PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Jatah Istri Ketiga


__ADS_3

"Astaga! Malah fokus nonton film dewasa!"


"Hehehe ..." Julian cengengesan. "Buat persiapan malam pertama kita sebentar lagi, Dek."


"Apa! Sebentar lagi!" pekik Namira dengan tatapan tak percaya kepada sang suami yang masih senyum senyum. "Mas Jul lagi nggak bercanda kan?"


Julian sontak berpaling dari layar ponselnya. Dibalasnya tatapan sang istri yang penuh tanya dan rasa ragu. "Kalau aku serius, gimana? Apa kamu siap?"


Ditatap secara lekat oleh sang suami dengan penuh keseriusan, membuat Namira salah tingkah dan langsung memalingkan pandangannya ke arah lain karena malu. Julian mengulum senyum dan menggeser badannya mendekat ke arah Namira. "Kita nonton bareng ya?"


Namira menatap wajah sang sauami yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya. "Mas Jul serius sudah siap melakukannya?"


Julian kembali tersenyum. "Tergantung kamu, Dek. Kalau kamu belum siap ya nggak apa apa, Sayang."


"Sayang?" tanya Namira kembali merasa tekejut dengan panggilan baru dari suaminya. "Panggilannya berubah cepat banget? Apa karena lagi ada maunya?"


"Hehehehe ..." Julian malah terkekeh. "Ya nggak gitu juga. Lagian sama istri sendiri, sah sah saja kan?"


Namira tersenyum lalu merebahkan kepalanya di dada sang suami. Namun seketika Namira mengingat sesuatu hingga dia kembali menatap wajah suaminya. "Jangan jangan Mas Jul sudah malam pertama dengan Safira dan Kamila? Hayo ngaku?" Julian langsung tersenyum lebar sebagai jawaban dari pertanyaan sang istri. "Ah curang! Kenapa tadi siang nggak pada cerita?"

__ADS_1


Julian kembali terkekeh melihat sang istri cemberut dan merebahkan kepala di dadanya. Tangan Julan mengusap lembut kepala sang istri. "Ya nggak perlu diceritain, Sayang. Kan kalian juga akan dapat jatah yang sama. Lagian apa manfaatnya coba berhubungan badan diceritain?"


"Ya kan aku pengin tahu, pertama dimasukin itu sakit banget apa enggak? Sakitnya lama apa cuma sebentar? Itu aja."


"Aduh, sayang. Daripada tanya tanya tapi tetap penasaran, bukankah lebih baik merasakannya langsung, kan sudah punya suami. Tinggal minta, masa suamimu akan nolak, nggak akan."


"Dih! Mentang mentang udah sembuh sekarang udah berani ya ngomongnya. Lebih nakal."


"Hahaha ... kan kalian yang ngajarin. Kalau nggak ada kalian, mana mungkin aku bisa sampai sejauh ini?"


"Ntar mentang mentang udah sembuh, digoda cewek cantik langsung luluh, awas loh!"


Namira hanya diam, tapi saat sang suami menghadapkan layar ponsel ke wajahnya, dia tidak menolak. Kini mata suami istri itu menatap layar ponsel yang sedang mempertonton adegan inti hubungan pria dan wanita.


Di menit menit awal nampak biasa saja, tapi di menit berikutnya, Namira sudah mulai merasa resah. Ada yang berkedut dan mengencang pada bagian intinya. Julian juga sudah dilanda gerah. Namun karena dia sudah sedikit berpengalaman dengan dua istri yang lain, kali ini Julian terlihat lebih tenang dalam mengelola hasratnya.


Julian menggeser tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah namira. Tatapan wanita itu sudah sayu. Dengan lembut Julian mengecup kening Namira dengan segala perasaan yang ada. Dari kening, bibir Julian merambat ke wajah yang lainnya hingga berakhir di bibir Namira. Perang bibir pun terjadi dan semakin kesini semakin panas.


Bukan hanya bibir yang bekerja, tangan Julian juga sudah aktif melaksanakan tugasnya. Tangan kekar itu mulai menjelajah ke semua bagian tubuh sang istri. Bahkan tangan Julian sudah melucuti pakaian Namira. Julian pun langsung membuka kaosnya dan itu cukup membuat mata Namira terpukau.

__ADS_1


"Badan kamu bagus banget, Mas," puji Namira.


"Pandangi saja sepuasmu, Sayang. Pegang dan raba juga boleh. Ini sudah menjadi hakmu."


Namira tersenyum kecil, tangannya meraba tubuh lelaki yang mengungkungnya. Dimata wanita itu, tubuh sang suami terlihat sempurna. Wajahnya yang tampan dan badan yang kekar, membuat Julian begitu terasa istimewa. Julian lantas kembali menyerang Namira dengan bibirnya.


Sekarang bibir Julian bukan hanya menyerang wajah Namira, tapi juga bibir itu mulai menjelajah ke bagian tubuh yang lainnya. Tangan Julian juga melucuti kain yang masih menempel pada benda inti tubuh sang istri.


"Kenapa ditutupin, Sayang?" tanya Julian lembut saat dua tangan Namira menutupi dada dan juga bagian bawah perutnya.


"Malu, Mas," jawab Namira dengan wajah memerah.


"Nggak usah malu, kan kita udah halal. Udah nggak ada batasan," balas Julian sambil menyingkirkan tangan yang berada di dada sang istri.


Namira nampak pasrah. Apa lagi saat telapak tangan Julian mulai menggenggam bukit kembar miliknya, tubuh Namira sempat menegang. Namun saat mulut Julian mulai menikmati pucuk bukit kembar dan juga memijatnya pelan, Namira mulai merasakan nikmat yang luar biasa. Apa lagi saat tangan Julian juga mulai memijat lubang bawah perut Namira dengan lembut, wanita itu benar benar merasakan sensasi yang berbeda.


"Aaaakhh ..."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2