
"Kalian kenapa? Kok pada nangis?" tanya Julian begitu dia memasuki kamar dan melihat ketiga istrinya sedang sesenggukan satu sama lainnnya. Julian yang penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi malah mendengar suara pamannya memanggil.
"Jul!"
Julian langsung kembali keluar kamar. "Ada apa, Paman? Ini apa yang terjadi sama mereka?"
"Ikut Paman, biar paman yang jelaskan," ajak Paman Seno. Julian mengiyakan. Dia kembali masuk ke dalam kamar sejenak menaruh godi bag di dekat para istrinya, lalu kembali keluar menyusul sang Paman yang duduk di ruang tamu.
"Ada apa, Paman? Kenapa mereka pada nangis?" tanya Julian begitu dia duduk di kursi yang menghadap ke arah Paman Seno.
"Begini, Jul, tadi ..." Paman Seno lantas menceritakan semua yang baru saja terjadi pada tiga istrinya serta alasan mereka menikah.
"Astaga, Paman. Kenapa Paman malah bertindak seperti itu?" tanya Julian dengan emosi yang tertahan. "Oke, niat Paman baik, tapi lihat hasilnya? Aku yang semakin nggak enak sama mereka, Paman."
"Paman tahu, Paman salah. Tapi mau bagaimana lagi, Jul. Semua sudah terjadi, orang tua mereka juga merestui, Paman harus bagaimana coba? Nggak mungkin Paman suruh kalia cerai bukan? Mereka akan semakin malu jika hal itu terjadi."
Julian pun tak bisa berkata kata lagi. Kalaupun dia bersuara, ujujng ujungnya sama, tidak ada jalan lain selain menjalankan pernikahan ini. Tanpa sepatah katapun, Julian memilih meninggalkan Pamannnya dan kembali masuk ke dalam kamar.
Disana, tangis ketiga istrinya sudah terdengar mereda. Hanya ada sisa isak tangis yang keluar dari hidung mereka. Julian terdudduk di ujung lantai dengan perasaan yang tak karuan.
__ADS_1
"Maaf, karena keluargaku, kalian mengalami hal yang tidak menyenangkan," ucap Julian beberapa saat kemudian setelah dirinya diam sembari menunggu ketiga istrinya lebih tenang. "Aku juga nggak tahu kalau pernikahan kita ternyata demi kesembuhanku."
"Bagaimana caranya kamu bisa sembuh kalau kamu sendiri membenci kami," ucap Safira dengan menatap tajam ke arah suaminya.
"Tidak!" bantah Julian. "Mungkin awalnya aku terkesan seperti membenci kalian. Aku hanya ingin kalian juga membenciku sejak kalian nembak aku. Tapi aku nggak nyangka, jalan takdir malah membawa kita sampai tahap seperti ini. Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?" cetus Kamila. "Seandainya aku tahu dari awal kamu punya kelainan seperti itu juga aku bakalan ngerti."
"Iya, iya maaf. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita nggak mungkin bakalan cerai. Nama kalian nanti bakalan tambah buruk," tukas Julian lagi.
"Aku tidak sebodoh itu," balas Namira ketus. "Aku juga punya keluarga yang harus aku jaga nama baiknya."
Sejenak semuanya terdiam setelah berdebatan kecil yang baru saja terjadi.
"Ponsel buat kalian," balas Julian.
Tangan Safira terulur meraih godie bag tersebut. Matanya membelalak saat melihat isinya. "Ini kan ponsel mahal?" tanyanya dengan nada lumayan kencang. Kamila dan Namira juga tak kalah terkejutnya melihat ponsel berlogo buah tergigit itu.
"Kok beli banyak banget?" tanya Safira lagi.
__ADS_1
"Aku kan tadi udah bilang, beli buat kita. Satu orang satu."
Melihat benda mahal pertama yang mereka miliki, wajah sedih ketiga wanita itu langsung sirna dan berubah menjadi rasa bangga dan bahagia. Julian pun ikut senang melihat perubahan sikap istrinya secepat itu.
"Katanya kalian ingin tengok rumah? Kapan?" tanya Julian ditengah tengah para istri sedang antusias mengecek ponsel baru mereka.
"Kalau bisa ya secepatnya. Tapi kan kamu harus bisa memutuskan ikut sama siapa," jawab Namira.
Mendadak Julian merasa dilema. Bukan karena tidak mau menemani sang istri, tapi dia merasa tidak sanggup menempel terlalu dekat dengan para istrinya. Namun Julian juga tidak ingin mengecewakan tiga wanita itu. Mereka baru saja dibuat kecewa saat berbicara dengan Paman Seno, jadi Julian tidak mau mengecewakan tiga wanita itu lagi dalam waktu yang bersamaan.
Aku tidak mungkin memilih diantara kalian, aku akan ikut siapa," ucap Julian. "Biar adil, bagaimana kalau kalian saja yang bergilir?"
Kening ketiga wanita itu langsung berkerut. "Bergilir gimana?" tanya Kamila.
"Ya misal hari ini aku menemani Kamila, besok Safira dana lusa Namira. Bukankah itu lebih adil? Setidaknya jika terjadi apa apa, ada aku di sisi kalian."
Ketiga istri Julian kembali saling pandang sejenak. "Kalau Mas Jul maunya seperti itu ya nggak apa apa. Itu memang cukup adil sih," ucap Safira. "Tapi apa Mas Jul tidak apa apa?"
"Nggak apa apa, sekarang giliran aku yang berkorban buat kalian," balas Julian mencoba bersikap tenang meski perasaanya tak karuan. "Kalau kalian setuju, ya udah kalian tentukan sendiri, siapa yang pertama akan pulang?"
__ADS_1
"Baiklah!"
...@@@@@@...