia mengundangmu kerumah."


"Ada apa? tidak biasanya ayahmu mengundangmu."


"Entahlah tapi sepertinya ini cukup penting, tadi aku berpapasan dengan tuan Lu Ping yang juga memintamu datang."


"Baiklah, aku ke sana sekarang. Kau yakin tidak ingin ikut?"


"Tidak usah, aku masih ada urusan lagian bukan aku yang mereka butuhkan." jawab Cia Sun.

__ADS_1


Ye Chen hanya mengangguk pelan, dan tak lama kemudian Ia tiba di kediaman panglima Cia. Ia dipersilahkan ke halaman belakang oleh pelayan yang sudah mengenalnya.


__ADS_2