
"Ye Chen hendak memanggilnya tapi berhenti dan menoleh ke Jiang Kun. "Namanya siapa? aku lupa." tanyanya sambil menggaruk kepala, kesannya tidak terlalu baik jadi Ye Chen hanya mengingatnya sepintas saja.
"Hah sudahlah, pak tuaa! di sini." teriak Ye Chen cukup keras sampai membuat pengunjung lain melihat mereka.
He Liang tidak kaget, memang tujuannya hendak mencari Ye Chen atas perintah sekte. Ia mendekat, "Saudara Ye, saudara Jiang Kun, anda di sini?" sapanya cukup ramah.
"Tuan He, kita bertemu kembali." balas Jiang Kun sementara Ye Chen hanya diam saja. "Apa yang membawa anda ke sini tuan He, apa ada tugas dari sekte?" lanjut Jiang Kun bertanya.
He Liang tidak panik, sikapnya biasa saja. Tugas dari sektenya sudah jelas, membawa Ye Chen dan Jiang Kun kembali ke sekte.
Ia justru memberikan ucapan selamat pada Ye Chen yang Ia lihat telah maju ke tahap tinggi tingkat Langit. Yang Ia tau saat di dimensi kristal roh, Ye Chen masih di tahap menengah.
Melihat Ye Chen tetap diam, He Liang yang pada dasarnya menyukai dan berterima kasih pada Ye Chen menghela nafas. Dengan berat hati Ia menceritakan perihal kedatangannya mencari mereka untuk memberi pelajaran.
"Pak tua, sektemu sungguh tidak tau malu. Masih untung aku dengan senang hati membawakan bagianmu." Ye Chen akhirnya buka mulut. "Sudahlah, karena kau telah di sini, lebih kau ikut kami ke pelelangan, ayo berangkat."
Di pelelangan.
Semua telah hadir, Ye Chen bersama Jiang Kun dan He Liang duduk di ruang vip.
"Pak tua, apa kau serius dengan ucapanmu tadi?" tanya Jiang Kun yang ikut-ikutan memanggil He Liang dengan sebutan pak tua.
"Yeah begitulah, sekteku terlalu memandang tinggi dirinya. Aku aku itu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa." He Liang mendesah pelan, termasuk salah satu generasi tua sebuah sekte namun tidak memiliki masa depan merupakan beban tersendiri.
"Kenapa kau tidak keluar saja?" Ye Chen tiba-tiba saja melontarkan pikirannya, membuat He Liang dan Jiang Kun kaget.
"Tuan, apa anda serius mengatakan itu?" tanya Jiang Kun.
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa tidak," jawab Ye Chen. "Kalau sudah tidak nyaman, untuk apa terus dilanjutkan. Tinggalkan saja, beres."
Jiang Kun baru mau membantah lagi tapi tidak jadi, "Acara sudah mau dimulai." kata Ye Chen.
Di atas panggung, penatua Xiao bertindak langsung membawa acara. item pertama yang dilelang adalah benih sumber daya langka, Salak. Hanya saja tidak ada yang menawar, bahkan sekte Pil Dewa sendiri enggan, hal ini karena benih ini terlihat tidak memiliki cahaya lagi sehingga sangat susah untuk ditumbuhkan.
Karena tidak ada yang menawar, Ye Chen meminta pelayan di luar pintu untuk melihat benih Salak dari dekat. Mendengar permintaan ini, penatua Xiao berinisiatif mengantar langsung. "Tuan Ye apa anda tertarik dengan benih ini?" katanya sambil memberikan sebuah kotak kaca kecil berisi benih sebesar ibu jari yang telah mengering.
"Masukkan dalam tagihanku." ucap Ye Chen ketika mengamati benih di tangannya. Benar-benar langka, bukan karena tidak ada cahaya tapi tidak ada tempat yang cocok untuk menanamnya pikir Ye Chen yang mengenal benih ini dari pengetahuan yang Ia miliki.
"Anda yakin tuan?"
