PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Masih Tak Tahu Malu


__ADS_3

Kata orang, semakin usia kita bertambah, waktu yang terus bergulir akan terasa cepat berlalu. Mungkin hal itu ada benarnya. Waktu yang terus bergerak maju, tanpa ada yang bisa menghentikannya kecuali sang pencipta, saat ini sang waktu telah menjadikan hari berganti lagi.


Meskipun hari telah berganti, kegiatan yang sama masih dilakukan sebagian besar manusia dimanapun berada. Seperti halnya yang dilakukan seorang pria beristri tiga. Sejak menikah dan pindah rumah, kegiatan pria itu selalu sama yaitu menikmati pagi dengan segelas kopi dan bermain game.


Seperti pagi ini, pria bernama Julian, sedang duduk manis di terasnya dengan mata fokus menatap layar ponsel. Untuk saat ini, memang hanya itu yang bisa dia lakukan sambil menunggu para istri selesai menyiapkan menu sarapannya.


Di saat Julian sedang asyik dengan ponselnya, sebuah suara tiba tiba terdengar menyapanya dan mengalihkan pandangan mata Julian dari layar ponsel. Kening Julian sempat berkerut setelah tahu siapa yang menyapanya di pagi seperti ini.


Dua orang yang terdiri ayah dan anak, yang selalu memusuhi dirinya sejak beberapa waktu lalu, kini datang tanpa rasa berdosa dan bersikap hangat seakan tidak pernah terjadi apa apa diantara mereka. Entah drama apa lagi yang akan ternjadi di pagi ini, yang jelas Julian merasakan sesuatu yang tidak enak dengan sikap dua orang tetangganya tersebut.


"Ada apa, Pak, pagi pagi Pak Rastam sudah datang kemari?" tanya Julian langsung keintinya. Karena begitu datang, Pak Rastam beberapa kali melempat pertanyaan yang tidak penting. Sedangkan anak gadisnya lebih banyak diam tapi selalu tersenyum pada Julian, hingga menghadirkan rasa jengah dan muak pada diri Julian.


"Hehehe ... gini, Jul, saya ke sini cuma mau menagih apa yang pernah kamu katakan pada Mirna," ucapan Pak Rastam sontak membuat kening Julian berkerut.


"Menagih ucapan yang pernah aku katakan pada Mirna? Maksudnya?"


"Ya, kata Mirna, kamu itu dari dulu cinta sama Mirna dan maksain Mirna agar mau nikah sama kamu. Aku datang kesini ya untuk nagih hal itu."


Mata Julian sontak membulat begitu mendengar ucapan Rastam. Matanya menatap dua wajah yang menunjukkan ekpresi berbeda. Rastam dengan senyum tipisnya dan Mirna yang tiba tiba menunduk dengan wajah paniknya.

__ADS_1


"Hahaha ... saya berkata seperti itu? Kapan?" Julian sontak terbahak dengan keras. Hingga suaranya terdengar sampai ke dalam ke telinga istrinya.


"Mungkin kamu lupa kapan waktunya, yang jelas saya minta pertanggung jawaban ucapan kamu, Jul. Nikahilah anak saya. Nggak apa apa jika Mirna jadi istri ke empat."


"Hahaha ... tanggung jawab? Tanggung jawab apaan? Lagian aku nggak minat nikah lagi, hahaha ..."


"Ya tanggung jawab atas ucapan kamu lah, Jul. Kamu kan laki laki, kamu harus buktiin ucapan kamu," Pak Rastam sedikit menaikkan suaranya. Dia sebenarnya geram karena Julian menertawakannya.


"Hahaha ...tanggung jawab? Baiklah," ucapan Julian sontak membuat mata Rastam berbinara dan Mirna mendongakkan kepalanya sembari tersenyum lebar.


"Beneran, Jul? Kapan? Secepatnya loh,"


Deg!


Kini gantian mata Rastam dan Mirna yang membulat. Senyum mereka langsung surut seketika dan wajahnya berubah menjadi tegang.


"Maksud kamu, Jul?"


"Ya, seperti yang Pak Rastam dengar, aku akan membuktikan ucapan Mirna di pengadilan nanti. Asal Bapak tahu ayah saya sudah melaporkan kalian, karena kalian kemarin tidak ada itikad baik dan tidak datang ke acara peresmian. Jadi tunggu saja para polisi datang ke rumah Pak Rastam."

__ADS_1


Mata kedua tamu Julian kembali membelalak. Berita itu sangat mengejutkan bagi mereka berdua. Wajah Rastam dan Mirna langsung panik. Sedangkan Julian langsung saja beranjak masuk ke dalam rumah dan tidak menanggapi rengekan tamunya. Bahkan Julian langsung menutup pintu agar Rastam segera pergi dari rumahnya.


Nyatanya, tak lama setelah Julian masuk, Rastam dan Mirna langsung pergi dengan amarah dan makian yang terlontar untuk Julian. Rastam meluapkan emosinya di rumah anak pertamanya yang letaknya tidak jauh dari rumah Julian.


"Dasar bocah tidak sopan! Kurang ajar! Mentang mentang kaya, ninggalin tamunya begitu saja!" oceh Rastam dengan segala amarah yang membakar dadanya.


"Ada apa sih, Pak? Kok datang malah marah marah?" tanya Widia begitu dia keluar dari dapur, sedangkan Samsul baru saja keluar dari kamarnya dengan seorang anak kecil yang hendak berangkat sekolah.


"Si Julian, siapa lagi. Orang Bapak sama Mirna datang baik baik malah dia seenaknya ninggalin Bapak di teras rumah."


"Loh, emang Bapak sama Mirna mau ngapain pagi pagi datang ke rumah Julian?" tanya Samsul.


Dengan terus menunjukkan amarahnya, Rastam menceritakan tujuannya datang ke rumah ke Julian di pagi itu. Tentu saja Samsul dan Widia cukup terkejut mendengarnya.


"Ya ampun, Pak. Itu sih akal akalannya Mirna aja. Julian itu tidak pernah bilang cinta sama Mirna ataupun maksain nikah."


"Apa!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2