PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kesalnya Tetangga


__ADS_3

"Rumahnya sendiri? Maksudnya, Mbak?"


"Ya Mas Julian memang beli rumah disini, Pak. Dua rumah ini memang milik Mas Julian."


"Apa! Dua rumah?" Pria bernama Samsul ternganga mendengarnya. Dipandanginya wajah pegawai perumahan dan Julian satu persatu. "Mbak, apa nggak takut rugi. Kalau Julian nggak bisa ngangsur gimana? Mungkin satu atau dua bulan Julian masih bisa mengangsurnya, tapi bulan berikutnya gimana?"


Julian dan sang pegawai langsung saling pandang. Namun hal itu disalah artikan oleh Samsul. Pria itu berpikir kalau ucapannya pasti benar. Senyum sinis Samsul kembali terkembang.


"Mas Julian emang tidak mengangsur, Mas, tapi dua rumah itu sudah dibayar lunas."


"Apa!" Samsul semakin syok mendengarnya. "Lunas? Nggak mungkin?"


"Tidak, Pak Samsul. Dua rumah ini memang dibayar lunas. Malah Mas Julian baru saja beli satu toko yang ada di depan perumhan ini."


Makin terngangalah mulut Samsul mendengarnya. Wajahnya merah menahan malu. Tapi sepertinya dia gengsi untuk mengakui rasa malu dan bersalahnya. Wajahnya kembali menunjukkan sikap sinis. Jelas sekali kalau dia tidak merasa salah.


"Kamu ngepet ya, Jul? Astaga! Segitunya kamu, Jul. Hanya karena pengin kaya? Hih! Syirik tahu, Jul," pikiran negatif Samsul langsung terlontar dalam bentuk kata kata hinaan yang lainnya.


"Samsul ... Samsul, segitunya kamu fitnah orang," suara Mas Bari yang menjadi tukang bangunan tiba tiba menimpali. "Kamu itu kalau mau ngomong ya ngaca dulu. Kayak aku nggak tahu orang tuamu aja. Ingat, Sul. Diatas langit masih ada langit. Jangan sombong."


Samsul sontak terperangah. Dia pun jadi salah tingkah sendiri. Biar bagaimanapun Samsul tahu siapa Mas Bari. Daripada tukang bangunan itu membuka aib orang tuanya, Samsul memilih langsung pergi dengan segala rasa malu dan kesal.

__ADS_1


"Emang Mas Bari tahu kalau keluarga Mas Samsul pakai pesugihan?" tanya Julian begitu Samsul sudah tak terlihat wujudnya.


"Kan dulu yang ngantar ke tempat mencari pesugihan, Pakde aku, Jul. Ya wajarlah aku tahu," jawab Bari sembari mencampur semen, pasir dan air.


"Wah ngeri juga ya," balas Julian terperangah.


"Nah kamu sendiri dapat uang darimana Jul?"


"Aku sendiri juga nggak tahu, Mas. Ini kan hadiah. Aku aja bingung, kok bisa ada yang ngasih hadiah rumah sama aku," jawab Julian sembari duduk si teras rumahnya.


"Apa mungkin dari Ayah kamu?" terka Mas Bari.


"Ya udah, dinikmati aja. Yang penting kan kamu nggak pelihara pesugihan."


"Hahaha ... iya, Mas."


Sementara Julian masih ngobrol bersama tukang, sang pegawai memilih kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Samsul, dia malah meluapkan emosi di rumahnya. Alih alih merasa malu, Samsul malah seperti tidak terima dengan keadaan Julian yang lebih kaya dari dirinya.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kok marah marah nggak jelas gitu?" tanya istri Samsul yang baru saja selesai masak.


"Tuh si Julian, belagu banget, mentang mentang mampu beli rumah dua, sombongnya selangit," sungut Samsul.

__ADS_1


"Apa? Beli dua rumah?" tanya si Istri dengan tatapan tak percaya. "Kok bisa beli dua rumah? Uang darimana?"


"Mana aku tahu, ngepet kali, mana bergaya pake bayar kontan lagi," dumel Samsul sudah seperti mulut wanita.


"Hah! Dua rumah di bayar kontan? Nggak salah? Kaya banget pasti ya? Wahh!"


Mendengar keterkejutan yang ditunjukkan istrinya, malah membuat Samsul merasa semakin kesal. "Hah, heh, hah, heh! Kayak senang banget ada orang yang lebih dari kita."


Si istri tertegun mendengar tuduhan suaminya, tapi tak lama kemudian senyum wanita itu terkembang. "Justru ini kesempatan bagus loh, Mas, buat kita."


Kening Samsul sontak mengernyit mendengar perkataan istrinya. "Kesempatan bagus? Kesempatan Bagus apa?"


Sang istri tersenyum penuh arti, lalu dia duduk di kursi yang lebih dekat dengan suaminya. "Kalau memang Julian kaya raya, kenapa kita tidak jodohkan saja dia dengan adik Kamu si Mirna. Kan satu level tuh!"


"Astaga! Si Mirna mana mungkin mau. Lagian kan Julian sudah punya tiga istri," Samsul merasa keberatan.


"Ya ampun, Mas. Julian kan menikah karena keadaan, bukan karena cinta. Aku sih ngerasa Julian nggak suka dengan pernikahan dadakan itu. Aku yakin sebentar lagi Julian pasti akan menceraikan istri istrinya. Maka itu agar Julian cepat menceraikan istrinya, kita cepat cepat mendekatkan Mirna dengan Julian agar saling jatuh cinta. Gimana? Aku yakin Julian bakalan suka sama Mirna. Kan sama sama orany kaya."


Kening Samsul sontak berkerut memikirkan ide dari sang istri dan menatapnya. "Baiklah, kita coba."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2