PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Rencana Sang Ayah


__ADS_3

Dan waktu kini kembali berganti. Seperti pagi yang biasanya, Julian menikmati awal hari ini dengan penuh kehangatan bersama para istri. Julian duduk manis dengan ditemani secangkir kopi sambil bermain ponselsedangkan ketiga istrinya sibuk mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang lezat untuk mereka dan suaminya.


Tentu saja mereka tidak hanya memasak saja, tapi kegiatan pagi mereka ditemani dengan obrolan ringan khas wanita tukang ghibah. Biar bagaimanapun mereka wanita, yang mungkin memang sudah menjadi kodratnya kalau mereka suka membicarakan hal apapun jika ada lawan bicara. Kali ini yang menjadi topik obrolan mereka adalah kedatangan ayah mertua tiga wanita itu.


"Kalian semalam kaget nggak sih? Pas lihat Ayah mertua kita? Gila! Ganteng banget," seru Kamila sembari menggoreng bakwan udang.


"Ya pasti lah, aku aja sampe melongo. Hebat yah, orang eropa. Makin tua malah makin meresahkan. Nggak kayak orang sini, makin tua makin buncit," ucap Safira yang sudah duduk santai di dekat meja makan karena tugasnya sudah selesai.


"Hahaha ... bener, aku aja masih nggak percaya sampai saat ini. Eh tapi kok ayah mertua nggak sarapan disini ya? Padahal aku tadi belanja agak banyak loh," Namira ikut menimpali. Dia juga sedang duduk di kursi seberang, masih satu meja dengan Safira.


"Owalah, Namira! Pantes aku sama Kamila tadi heran saat melihat belanjaan yang banyak di atas meja. Kirain mau ada acara syukuran."


"Ya kan aku pikir mertua kita akan sarapan bareng anak dan menantunya. Eh nggak tahunya malah balik ke rumah lama."


"Kalian lagi pada ngomongin apa sih?" suara Julian mendadak muncul diantara pembicaraan para istrinya. Dia meletakan cangkir di tempat piring kotor dan duduk di kursi yang mengelilingi meja makan bersama dua istrinya. Kamila juga ikut bergabung sembari membawa wadah berisi bakwan. Sedangkan sayurnya sudah tersaji di atas meja.


"Semalam Mas Jul ngobrol sama ayah mertua nyampe jam berapa, Mas?" tanya Safira sembari menyodorkan piring kosong pada sang suami.


Begitu menerima piring kosong, Julian langsung mengisinya dengan Nasi dan lauk yang ada di hadapannya. "Sekitar jam dua belas malam, kenapa?"

__ADS_1


"Kok Ayah mertua nggak nginep disini? Nggak pengin gitu sarapan bareng anak dan menantunya?"


"Ayah yang nggak mau. Aku sih udah nawarin. Ayah masih kangen sama ibu. Lagian ayah juga sibuk. Hari ini aja dia mau meninjau lokasi yang akan dibangun superMall."


"Wahh, keren! Mas Jul nggak bantuin?"


"Enggak. Hari ini kan rencanaanya akan ada pemeriksaan. Kemungkinan akan ada mediasi antara pihak Mas dan pihak Reynan."


"Berarti kita ikut dong? Emang nggak melalui proses sidang dulu, Mas?"


"Nggak tahu, tadi sih Mas Ferdi ngabarinnya gitu. Nanti kita berangkat bareng mereka."


"Ya Mas nggak tahu juga ya, Dek. Mungkin ini permintaan keluarga Reynan. Kan mereka orang yang terpandang dan berpengaruh."


"Ah iya, benar juga."


Tanpa Julian sadari kalau sebenarnya ini adalah rencana ayahnya yang ingin segera menuntaskan masalah anaknya. Mendengar Julian sering mendapat hinaan dan diremehkan karena kasus ini, sudah pasti mengundang amarah pada diri Alonso. Maka itu Alonso ingin segera menuntaskan segala masalah yang melibatkan anak dan menantunya dengan cepat.


Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, salah satu keluarga yang memusuhi Julian terlihat sedang heboh sendiri. Dilihat dari wajah mereka yang nampak semangat dan ceria, sepertinya ada hal yang sangat menyenangkan terjadi disana.

__ADS_1


"Bapak jadi ikut Om Suryo ketemuan sama miliarder dari Italia itu?" tanya Mirna di sela sela menikmati hidangannya.


"Ya jadi dong, Mir. Kamu nggak lihat? Bapak sudah rapi begini?" balas Rastam dengan sangat antusias. "Bapak harus bisa memanfaatkan kesempatan ini baik baik. Siapa tahu kan, Orang Italia itu mempercayakan beberapa barangnya untuk Bapak isi?"


"Ya bagus dong. Kalau Bapak bisa dekat dengan orang Italia itu, keluarga kita akan semakin terpandang. Biar makin nyaho tuh si Julian."


"Oh iya, Pak. Kata Bu Suryo, supermall itu dibangun untuk putra tunggal orang Italia itu yah?"


"Yang bener, Bu?"


"Ya benar. Bu Suryo sendiri yang cerita. Katanya anaknya laki laki. Entah Bu suryo dengar dari mana berita itu."


"Wah! Kalau anaknya laki laki, bisa dong, Pak dijodohkan sama aku," Mirna berkata dengan sangat percaya diri.


"Bisa diatur. Kita lihat saja nanti, Bapak harus bisa dekat dengan orang Italia itu dulu, sekalian kita lihat perkembangan kasus antara Julian dan Reynan bagaimana."


"Sip! Bagus, Pak. Mirna dukung. Siapa tahu kan, Mirna jadi istri seorang miliarder, makin kebakaran jenggot nanti orang orang kampung sini, hahahah ..."


Kedua orang tua Mirna juga ikut tersenyum lebar dan mengkhayalkan hal yang sama seperti anak mereka.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2