
"Apa suamimu memang sebaik itu, Fir?"
Safira menoleh ke arah wanita yang telah melahirkannya sembari melempar senyum. Setelah mennyaksikan kepergian sang suami dengan adiknya, wanita itu masuk ke dalam dan duduk bersama Abah dan Uminya.
"Ya, itu yang Fira rasakan, Mi. Sifat baiknya ketutup sama sifat dinginnya," balas Safira menatap Uminya.
"Tapi kok banyak yang mengatakan kalau Julian sombong dan orangnya pilih pilih?"
"Umi lebih percaya orang lain atau anak umi sendiri yang menjadi istrinya?" Abah turut mengeluarkan suaranya. Safira tersenyum, tapi Umi malah mendengus sebal.
"Ya Umi kan hanya memastikan, Bah. Nggak salah kan?" Umi membela diri.
"Emang sedari tadi menantu datang, Umi tidak memastikan?" Abah terdengar tak mau kalah.
"Ya sudah, tapi apa salahnya tanya sama anak sendiri? Menurut Abah, Umi salah gitu?" sungut Umi.
Abah sontak beristighfar. "Yayaya, terserah Umi aja deh. Biar bagaimanapun, wanita memang selalu benar."
Safira malah tersenyum lebar melihat perdebatan orang tuanya. "Ya ampun, Abah, Umi! Kenapa Umi sama Abah bertengkar? Hahaha ..."
"Ya ini Abah kamu,seneng banget ngeledekin Umi," adu Umi dengan wajah kesal. Sedangkan Abah hanya geleng geleng kepala dengan memasang wajah heran, tanpa berniat membalas ucapan istrinya. Kalau diteruskan, nanti malah ujung ujungnya ribut.
"Mas Julian baik kok, Mi. Wajar kalau orang lain berpikiran buruk sama dia. Kan mereka nggak kenal suamiku. Mereka hanya dengar dari katanya, bukan dari nyatanya," terang Safira. Jawaban itu seolah mengisyaratkan kalau si Abah menang, yang ditandai dengan si Abah yang tersenyum lebar. Sedangkan Umi hanya melirik sinis ke arah Abah sembari mencebikan bibirnya.
__ADS_1
"Tapi kamu bahagai kan, Nak? Meski pernikahan kamu dipoligami?" kini giliran Abah yang bertanya.
"Ya seperti yang Abah lihat, apa aku kelihatan susah?" balas Safira dengan lembut dan tenang. "Bukankah yang lebih tahu alasannya kenapa kita dinikahkan juga ada campur tangan Abah?"
Abah terpaku mendengar baris kata terakhir. Ditatapnya lekat lekat wajah anak gadisnya. "Apa kamu kecewa dengan keputusan Abah?"
"Ya gimana ya, Bah. Kecewa ya udah pasti. Wanita mana sih yang ingin dipoligami. Tapi semua udah terjadi ya gimana lagi," balas Safira dengan tenang. Padahal suasana hatinya mendadak bergemuruh.
"Maafkan Abah. Abah hanya ingin menyelamatkan nama kamu saja, Nak," ucap Abah penuh sesal.
"Nggak apa apa, Abah. Mungkin ini sudah jalan takdir Fira."
Rasa haru sontak menyelimuti keluarga sederhana itu. Tak lama berselang, Safira memilih topik lain sebagai bahan obrolan agar suasana canggung dan haru teralihkan.
Hingga beberapa waktu kemudian, Julian pulang bersama adik ipar yang wajahnya sangat sumringah karena dibelikan ponsel baru sesuai selera dia. Bocah remaja kelas dua sekolah menengah pertama itu, terlihat sangat bahagia dengan ponsel pertama yang dia punya.
"Siap, Bos," balas Rasyid, dan dia langsung meluncur menuju kamarnya.
"Kalau Mas Jul mau mandi, handuk dan baju gantinya sudah aku siapin di kamar," ucap Safira. Julian hanya mengangguk. Dia masih terasa canggung terhadap istrinya karena kejadian tadi di kamar. Julian sontak pamit ke mertuanya untuk pergi mandi dan sebagainya.
Waktu terus melaju terasa sangat cepat. Saat ini malam telah hadir menyapa makhluk bumi. Setelah selesai makan malam dan sebagainya, kini Julian dan Safira kembali berada di dalam kamar yang sama. Lagi lagi hanya rasa canggung yang menyelimuti mereka.
"Mas," panggil Safira pelan.
__ADS_1
"Hum? Iya? Ada apa?" karena terlalu gugup, secara spontan kata kata itu keluar dari mulut Julian.
"Kenapa duduk disitu? Mas Julian nggak mau naik ke kasur?"
Julian sontak tersenyum kikuk. Bahkan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Secara perlahan, dia menggeser pantatnya dari atas karpet depan lemari naik ke atas kasur dan sekarang untuk pertama kalinya Julian duduk bersebelahan dengan istrinya. Untuk sesaat suasana kamar menjadi hening.
"Tadi siang apa yang Mas jul pikirkan?" tanya Safira beberaapa saat kemudian guna memecah keheningan.
"Aku? Memikirkan apa? Aku tidak memikirkan apa apa," balas Julian dengan tatapan mata lurus ke bawah.
Kening Safira berkerut sembari menoleh ke arah suaminya. "Yakin?" Julian mengangguk. "Tapi kok tiba tiba menciumku? Apa Mas Jul sedang mikirin ..."
"Tidak!" bantah Julian sembari menatap istrinya. "Aku tidak mikirin cara buat anak, tidak!"
Kening Safira semakin berkerut mendengar jawaban Julian, namun tak lama kemudian dia terbahak. "Hahaha ... siapa yang bilang kamu sedang mikirin cara membuat anak?"
Julian terkesiap. Dia segera kembali memunduk dengan wajah yang sangat malu.
"Mas,"
"Hum?"
"Coba kamu cium aku lagi?"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@@...