PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Pria Tua Bergosip


__ADS_3

Pada suatu siang, di sebuah kampung, tepatnya di dalam salah satu rumah penduduk. Nampak dua orang pria sedang duduk bersama. Wajah kedua pria itu nampak tegang. Sepertinya, mereka sedang terlibat pembicaraan yang sangat serius.


"Gimana, Rey. Apa yang harus kita lakukan? Aku nggak mau berakhir di penjara?" rengek salah satu pria yang akrab dipanggil Lehan.


"Ya sama, emangnya aku juga mau di penjara?" sungut Reynan sedikit emosi.


"Coba kalau kamu nggak merekam perbuatan kita, kita nggak mungkin akan ketahuan. Kamu nggak nurut saran aku, jadinya begini."


"Kamu nyalahin aku!" seru Reynan tak terima. "Bukankah kamu juga setuju. Kenapa kamu malah nyalahin aku? Kamu aja sangat menikmati permainannnya."


"Tapi kan harusnya kamu menyimpan videonya di tempat yang paling aman, Rey."


"Hei! Aku aja nggak bakalan tahu kalau akan ketahuan semudah itu. Kamu tahu kan selama ini nggak ada yang berani megang ponsel aku. Selain kamu, siapa lagi coba? Nggak ada!"


"Lalu kita harus bagaimana? Kita sekarang akan makin susah untuk ketemu loh, Rey. Ini aja aku bisa datang kesini mumpung Bapak sama Ibu lagi ada acara."


"Ya sama. Yang bikin aku nggak nyangka itu korban kita yang terakhir. Sialan! Aku pikir dia beneran sedang mencari tempat kost. Eh malah cuma menjebak kita doang."


"Ah iya, jangan jangan cctv yang dia pasang masih ada di rumah ini, Rey?"


"Udah nggak ada, udah aku cek tadi."


Lehan nampak merasa lega. Kini keduanya terdiam dan hanyut dalam pikiran masing masing. Kedua pria itu masih tidak menyangka kalau sepak terjangnya bakal ketahuan gara gara berurusan dengan penjual batagor. Mereka tak habis pikir kalau orang yang mereka remehkan justru yang menyebabkan aib mereka terbongkar.


"Aku harus melakukan sesuatu sebelum Julian bertindak lebih jauh. Harus!"

__ADS_1


Sementara itu di siang yang sama, di sebuah restoran mewah.


"Ngapain orang miskin itu ada disini?"


"Siapa?"


"Itu Tuan, orang miskin tetangga saya. Aneh aja melihat dia berada di restoran mewah seperti ini. Kayak nggak pantas aja."


Alonso yang mendengar ucapan Rastam sebenarnya cukup geram juga. Dia tahu siapa orang yang dimaskud itu. Tapi untuk sementara Alonso hanya memilih diam dan bersikap biasa saja.


"Dia itu miskin, kerjaanya aja hanya jualan batagor, tapi gaya gayaan menikahi tiga wanita."


"Terus masalahnya dimana?" tanya Alonso masih bisa menahan amarahnya.


"Ya masalahnya, dia nggak sadar diri aja, Tuan. Bukankah orang miskin seharusnya tingkah lakunya sesuai dengan keadaannya. Saya aja yang terkenal sebagai orang kaya, cukup punya satu istri."


"Pak Suryo kenal juga sama dia?" tanya Alonso dengan sandiwaranya.


"Awalnya sih nggak kenal. Tapi sejak dia memfitnah anak saya, saya jadi kenal dengan dia. Saya sih yakin, orang miskin seperti dia yang dibutuhkan hanya uang saja. Semalam dia ngancam akan menempuh jalur hukum jika saya tidak mentrasnfer sejumlah uang," ucap Suryo berdusta.


"Emang apa yang dia lakukan dengan anak anda?"


"Dia menuduh anak saya itu menyimpang dan menjebaknya. Katanya dia memiliki bukti. Saya sih yakin kalau dia hanya untuk menjebak anak saya, Tuan," balas Suryo dengan sangat lancar.


"Pasti dia pusing dan sangat butuh uang, Yo," Rastam ikut menimpali. Sepertinya dia mendukung kebohongan Suryo tentang kasus yang menjerat anak arsitek tersebut. "Dia kan punya istri tiga, pasti pusing buat memenuhi gaya hidupnya yang sok kaya itu."

__ADS_1


"Sepertinya kalian sangat membenci anak itu?"


"Tentu, Tuan. Saya pribadi sangat membenci anak itu. Dia itu tidak sadar kalau dirinya hanya anak haram."


"Anak haram?"


"Iya, sejak kedatangannya di kampung saya, dia hanya datang bersama Ibu dan pamannya. Setiap ditanya suaminya mana, jawabannya sangat nggak jelas. Kalau bukan anak haram, apa lagi."


Sungguh Alonso sangat ingin meluapkan amarahnya saat itu juga. Darahnya mendidih mendengar anaknya dihina sedemikian sadisnya. Dengan sekuat tenaga, Alonso menahan emosinya. Tapi Alonso sudah mengambil keputusan. Dia pun menoleh ke arah orang yang dihina oleh dua pria di hadapannya.


"Julian!" seru Alonso. Tindakan pria itu tentu saja mengejutkan dua orang yang sedari tadi menghina anaknya. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tuan, Tuan Alonso mengenal anak itu?" tanya Rastam dengan kening yang berkerut.


Alonso hanya tersenyum santai. Julian yang sedang menikmati makanan sendirian pun beranjak dan mendekat ke arah meja dimana sang Ayah berada. "Ada apa, Yah?"


"Duduklah di sini sama Ayah. Dua orang ini ingin mengenal keluarga ayah."


Deg!


"Ayah!" pekik Rastam dan Suryo secara bersamaan.


"Ya, dia adalah anak saya. Anak kandung saya. Perkenalkan, Julian Alonson Darwin. Namanya sama kan, seperti nama saya? Alonso Darwin."


Deg!

__ADS_1


Wajah kedua pria itu langsung memucat.


...@@@@@...


__ADS_2