
"Ini air minum bener, kan, ya? Haus banget aku," ucap Namira sembari meraih gelas dan mengisinya dengan air putih yang ada dalam teko.
"Astaga! Air minum siapa itu? Main tenggak aja!" seru Safira.
"Haus kali, Fir, kamarnya panas banget," balas Namira.
"Aku juga, sini aku minta."
"Aku juga, sisain."
Tanpa mereka ketahui, air yang mereka minum adalah air yang udah dicampur obat perangsang oleh si pemilik rumah. Reynan memang sering melakukan hal kotor semacam itu dan selalu berhasil. Mungkin karena Reynan yang ditusuk jadi para pria yang pernah menjadi korban Reynan tidak merasakan apa apa atau hal aneh.
Sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan ada saatnya tupai jatuh ke tanah juga. Begitu juga apa yang dialami Reynan sekarang. Baru kali ini, Reynan ketahuan akal bulusnya. Sedari dulu baru terdengar desas desus saja, tanpa ada yang pernah memergokinya.
Air yang dicampur obat perangsang akab digunakan Reynan saat korbannya tersadar. Dengan drama bagai malaikat, Reynan akan menyuruh korbannya minum air itu saat siuman dari pengaruh obat tidur.
Namun sayang, air itu malah diminum tiga wanita yang kehausan karena udara kamar yang panas. Hingga bebererapa menit kemudian sepertinya obat itu mulai menunjukan reaksinya.
"Apa disini nggak ada orang tua? Kok bisa Reynan dengan mudah melakukan hal menjijikan seperti tadi?" ucap Namira sambil kipas kipas pake tangan karena kepanasan, bahkan dia sudah melepas jaket yang dia kenakan.
__ADS_1
"Katanya sih ini rumah neneknya, karena neneknya ikut orang tua Reynan, jadi Reynan yang tinggal disini," ucap Kamila yang juga sudah mulai kepanasan karena pengaruh udara dan juga pengaruh obat perangsang. Kamila pun melepas hodie yang dia pakai. "Aku nggak nyangka, sepupuku malah akrab sama dia. Aku pikir dia normal."
"Pantas, dia bebas melakukan hal kotor di rumahnya, orang rumahnya sepi," balas Safira sambil melepas kerudung yang dia pakai karena sangat kepanasan juga. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kita coba tendang tendang pintu aja sampai jebol, bodo amat yang punya rumah marah. Kita tinggal ngomong aja apa adanya," usul Kamila.
Kedua wanita itu sontak saja setuju. Mereka meletakan begitu saja jaket, hodie dan kerudung di lantai, lalu beranjak menuju pintu dan mulai menendang nendang berkali kali.
"Kenapa rasanya badan aku makin panas sih, astaga!" keluh Safira.
"Aku juga. Kayak ada yang menuntut pengin dituntasin," Kamila juga mulai mengeluh.
"Loh kok sama, Mil? Aku malah kayak terangsang lihat tubuh Julian," Namira menimpali.
"Aku tahu, Fir. Emangnya aku bodoh apa?" sungut Namira. "Ini cuma perasaanku saja. Kok panasnya kayak mancing untuk berbuat dosa."
"Benar, Nam," sahut Kamila. "Aku juga ngerasainnya begitu. Bawaannya pengin buka baju dan ada yang berdenyut."
"Astaga! Kenapa kita jadi samaan gini? Apa yang terjadi pada tubuh kita?" ucap Safira.
__ADS_1
Di saat tiga wanita itu sedang kebingungan dengan apa yang mereka alami, Julian justru mulai menunjukkan tanda tanda kalau dia akan sebentar lagi akan bangun. Sepertinya pengaruh obat tidur itu memang diatur dosisnya oleh Reynan. Saat mata Julian terbuka, dia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Dia lantas segera bangkit dan duduk di atas kasur.
"Julian! Kau sudah sadar?" seru Safira. Ketiga wanita itu lantas mendekat.
"Aku dimana?" tanya Julian dengan suara berat. Sepertinya dia belum sadar kalau pakaian yang dia kenakan termasuk celana dan yang lain, sudah terlepas dari tubuhnya.
"Kamu ada di dalam kamar," jawab Namira.
"Kamar?" Julian tampak kaget.
"Iya, kamu tadi ..." Namira belum menyelesaikan ucapannya tiba tiba dia mendengar Julian berteriak.
"Tidak! Apa yang kalian lakukan padaku? Hah!" tanya Julian dengan tatapan tajam. Saat Julian berdiri, dia semakin kaget saat menyadari kalau dia tidak mengenakan apapun pada tubuhnya. Dengan wajah yang sangat syok dia memandangi tubuhnya lalu memandang tajam ke arah tiga wanita yang ada disana. "Kalian memperkosaku?"
Sontak saja ketiga wanita itu terkejut bukan main dengan tuduhan yang Julian lontarkan. Disaat mereka mau membantah, Julian keburu berteriak memaki mereka semua sembari menutup tubuhnya kembali dengan selimut.
"Kalian bersekongkol mau menodai aku? Iya? Hah! Tega banget kalian! Apa segitu sakit hatinya aku tolak kalian, sampai kalian memperkosaku rame rame? Astaga! Aku nggak nyangka aku akan dinodai seperti ini!" cerca Julian tanpa ampun.
"Kita tidak semurahan itu, Jul!" bantah Kamila tidak terima.
__ADS_1
"Alaaahh! Mana ada maling yang mau ngaku. Ya Tuhan! Aku tahu aku salah sama kalian. Tapi tidak begini juga caranya. Sekarang aku ternoda, aku tidak suci lagi karena ulah kalian!" bentak Julian makin emosi.
...@@@@@@@...