
Hanya ada lima akar alang-alang air berduri di dalam rawa dan semuanya diambil oleh Ye Chen ketika suara ini datang.
Ye Chen tidak buru-buru melihat mereka, melainkan merapikan sumber daya langka di dalam penyimpanan batu giok dan meletakkannya di cincin semesta.
Setelah itu barulah Ye Chen melihat dua pria yang mengenakan pakaian yang sama. Mereka dari sekte yang sama, ini bisa dilihat dengan jelas. Namun, Ye Chen tetap diam, dia ingin melihat apa yang akan dua orang ini lakukan.
"Wilayah sekitar sini adalah wilayah sekte Jalan Keabadian dan semua hal di dalamnya adalah milik kami."
"Oh?" Ye Chen hanya bereaksi singkat. Tidak heran ada yang seperti ini. Karena setiap sekte mengirim ratusan anggotanya dan secara kebetulan sekte Jalan Keabadian bertemu dengan kelompoknya.
Ye Chen tidak tau metode apa yang sekte Jalan Keabadian jalankan karena setiap orang yang masuk ke dimensi Perang Kuno akan muncul secara acak.
Penasaran dengan metodenya, Ye Chen pun bertanya, "Kalian sungguh hebat, bisa langsung mengklaim suatu wilayah disini. Tapi aku sudah mengelilingi daerah ini dan tidak ada satupun selain kalian."
"Haha saat ini memang hanya kami, tapi sebentar lagi yang lain akan datang."
"Ha? hanya kalian? dan kalian berani mengklaim ini wilayahmu?"
__ADS_1
Ye Chen benar-benar tidak mengerti, dari mana orang bodoh ini berasal. Ye Chen menggeleng pelan lalu berkata, "Kalau begitu, kalian bisa menunggu teman-temanmu disini."
Mata Ye Chen berkilat dingin, lalu bergerak cepat kedepan dua pria ini, sedetik kemudian dua pria ini sudah tewas tanpa tau bagaimana mereka mati. Karena ini adalah dimensi yang penuh dengan peluang, Ye Chen tentu tidak akan menyia-nyiakan dua cincin di depannya dan tebakannya tidak salah, meski celah dimensi baru saja dibuka, dua orang ini telah mengumpulkan beberapa peluang.
Baru saja melangkah beberapa langkah, sesuatu dari rawa mengusik Ye Chen. air di rawa itu bergejolak lali muncul sosok yang sangat besar, itu adalah buaya yang rawa yang muncul karena mencium bau darah.
Buaya rawa ini tidak seperti buaya yang pernah Ye Chen temui, ada sepasang tanduk besar di atas kepalanya dan panjangnya sepuluh meter dengan kulitnya yang sangat tebal.
Ini pasti buaya rawa kuno, memang pantas berada di tempat seperti ini.
Sumber daya lain muncul, Ye Chen tidak melewatkannya. Pedang hitam pun muncul di tangan Ye Chen dan melesat cepat. Ye Chen menggunakan hampir separuh kekuatannya.
Merasa terancam, Buaya rawa mengejar Ye Chen yang sudah melompat mundur. Buaya rawa ini kemudian memukul menggunakan ekornya yang besar.
Bruss!
Angin keras menerjang, menghancurkan tanah dan rerumputan yang dilewatinya.
__ADS_1
"Sangat kuat." gumam Ye Chen, sambil melompat. Dari atas, Ye Chen kembali melepaskan pedangnya, kali ini dia menggunakan 70% kekuatannya.
Sratt!
Kali ini Buaya rawa tak bisa mengelak lagi, tekanan yang kuat menekannya ketika Chen menyerang, Buaya rawa tak bisa kemana-mana dan hanya bisa pasrah ketika pedang hitam membelah tubuhnya.
Dimensi Perang Kuno, bahkan satu hewan kuno saja menghabiskan kekuatan sebanyak itu. Benar-benar tidak bisa di anggap enteng. Ye Chen kembali melanjutkan perjalannya setelah mengambil inti Buaya rawa dan bagian penting dari tubuhnya.
Sepuluh hari berlalu begitu saja, Ye Chen telah mengumpulkan banyak sumber daya dan ratusan cincin dari peserta lainnya yang menghalangi jalannya.
Suatu ketika Ye Chen yang tengah berada di hutan lebat mendengar suara pertempuran yang intens. Ketika Ye Chen mendekatinya, dia melihat lebih dari selusin orang mengepung seorang pria yang sudah terluka dan tak bisa melawan lagi.
Dari pengamatan sekilas, dapat terlihat kalau tempat itu baru saja terjadi pertempuran sengit dari beberapa kekuatan. Banyak sekali jasad yang terbunuh di sana.
"Eh, bukankah pria itu salah satu wakil sekte Pengobatan Ilahi?" Ye Chen mengenali orang ini, pria ini adalah salah satu dari lima besar pada kompetisi di sekte.
"Sobat, apa kamu baik-baik saja?" tegur Ye Chen, dia tidak mungkin membiarkan orang ini mati di depan matanya.
__ADS_1
Pria ini dengan cepat mengenali Ye Chen, "Tidak terlalu baik, aku masih bisa bertahan." ucapnya dengan senyum pahit.
"Oke, itu lebih baik, tunggu sebentar, aku akan kesitu." sahut Ye Chen tanpa memperhatikan tatapan sepuluh orang di depannya.