
Semakin siang, di lapak jualan Julian terlihat semakin ramai saja. Di saat seperti itulah, Bibi Atikah turun tangan untuk membantu sang keponakan. Apalagi jika jam dua belas siang datang, Lapak Julian semakin diserbu pembeli, karena pada jam itu hampir semua sekolah berada di jam istrirahat yang cukup lama agar para siswanya lebih leluasa melaksanakan ibadah.
Semakin waktu berjalan, barang dagangan Julian pun semakin menipis. Itu pertanda kalau dagangan Julian memang laris. Tempat strategis, rasa yang enak serta wajah yang sangat tampan, menjadi faktor utama larisnya batagor dan siomay buatan Julian.
Tapi sayang, hidup Julian terlihat kurang sempurna karena tidak ada satupun wanita yang bisa memikat hatinya. Karena sifat pemalu dan gugup yang berlebihan itulah, Julian belum pernah merasakan betapa bahagianya saling mencintai dan dicintai. Meski sebagai manusia normal, dia sangat menginginkan masa masa itu. Tapi karena kelemahan yang dia miliki membuat Julian membatasi diri dalam berinteraksi dengan wanita yang terang terangan menyatakan perasaannya.
Saat sore telah tiba, tepatnya menjelang petang. Ketika semua anggota keluarga sudah berada di rumah dan Julian sedang beres beres lapaknya. Julian dikejutkan dengan kedatangan wanita se usia Ibunya dilapaknya. Wajah wanita itu terlihat berbeda dan sangat tidak marah.
"Maaf, Bu, batagor dan siomaynya sudah habis," ucap Julian dengan sikap yang sangat ramah.
Tapi berbeda dengan raut wajah Ibu itu. Dia tidak menunjukan keramahana sedikitpun. "Kamu yang bernama Julian?" tanya Ibu itu dengan jari telunjuk menunjuk ke arah pedaagang batagor.
"Iya, Bu. Ada apa? Ibu ada perlu sama saya?" balas Julian dengan wajah terlihat heran.
"Saya tanya sama kamu, maksud kamu apa? Menuduh anak saya kalau dia itu wanita murah meriah?"
__ADS_1
Deg!
Wajah Julian lansung menunjukkan rasa terkejutnya. Meski ibu itu bertanya dengan suara yang pelan, tapi tersirat dengan jelas kalau ibu itu sangat murka dengan pemuda itu.
"Maksud ibu?" tanya Julian agak terbata.
"Nggak perlu pura pura nggak tahu. Emang anakku melakukan apa sama kamu? Sampe kamu nggangap anak aku cewek murah meriah? Apa dia ngajak kamu tidur? Nggak kan?"
Julian terbungkam. Dia hanya bisa menunduk tanpa mau membantah ucapan seorang ibu yang sedang diliputi amarah. Meski Julian tidak tahu anak yang mana, tapi dari perkataannya, dia tahu kalau anak itu pasti salah satu wanita yang pernah menyatakan perasaannya pada Julian dan dia tolak dengan kata kata kasar.
Julian masih menunduk. Tentu saja dia tidak terima jika ibunya dihina. Bahkan Julian kadang mendengar tuduhan kalau dirinya adalah anak haram. Tentu saja itu sangat menyakitkan.
"Kalau mau ngomong, pikir pake otak. Jangan karena mentang mentang kamu ganteng, kamu seenaknya ngatain anak orang sebagai wanita murah meriah," ucap ibu itu, lalu dia pergi begitu saja dengan perasaan sedikit lega karena unek uneknya sudah dia luapkan.
Sedangkan Julian, dia terduduk lemah dengan perasaan yang tidak karuan. Dia sadar kalau perkataannya salah, tapi entah kenapa ucapan itu keluar begitu saja ketika dia merasa gelisah dan tertekan dengan para wanita yang menyatakan perasaannya. Rasa malu yang berlebihan serta gelisah yang yang tak bisa ditahan, menjadi pemicu ucapan menghina yang Julian tunjukkan pada wanita yang mengakui perasaannya.
__ADS_1
Sungguh, sebagai pria normal, Julian tidak ingin memiliki kelainan seperti ini dalam dirinya. Dia sendiri merasa terbebani, karena, setiap dia mengeluarkan kata kasar pada wanita, ada rasa sesal yang bergelayut dalam hatinya.
Tapi yang sangat disayangkan, bukannya meminta maaf, Julian memilih menghindar dan mengabaikan para wanita yang dia hina. Menuruf Julian itu cara efektif yang bisa dia lakukan agar para wanita tidak mendekatinya lagi. Nyatanya dia salah langkah. Sikap Julian, menumbuhkan. Banyak rasa benci serta pikiran buruk di mata orang lain.
"Bagaimana rasanya, Jul?" Suara Bu Sukma bersama orangnya muncul dari dalam rumah membuat Julian merasa sedikit terkejut.
"Ibu," ucapnya lirih sambil memandang wanita yang telah melahirkannya.
"Bagaimana rasanya jika ibu yang dihina orang lain sebagai wanita murah meriah? Apa kamu akan senang?"
"Bu," ucap Julian lagi dengan suara yang agak keras.
Bu sukma nenghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Mungkin ini karma karena perbuatan Ibu di masa lalu."
"Apa! Karma?"
__ADS_1
...@@@@@...