
Julian terbungkam. Mendengar isi hati istrinya yang meluap tanpa jeda, membuat pria itu semakin dihantui rasa bersalah. Dia baru menyadari kalau sikapnya keterlaluan dan sangat mengecewakan istrinya. Mungkin karena Julian belum pernah menjalin hubungan dengan wanita sebelumnya, jadi belum bisa memilah sikap yang harus dia tunjukkan.
"Maaf," cuma kata itu yang mampu Julian katakan. Pada akhirnya secara tidak sadar dia telah menyakiti hati tiga wanita sekaligus. Bukan hanya saat menerima telfon dan memarahinya. Tapi sikap Julian sudah mengecewakan tiga istrinya sejak dia menerima telfon dari wanita lain.
Untuk sesaat suaasana kamar itu menjadi hening. Setelah meluapkan isi hatinya, Namira lebih memilih diam dalam pelukan suaminya. Hatinya terasa lebih ringan setelah semua yang ingin dia katakan, meluap dengan sendirinya.
Julian sendiri tak bereaksi apa apa, selain diam dan mengencangkan tangan yang melingkar dipinggang sang istri. Niat hati ingin memanfaatkan waktu untuk bercinta agar sang istri tak marah lagi, tapi niat itu menguap setelah berdebat dengan istrinya dan meluapnya isi hati wanita yang tersakiti akan sikapnya.
"Setelah tahu siapa wanita itu? Apa yang kamu rasakan, Mas?" Namira kembali membuka suaranya. Setidaknya dia juga ingin tahu isi hai suaminya begitu mendengar kabar kalau wanita yang ditemui bekerja sama untuk menjebak Julian.
"Yang pasti sangat marah. Nggak nyangka aja, dengan bodohnya aku menyuruh kalian agar tidak berprasangka buruk, tapi nyatanya wanita itu memang ada rencana buruk. Mungkin jika Mas budi dan Mas Ferdi nggak datang menemui kalian, aku sudah masuk ke dalam perangkapnya. Aku beruntung sempat memeriksa ponsel kembali."
"Terus apa yang akan kamu lakukan?"
"Yang pasti aku akan menyeretnya juga ke dalam kasus Reynan dan Lehan. Aku harus ngasih pelajaran sama mereka?"
Namira nampak manggut manggut. "Lalu saat Mas Jul duduk bareng sama wanita itu, rasa paniknya gimana? Kambuh lagi nggak?"
"Nggak terlalu memperhatikan sih, Dek. Lagian duduknya juga berjauhan. Ada meja diantara kita."
Mendengar semua pengakuan Julian dari awal hingga detik ini, ada rasa lega dalam hati Namira. Setidaknya dia tahu, Julian tidak berbuat terlalu jauh. Namira tahu suaminya sangat jujur. Cuma kadang kejujuran juga bisa membuat hati terluka.
"Dek."
"Hum?"
__ADS_1
"Boleh nggak?"
"Boleh apa, Mas?"
"Nyodok lubang kamu?"
Namira sontak saja langsung tersenyum. Setelah perdebatan berakhir, Julian malah minta jatah. "Mas Jul lagi pengin?" Julian mengiyakan. "Nanti yang lain pada iri gimana? Mas Jul belum bikin jadwal buat menggilir kami loh."
"Ya nanti malam kita bicarakan soal jatah, tapi saat ini aku benar benar lagi pengin, Dek."
"Ya udah ayok. Mumpung ada waktu."
"Tapi, Dek."
"Tapi apa?"
"Astaga! Harus itu?"
"Ya penginnya sih harus, Sayang. Aku suka banget kalau punyaku dimainin pake mulut."
"Ya udah sini."
Senyum Julian langsung terkembang. Dengan semangat dia melepas celananya dan menyodorkan isinya pada sang istri. Namira pun menyambutnya dengan suka cita. Wanita itu juga senang melihat suaminya yang keenakan saat Namira memainkan milik Julian dengan mulutnya. Dengan terjadinya hubungan badan, hubungan suami istri itu kini damai kembali.
Di hari yang sama, di tempat lain, tepatnya di rumah Julian yang lama, Bu Sukma terlihat sedang menemani si kembar bermain. Dia tidak sendiri, ada Bi Atikah dan Sifa yang juga duduk bersama di lapaknya Julian.
__ADS_1
"Mbak, kok Julian, libur jualannya lama banget ya? Apa nggak takut kehilangan pelangggan?" tanya Bi Atikah.
"Iya, Budhe. Teman teman aku juga pada nanyain. Aku sampai bingung jawab apaan," Sifa ikut menimpali.
"Budhe juga nggak tahu, Fa. Sejak Julian pindah, Budhe kan sekarang jarang ngobrol sama Masmu."
"Harusnya sih tetep jualan, Mbak. Apa mungkin karena dia merasa pegang duit dari ayahnya jadi dia seenaknya aja gitu nggak jualan."
Bu Sukma tersenyum kecut. "Semoga enggaklah, tik. Jangan sampai Julian tergantung sama harta ayahnya. Aku takut, apa yang dibilang mertuaku jadi kenyataan, Tik."
"Emang Budhe dulu berpisah sama ayahnya Mas Jul karena apa? Apa Ayahnya Mas Jul selingkuh?"
"Bukan. Sebenarnya Ayahnya julian itu setia," Bi Atikah yang menjawabnya. "Tapi ayahnya Mas Jul orangnya nggak tegas dulu. Dia mudah disetir gitu."
"Lah terus? Pisahnya kenapa?" Sifa semakin dibuat penasaran. Saat Bi Atikah hendak menjawab pertanyaan anaknya, Bu Sukma menyeletiuk. "Udah nggak perlu tahu, yang ada nanti kamu malah cerita sama Julian."
"Ya ampun, Budhe, nggak percaya amat ama keponakan," gerutu Sifa, Bu Sukma hanya mengulas sembari mengusap kepala sang ponakan.
"Oh iya, Mbak. Mbak dengar berita nggak tentang anaknya Pak Rastam?"
"Anak Pak Rastam? Si Mirna atau Samsul?"
"Iya, si Mirna, katanya dia akan tunganan sama orang paling kaya di kabupaten ini, Mbak. Dengar dengar anaknya adalah orang yang dulu menjebak Julian, Mbak."
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...