PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Bersatunya Korban Sakit Hati


__ADS_3

"Mas, masnya menerima pesanan nggak?" tanya salah satu pembeli kepada pedagang idamannya.


"Menerima dong, mau pesan?" jawab Julian dengan sumringah.


"Iya, Mas. Buat minggu depan."


"Oke, catat aja nomor saya," jawab Julian sambil menunjuk ke arah depan gerobag dimana tertempel nomer ponsel miliknya.


"Oke deh, Mas. Nanti kalau jadi, aku kesini lagi buat mastiin."


"Sipp, kabarin aja."


Setelah mengiyakan dilanjut pamit, dua orang itu lantas pergi meninggalkan lapak Julian dengan perasaan yang sangat bahagia. Mereka sudah membayangkan jika rencananya berhasil, mereka akan bisa menikmati tubuh pria setampan Julian sampai puas. Mereka juga akan membuat pria penjual batagor tunduk dan bertekuk lutut hingg mereka bisa berkali kali menikmati Julian dengan penuh hasrat dan cinta.


Berbeda dengan dua orang yang sangat terobsesi pada Julian, tiga orang lainnya justru sedang memikirkan cara bagaimana menaklukan pria menyebalkan itu. Julian memang menyebalkan dam sangat mengecewakan di mata tiga orang itu. Tapi meskipun menyebalkan, mereka justru ingin memberi pelajaran pada Julian dengan menaklukannya.


"Apa kamu yang bernama Safira?" tanya seseorang pada wanita yang sedang asyik bermain ponsel sembari menunggu pembeli.


Wanita cantik bernama Safira lantas mendongak, lalu keningnya berkerut. "Iya benar, aku Safira. Mbak siapa ya?" sebenarnya Safira tahu siapa wanita yang sedang bersikap ramah kepadanya. Berhubung tidak akrab, jadi Safira pura pura saja tidak kenal.

__ADS_1


"Aku Kamila, bisa kita bicara sebentar?" jawab wanita yang menyapa Safira tadi, menyebut namanya yaitu Kamila. Dia juga sebenarnya sudah tahu kalau penjual kerudung itu Safira. Alasan Kamila pura pura tidak kenal sama dengan alasan dari Safira.


"Bicara? Bicara apa ya, Mbak?" tanya Safira masih dengan sikap pura pura tidak tahu, padahal dia juga menunggu saat saat seperti ini. "Apa tentang Julian?"


"Nah, itu tahu. Pake nanya segala," balas Kamila sedikit kesal.


"Apa Mbak mau melabrak saya?" tanya Safira yang kini bangkit dari duduknya.


"Hahaha ..." Kamila malah tergelak. "Nggak lah, emangnya aku anak SMP. Lagian kan Julian juga nggak jelas sukanya sama siapa."


Di saat Safira hendak membalas perkataan Kamila, seseorang datang menghampiri kedua wanita itu. "Kalian Safira dan Kamila kan?" tanya orang itu.


"Tepat!" jawab orang itu sambil mengacungkan jari telunjuknya sesaat ke arah Safira. "Kenalin dulu, aku Namira. Ya walaupun mungkin kita sudah saling kenal, tapi kan kita nggak akrab. Makanya, biar kita akrab, kita kenalan aja dulu. Aku Namira."


Ketiga wanita itu lantas saling berjabat tangan, lalu mereka memilih berbicara di tempat sebelah lapak kerudung Safira karena sipenjual kerudung tidsak bisa meninggalkan lapaknya. Dari segi waktu jualan, Namira dan Kamila lumayan mengaturnya. Namira jam tujuh pagi udah pulang jualannya, sedangkan Kamila, konternya bisa dititipkan pada orang rumah karena selain jualan pulsa, di rumahnya juga jualan kebutuhan rumah tangga lainnya.


"Kalian memang tidak sakit hati gitu? Dikatain cewek murah meriah?" tanya Kamila disela sela pembicaraannya.


"Ya pasti sakit hatilah, gila aja mulut Julian itu," ucap Safira. "Cewek bayaran aja jika dihina, pasti mereka bakalan tak terima. Apa lagi cewek kalem kayak aku seperti ini."

__ADS_1


"Terus? Kenapa nggak mundur aja? Udah tahu sakit hati?" sungut Namira.


"Alasannya juga sama kayak kalian," Safira membela diri. "Kalian aja nggak mau mundur, apa lagi aku. Udah terlanjur tertarik sama pesona tukang siomay itu."


"Hahahah ..." Namira malah terbahak. "Benar juga sih, alasan kita sama. Makanya aku ingin bicara sama kalian."


"Bicara apaan?" tanya Kamila.


"Jujur sih, aku pengin membuat pria itu jatuh cinta, galau terus patah hati. Bukan berniat ingin mempermainkan perasaan Julian. Tapi rasanya nggak adil aja jika dia seenaknya menghina kita dan masih tenang menjalani hidupnya tanpa merasa bersalah," jelas Namira.


Safira dan Kamila nampak manggut manggut. Memang benar apa yang dikatakan Namira. Tidak ada kata maaf yang terucap dari mulut pria itu. Bahkan setelah menghina ketiga wanita itu secara langsung, Julian pergi begitu saja. Tiap ketemu malah bersikap dingin dan seolah tidak mengenal dan tidak menganggap kalau Julian pernah menghina mereka.


"Caranya bagaimana? Oranng dia aja tiap ketemu kita aja, udah kayak lihat kuman. Jijik banget gitu. Sampai nggak mau lihat," balas Safira.


"Hahaha ... benar. Kalau kita terang terangan ngejar Julian ya, kita bakalan semakin terlihat sebagai wanita yang murah meriah."


"Tenang, aku punya cara dong, cara yang menurutku sangat elegan dan tidsak terlihat murahan," ucap Namira yakin dan dia langsung mengungkapkan idenya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2