PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Malam Yang Menggelora


__ADS_3

"Aku ..."


"Diamlah! Nikmati aja apa yang terjadi. Lawan semua yang membuat gelisah."


Julian tertegun mendengar nasehat Kamila. Dengan segenap kekuatan yang ada, dia pun mencoba melawan semua rasa paniknya dengan mata yang terpejam. Dia melawan segala pikiran yang membuatnya panik dengan membayangkan hal yang indah indah seperti nasehat istrinya kemarin. Walaupun sulit nyatanya Julian sedikit bisa mengatasi kepanikan dalam dirinya.


Julian perlahan membuka matanya lalu dia menatap tangan yang melingkar di pinggangnya. Senyum Julian terkembang. Dipeluk oleh wanita dari belakang, nyatanya memang menyenangkan. Julian pun merasakan hal itu. Kamila yang terpejam di punggung Julian, merasakan suaminya sudah lebih tenang. Perlahan dia juga membuka matanya.


"Gimana, Mas? Udah merasa lebih tenang?" tanya Kamila, Julian mengangguk pelan. "Ya sudah, sekarang kita berbaring ya?" Julian kembali mengangguk pelan. Rasa canggung masih bersemayam dalam hatinya.


Kamila tersenyum sembari melepas pelukannya. Wanita itu bergeser mundur agar sang suami bisa berbaring dengan mudah. Tak lama setelah itu Julian membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Kening Kamila berkerut begitu melihat posisi berbaring suami yang memunggunginya.


"Telentang dong, Mas! Masa miring gitu," kamila melayangkan protes. Julian hanya bisa tersenyum canggung, lalu dia menuruti perintah istrinya. Julian telentang dengan bola mata yang memandang ke sembarang arah karena rasa paniknya belum hilang sepenuhnya. Begitu Julian sudah telentang, Kamila tersenyum sembari menatap wajah suaminya yang masih ada rasa gugup.


"Kamu mau ngapain?" tanya Julian dengan wajah kembali terkejut saat menyaksikan Kamila meraih tangan kanan Julian dan membentangkannya ke samping, lalu Kamila merebahkan kepalanya di dada bidang pria yang sedang gugup saat ini.


"Kata orang, suami istri itu harusnya seperti ini, apa lagi pengantin baru. Harusnya bisa romantis," terang Kamila sembari meletakkan tangannya di perut sang suami.

__ADS_1


"Aku nggak bisa romantis ya?" tanya Julian agak terbata dengan senyum yang dipaksakan.


"Ya nggak apa apa. Kita bisa sedekat ini aja udah cukup bagus. Kamu ada kemajuan. Bisa ngontrol emosi kamu saat didekati wanita. Berarti, dulu dokter psikologi yang memeriksa kejiwaan kamu, salah memberi saran dong yah? Masa kamu di suruh menjauhi orang yang membuatmu panik."


"Kok kamu tahu, Dek? Ibu cerita sama kamu apa?" kini suara Julian sudah hampir lancar.


"Orang aku menantunya, ya wajarlah Ibu cerita sama aku. Coba dari dulu kamu mau melawan kelainanmu itu, Mas."


Julian terkekeh pelan. "Nggak kepikiran ke arah sana aku. Apalagi nggak ada yang bisa ngasih saran dan solusi kayak kalian. Ya wajar kan aku nggak ada kemajuan."


"Hmm ... berarti mulai sekarang kalau sedang menghadapi para istri, kamu coba bayangin yang indah indah aja, Mas. Bukankah berpelukan kayak gini itu menyenangkan?"


Kamila mendongak menatap wajah tampan suaminya dari sangat dekat. Meski masih ada sisa rasa gugup, Julian juga berusaha membalas tatapan Kamila hingga tatapan mata mereka terkunci. Selang beberapa detik kemudian, kepala Kamila bergerak maju.


Cup!


Bibir Kamila menempel pada bibir Julian sesaat lalu saling tatap kembali. Dada keduanya langsung bergemuruh, tanpa ada suara diantara mereka, empat mata itu saling menatap hampir tak berkedip. Seakan akan mata Julian dan mata Kamila sedang bermusyawah untuk pengambil keputusan, apa yang akan terjadi malam ini.

__ADS_1


Hingga Kamila kembali berinisatif menempelkan bibirnya pada bibir Julian. Kali ini cukup lama Kamila menempelkan bibirnya, sampai Julian terpancing untuk menggerakan bibirnya.


Selang beberapa detik, bibir keduanya saling terlepas dan mereka kembali saling pandang serta saling melempar senyum. Entah apa arti senyuman itu yang jelas dada mereka sangat bergemuruh. Ada gejolak yang tiba tiba hadir dan merayap di darah mereka hingga perang bibir terjadi berkali kali.


Hawa panas langsung menyerang tubuh suami istri itu, bisikan bisikan untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman seakan terus berbisik di telinga keduanya hingga perang bibir itupuan semakin memanas. Bahkan posisi mereka kini sudah berpindah dengan tubuh Julian diatas tubuh istrinya. Karena terlalu bersemangat berciuman, mereka dikejutkan dengan suara yang begitu keras.


Gubrak!


"Akhh!"


"Aduh!"


Suara Kamila dan Julian memekik bersamaan. Belum hilang rasa terkejut di wajah mereka, keduanya dikejutkan dengan suara teriakan dari luar kamar.


"Mila! Apa yang terjadi? Mil!" teriak Ibu mertua sembari menggedor pintu kamarnya.


"Ranjang Mila roboh, Bu!" Seru Mila dari dalam kamar.

__ADS_1


"Hah! pekik semua yang ada diluar. Namun sejenak kemudian, "Hahaha ..." suara tawa keluarga Mila menggema, sedangkan yang di dalam kamar cengar cengir menahan malu.


...@@@@@...


__ADS_2