"Tentu saja." Ye Chen lalu memberikan sejumlah kristal roh pada penatua Xiao tapi segera ditolak dengan alasan akan memotongnya nanti dari hasil penjualan artefak.
Item kedua yang akan dilelang adalah sebuah kristal biru bening beraura dingin, Ye Chen mengabaikannya. Selanjutnya adalah pil kultivasi tingkat Suci, terlihat He Liang sangat menginginkan pil ini. Dia yang masih di tingkat Langit puncak berharap banyak, sayangnya Ia tidak memiliki cukup kristal roh.
Suara Ye Chen memang tidak terlalu keras tapi itu sudah cukup untuk didengar oleh peserta lelang yang merupakan kultivator.
"Oh maaf... maaf, kami hanya bicara mengenai pil kami sendiri." He Liang berinisiatif menjelaskan pada peserta lelang segingga tak lama lelang dilanjutkan kembali tapi sudah tidak semeriah sebelumnya.
Item ketiga sampai sampai delapan hanya item yang menurut Ye Chen bukanlah barang bagus, hanya Jiang Kun yang mengambil sebuah tombak kecil yang akan Ia hadiahkan kepada anaknya.
Item kesembilan adalah sebuah batu hitam. Ye Chen sangat familiar dengan benda ini, batu hitam yang selama ini Ia cari. Meskipun hanya sebuah, tidak sepasang seperti sebelumnya tapi auranya terasa lebih pekat. Hanya Ye Chen yang mengenal dan tau bagaiamana cara menggunakannya.
"Tuan Ye, apa anda tau itu benda apa?" tanya Jiang Kun. "Di dekat tempatku tinggal rasanya ada yang seperti itu, tapi ada sepasang di sana.
"Benarkah? tanya Ye Chen tak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sendiri yang akan mengantar ke sana. Tapi sampai sekarang tidak ada yang tau untuk apa batu itu ada di sana. Kadang terlihat kabut hitam tipis di antara dua batu itu."
Pikiran Ye Chen langsung tertuju ke sana, akhirnya ada jejak yang tertinggal pikirnya. Ia lalu mengambil item kesembilan ini.
Peserta lelang memandang bilik Ye Chen, ada yang menganggapnya aneh karena mengambil item yang tidak berharga dan ada juga yang menganggapnya bertaruh karena setiap item lelang tentunya tidak akan biasa saja.
Item kesepuluh adalah artefak milik Ye Chen. Semua mata memandang ke satu arah, tak ada yang tak mengenal benda satu ini.
"Seratus ribu kristal roh ungu." dari bagian tengah terdengar suara gadis yang langsung menawar. diikuti yang lain yang tak mau kalah sampai harganya melonjak ke angka lima juta kristal roh ungu.
Semua menawar, meskipun tau tidak bisa dibuka tapi sebuah peta tetaplah menjadi magnet tersendiri.
Akhirnya item ini jatuh ke tangan si gadis dan langsung pergi setelah mengambilnya.
Lelangpun selesai, Ye Chen yang berniat pergi setelah mengambil barang miliknya berhenti ketika seorang pria mencegatnya. "Berhenti di sana, katakan apa kau yang telah berani memukul muridku?" tanyanya dengan sangat kasar.
"Tetua, ciri-cirinya sama persis, pasti dialah orangnya." Seorang murid mengingatkan tetua.
"Heh berani sekali kau tidak mendengarku, bentaknya lagi ketika Ye Chen bahkan tidak melihatnya.
Tepat ketika Ye Chen berpapasan dengannya, Ia tersenyum lalu berkata pelan, "Kalau mau mati, bukan di sini tempatnya."
Setelah itu Ia pun pergi sambil menepuk pundak pria utusan sekte Pedang Langit itu.
Semua itu Ye Chen lakukan dengan mengirim aura membunuh yang pekat, mungkin karena pengaruh batu hitam di tangannya sehingga auranya bertambah pekat.
Pria itu hanya berdiri diam, matanya menatap kosong. Ia berada dalam ketakutan yang dalam tanpa tau jalan keluar.
__ADS_1