
Akhirnya, Julian dan Kamila pulang sudah sampai di rumah lama Julian. Disana kedatangan mereka disambut oleh Namira dan Safira yang sedang bermain dengan si kembar. Kedua wanita itu sedang mengajari si kembar main engklek. Permainan jadul yang sudah tersisihkan akibat banyaknya permainan yang lebih canggih lewat benda pipih bernama ponsel.
"Wih! Si dana udah bisa, hebat!" puji Julian saat anak perempuan berusia lima tahun itu beraksi di depan matanya.
"Aku juga udah bisa, Mas Jul!" seru Dini tak mau kalah.
"Coba, Mas Jul pengin lihat," tantang Julian sembari turun dari motor dan menghampiri si kembar.
"Oke!" dengan semangat, Dini langsung menunjukkan keahliannya. Meski tersengal sengal dan agak sempoyongan, bocah itu tak mau kalah dari kembarannya yang sudah lebih dulu memperlihatkan kepandaiannya.
"Bisa kan?" ucap anak itu dengan nafas tersengal sengal.
"Hahaha ... hebat!" sorak Julian sembari menarik tubuh bocah itu ke dalam pelukannya.
"Kalau hebat, berarti aku dibeliin eskrim dong, Mas," pinta Dini dengan wajah menuntut.
"loh, kok ujung ujungnya Mas Jul ditodong, ampun deh."
"Dana juga!" teriak bocah yang satunya tak mau kalah.
"Iya, iya. Ya udah kita ke warung, yuk," ajak Julian sembari menggandeng si kembar menuju warung terdekat. Sedangkan ketiga istrinya hanya saling melempar senyum sembari menatap kehangatan Julian terhadap dua adik sepupunya.
__ADS_1
"Julian kelak sama anaknya lembut banget kayak gitu nggak yah?" gumam Safira dengan mata yang terus memandang suaminya hingga tubuh sang suami menghilang. Sedangkan Kamila dan Namira langsung menoleh dan menatap aneh kepada Safira.
"Ya pasti lah, orang anaknya sendiri. Gimana sih?" sungut Namira.
"Tapi entah kapan dia akan memiliki anak, deket sama istri aja dia gemetaran gitu," cibir Safira sembari bangkit dari tempatnya jongkok dan berpindah menuju lapak milik Julian.
"Makanya, kita harus bisa membantu menyembuhkan suami kita," ucap Namira sembari mengikuti apa yang dilakukan Safia. Begitu juga dengan Kamila yang senyum senyum mengingat peristiwa semalam.
"Kamu kenapa? Kok senyum senyum?" ucap Namira lagi yang tak sengaja melihat gelagat aneh Kamila.
"Sepertinya Mas Julian sebentar lagi bakalan sembuh," ucap Kamila dengan sangat yakin, membuat dua istri Julian yang lain menatapnya dengan penuh tanda tanya. Kamila menoleh dan senyumnya langsung memudar. "Kenapa kalian menatapnya gitu amat? Hii ... takut."
"Hmmm ... gimana?" Kamila malah sengaja meledek mereka hingga Namira merasa kesal dan hendak melayangkan cubitan dipinggangnya. "Iya, iya, iya! Ih galak amat sih!"
"Ya udah cepet ceritain!" titah Namira. Sedangkan Safira hanya senyum senyum gemas melihat tingkah kedua wanita itu.
"Jadi gini ..." Kamila mulai bercerita tentang kejadian apa saja yang mereka alami semalam.
"Hahaha ..." tawa Safira dan Namira serentak menggema dengan keras sampai Julian yang baru kembali dari warung mengerutkan keningnya melihat ketiga istrinya yang terbahak tanpa melihat sekitarnya.
"Terus nasib ranjang kamu gimana?" tanya Namira dengan suara kekehan yang belum reda. Mendengar kata ranjang disebut, Julian jadi mengetahui apa yang sedang diobrolkan ketiga istrinya. Julian pun memasuki rumah sembari senyum senyum.
__ADS_1
"Ya dibuanglah, Gila! Malu banget kita," ucap Kamila.
"Hahaaha ... lagian terlalu ganas sih. Terus, dilanjutin nggak setelah ranjangnya dibuang?"
"Enggaklah, udah malam banget. Lagian udah malu juga. Mungkin kalau ranjangku nggak ambruk, aku sudsah jebol semalam."
"Hahaha ... tapi ya bagus sih. Berarti suami kita ada kemungkinan untuk sembuh total dong ya?"
"Udah pasti itu. Tinggal usaha kita dan Julian aja gimana. Percuma kan, kalau kitanya usaha terus Juliannya nggak ikut usaha. Sama aja bohong."
"Iya, harusnya Julian udah bisa inisatif tuh. Dari kejadian bersama kita, harusnya dia tahu, tindakan apa yang harus dia ambil."
"Eh tapi, jika Julian nanti sembuh sama kita, terus dia dideketin cewek lain gimana? Secara Julian kan tampan, apa lagi kalau semua tahu Julian banyak duit. Pasti banyak cewek yang menggoda nantinya."
"Benar juga. Aku juga takutnya gitu. Julian susahnya sama kita, nanti giliran dia senang sama orang lain gimana? Apa lagi kita nikah tanpa cinta."
"Iya juga ya? Untung semalam aku nggak jadi menyerahkan mahkotaku. Aku takut, setelah kita menyerahkan segalanya pada Julian, dia malah membuang kita."
Tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan sedang duduk di balik tembok tepat di belakang mereka. Sembari menikmati eskrim coklat, Julian tersenyum dan berkata dalam hati. "Sepertinya aku memang harus berjuang agar kalian tidak ragu. Baiklah. Aku pasti bisa!"
...@@@@@...
__ADS_1