PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Saat Mediasi tiba


__ADS_3

Waktu untuk mediasi sebentar lagi akan segeraa dimulai, dua kubu yang sedang bersitegang kini mulai berdatangan ke lokasi yang ditentukan. Di antarra kedua kubu itu, yang pertama kali datang adalah pihak dari Reynan. Mereka saat ini sudah berada pada satu ruangan yang memang sengaja disediakan sebagai ruang tunggu.


Sedangkan dipihak Julian, dia nampak baru datang bersama ketiga istrinya dan dua orang pria yang selama ini membantunya. Berbeda dengan Reynan yang datang langsung bersama pengacaranya serta orang tuanya dan juga Lehan beserta keluarganya juga. Di ruang itu juga ada Rastam yang ingin menyaksikan kehancuran Julian.


Saat rombongan Julian hendak memasuki ruang tunggu, langkah mereka terhenti karena Julian dan yang lain langsung di tatap tajam oleh semua yang ada di ruangan itu. Mereka bahkan langsung dicerca dan dihina oleh kubu Reynan.


"Heh! Siapa yang nyuruh kalian masuk kesini?" ucap Rastam dengan tajam. "Disini bukan tempatnya untuk orang miskin yang belagu kayak kalian."


"Iya bener, ini bukan tempat kalian. Saya alergi dekat orang miskin kayak kalian!" Ibunya Reynan ikut mengeluarkan hinaanya. "Jadi orang miskin itu harusnya tahu diri, nggak perlu memperpanjang urusan yang jelas jelas keselahannya ada pada diri anda sendiri!"


"Iya benar!" seru seru ayahnya Lehan. "Jadi pedagang batagor aja belagu. "Mana pengacaramu? Katanya kamu pake pengacara ternama? Kok nggak kelihatan? Nggak sanggup bayar ya?" kubu Reynan langsung tersenyum lebar mendengar ejekan dari ayahnya Lehan.


"Paling juga modalnya sudah habis, jadi pengacaranya nggak mau bantu lagi, hahaha ... miris amat kamu, Jul."


Julian dan yang lainnya hanya bisa terdiam. Meski sebenarnya mereka sangat emosi. Ferdi dan Budi tetap berusaha untuk tenang. Mereka juga membujuk Julian agar tidak terpancing emosi dan mengajaknya keluar. Tanpa banyak perlawanan, Julian menuruti ajakan Ferdi dan Budi. Begitu juga dengan tiga istrinya.


"Biarkan saja, Jul. Biarkan mereka bersenang senang dulu," ucap Ferdi saat mereka mencari tempat lain untuk menunggu jalannya acara mediasi. Mereka berhenti di sebuah taman kecil yang ada di sekitar gedung itu.


"Mas Ferdi kok bisa setenang itu?" tanya Safira. "Apa Mas Ferdi dan Mas Budi memiliki rencana?"


"Hahha ... tentu saja," ucap Budi sambl. "Kalian jangan khawatir. Semua sudah tersusun dengan rapi. Tinggal nunggu waktunya saja."

__ADS_1


"Owalah, ya baguslah. Aku jadi lega mendengarnya."


"Sama, aku juga," Kamila ikut bersuara. "Eh Mas Jul, katanya Ayah mertua akan datang? Kok nggak kelitan."


"Lagi ada urusan sebentar katanya," jawab Julian nampak lesu. Meski sudah diberi dukungan dan disemangati, nyatanya Julian masih merasa cemas dengan hasil dari mediasi yang akan dia lakukan.


Hingga waktu yang telah ditentukan tiba, kini acara mediasi akhirnya dilaksanakan. Dua kubu duduk terpisah yang dibatasi dengan meja yang cukup lebar dan panjang. Di salah satu ujung meja, ada tiga orang yang bertugas menjadi mediator.


"Baik semuanya. Sebelumnya perkenalkan. Nama Saya Rahul. Saya adalah hakim yang akan menangani kasus suadara saudara sekalian. Sebelum menuju ke ranah persidangan, alangkah baiknya kita menempuh jalur kekeluargaan terlebih dahulu. Baiklah, tanpa perlu basa basi lagi, kita mulai mediasinya."


Rahul dan kedua rekannya mulai menggali informasi dengan melempar pertanyaan kepada dua pihak yang berseteru. Dari perseteruan itu, pihak Reynan tentu yang paling mendominasi. Bahkan setiap kubu Julian mengeluarkan kata katanya, mereka selalu dapat dibantah dan dipatahkan oleh kubu Reynan. Tentu saja kubu Reynan merasa senang karena dari apa yang terjadi saat ini, kubu Reynan memastikan diri kalau mereka akan menang.


"Maaf, Pak hakim, saya terlambat," sebuah suara yang baru saja datang langsung mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana.


"Pak Hotmin, anda kesini sebagai ..."


"Sebagai pengacara Julian," sang pengacara langsung memotong pertanyaan Pak Hakim sembari duduk di sisi Julian. Kubu Reynan benar benar dibuat melongo menyaksikan hal itu. Julian benar benar memakai orang hebat. "Silakan diteruskan, Pak hakim."


"Baik, Pak Hotmin," Pak hakim kembali mengulang kronologi kejadian bersama kedua belah pihak yang bersiteru. Pak Hotmin selaku pengacara Julian hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan pihak Reynan.


"Bagaimana menurut anda, Pak Hotmin?" tanya Sumanto.

__ADS_1


Orang yang disebut oleh pengacaranya langsung menyeringai. "Anda ini sebenarnya seorang pengacara atau badut?"


"Apa!" pekik Sumanto. "Maksud anda apa menghina saya?"


"Dari keterangan yang diberikan oleh saudara Reynan dan Lehan saja sudah jelas sekali kalau mereka yang salah!"


"Apa! Mana mungkin!" kubu Reynan langsung menegang mendengar ucapan pengacara Julian.


"Jelas sekali ada kejanggalan dari ucapan mereka berdua."


"Kalau memang ada kejanggalan, coba sebutkan mana kejanggalannya?"


"Baiklah. Dengarkan saya baik baik."


Semua yang ada di sana langsung pasang telinga.


...@@@@@@...


Visual Alonso Darwin


__ADS_1



__ADS_2