
"Akhh ... akh ... akh ..."
Dua tubuh yang sedang bersatu, sama sama menegang dan bergetar hebat. Keduanya serentak mengejang bersama keluarnya benih cinta dan berbaur di dalam lubang nikmat yang masih setia menerima sodokan benda kekar dan berurat milik pria diatasnya.
Dua tubuh yang bercucuran keringat itu saling menempel dalam derunya nafas yang melaju kencang. Batang itu masih tertancap dalam lubang nikmat menunggu benih yang keluar hingga tetesan terakhir. Sang wanita tergolek lemah dengan mata terpejam dan rasa bahagia karena bisa melayani sang suami dengan penuh rasa cinta.
Begitu batang terlepas dari dalam lubang dengan sendirinya, sang suami memilih menggeser tubuhnya dan telentang di sebelah sang istri dengan deru nafas yang berangsur normal. Dia menoleh dan menatap wajah istrinya yang sedang memejamkan mata, lalu senyumnya tersungging kemudian kembali menatap langit langit kamar.
Mata sang istri terbuka lalu tubuhnya bergeser dan menaruh kepalanya di dada sang suami serta memeluknya dengan erat. Sang suami tersenyum, kepala sang istri dia usap dengan lembut.
"Mas," Sang istri mulai membuka obrolan begitu keadaan tubuh mereka sudah lebih tenang dan nafas juga berhembus normal.
"Hum? Apa, Sayang?"
"Besok kira kira, aku ikut naik panggung nggak?"
"Kenapa, Sayang?"
"Ya biar semua pada tahu kalau Mas Jul itu sudah punya istri."
__ADS_1
Julian sontak tersenyum. "Perasaan semua sudah tahu kalau Mas Jul sudah punya istri loh, Dek. Bukankah kita pernah viral?"
"Tapi kan kondisinya beda, Mas. Kalau dulu kita dapat hinaan dan makian. Coba kalau besok, apa mereka masih bisa menghina kita?"
Julian tercenung mendengar ucapan sang istri. Apa yang dikatakan Kamila memang ada benarnya. Gara gara perbuatan Lehan dan Reynan, ketiga istrinya pernah menjalani kehidupan yang berat. Di tambah lagi Julian juga pernah ikut andil dalam hinaan itu. Kadang kalau Julian teringat hal itu, dirinya juga masih menyesal atas perbuatannya.
"Apa dulu, kalian pernah merasa menyesal menikah dengan Mas, Dek? Biar bagaimanapun sumber hinaan yang kalian dapatkan, berasal dari Mas juga?"
Kamila yang merasa nyaman berada di dada bidang sang suami lantas tersenyum. "Ya pastilah, Mas. Kalau dipikir pikir, ngapain kita yang harus berkorban banyak. Udah suami membenci kita, harus berbagi suami, ditambah hinaan orang orang yang hanya memandang kalau kami lah yang salah. Berat banget. Terus Mas Jul sendiri katanya nggak bakalan menceraikan kita, yanga ada jadi terlihat makin miris, bukan?"
Senyum Julian langsung terkembang dan tangannya masih setia mengusap lembut kepala sang istri. "Alasan Mas tidak ingin bercerai ya, kalian tahu sendiri. Mas hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup. Beruntungnya, Mas menikah langsung dengan tiga cewek, jadi nggak ada alasan seandainya ada wanita lain yang ingin masuk lagi ke dalam hati dan kehidupan Mas."
"Baguslah. Anggap aja saat tahu Mas adalah anak sultan, itu adalah bonus bagi kesabaran kami menjadi istri Mas Jul. Nggak apa apa kita berbagi suami, yang penting hartanya banyak. Mana Mas Jul anak satu satunya lagi. Lengkap keberuntungan kita."
"Hahaha ... wajarlah, Mas, kalau wanita matre. Tapi tergantung kadar kematreannya gimana. Mas lihat sendiri kan, cara kami mengelola uang dari Mas Jul gimana?"
"Iya, tahu. Padahal selama kita nikah, Mas belum ngasih nafkah ya? Selama ini kita menggunakan uang dari Ayah."
"Hhehehe ... ya nggak apa apa. Yang penting kan ada uang. Nanti kalau Mas udah jadi presdir juga, kita bakalan menikmati uang Mas Jul."
__ADS_1
"Hahaha ... bisa aja kamu, Sayang. Mas pasti besok bakalan grogi banget pas naik panggung."
"Pasti besok juga banyak yang mendadak jantungan, Mas."
Julian hanya tersenyum simpul. Untuk sejenak hening melanda mereka. Tidak ada pembahasan lagi yang mereka bicarakan. Suami istri tersebut hanyut dalam pikiran masing masing. Sampai beberapa saat kemudian, Kamila tiba tiba menggeser tubuhnya ke bawah dan memposisi kan wajahnya di hadapan batang sang suami. Julian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan diapun pasrah saat batang kotornya mulai dimainkan sang istri dengan mulutnya.
Hingga waktu terus bergulir, kini hari berganti lagi. Seperti biasa, sembari menunggu para istri menyelesaikan sarapannya, Julian duduk manis di teras rumah. Bermain game dan ditemani dengan segelas kopi menjadi rutinitas pagi Julian saat menunggu sang istri selesai masak.
Sendirian aja, Jul?" suara sapaan seseorang, cukup membuat Julian kaget hingga dia harus mengalihkan pandangannya. Keningnya sempat berkerut saat dia tahu orang yang menyapanya. Julian semakin heran saat orang itu malah mendekat dan duduk di kursi bersamanya.
"Ada apa, Mas? Mas Samsul ada perlu sama saya?"
"Nggak. Cuma pengin ngobrol aja. Kita kan tetanggaan, Jul. Biar makin akrab gitu."
Meski heran, Julian hanya menganggukan kepalanya saja beberapa kali. Julian merasa ada yang aneh saja.
"Jul."
"Hum?"
__ADS_1
"Kamu nggak ada niat buat nambah istri?"
...@@@@@@...