
Sejak kepergian sang istri keluar kamar, senyum Julian terus terkembang dengan segala yang baru saja terjadi. Meski kejadian yang dia alami berlangsung sangat cepat, tapi rasanya tidak akan hilang begitu saja dari benak dan pikiran pemuda itu.
"Jadi seperti ini? Rasanya pipi di cium oleh wanita?" gumam Julian sembari mengusap pipi yang sudah ternoda oleh istrinya. Tidak ada rasa lain selain rasa senang dalam hatinya. Saat sedang asyik berkhayal. Julian melihat pintu kamar seperti ada yang membukanya. Julian menormalkan keadaan hatinya dan memejamkan mata dia kembali.
"Mas, Mas. Bangun, udah subuh," suara lembut Namira perlahan membuka mata Julian yang sedang pura pura tertidur. Julian benar bener berakting kalau dirinya memang baru saja bangun.
"Sudah subuh ya?" tanya Julian dengan suara sengaja dibuat seperti orang yang baru bangun tidur. Dia lantas bangkit dari tidurnya dan dudui ditepi kasur sembari meregangkan otot ototnya.
"Sudah," jawab Namira sembari menyerahkan handuk yang baru saja dia ambil di tempat menjemur handuk saat dia keluar tadi.
Dengan malas Julian beranjak keluar kamar. Begitu sampai di dalam kamar mandi, senyum Julian kembali terkembang. "Astaga! Sepertinya aku sudah gila!"
Dari subuh hingga usai sarapan, semua dilewati Julian dengan baik. Kini saatnya Julian dan Namira kembali ke rumah karena Julian memang ada urusan dengan rumah barunya. Setelah pamit kepada keuarga Namira, motor yang dikendarai Julian pun langsung meluncur meninggalkan rumah istirnya.
Kali ini, di dalam perjalanan pulang, tidak sama seperti saat berangkat kemarin. Kalau kemarin sepanjang perjalanan, Julian dan Namira hanya saling diam. Kali ini ada obrolan yang tercipta diantara mereka. Meski hanya obrolan ringan, tapi setidaknya ada kemajuan dalam diri Julian menghadapi wanita yang ada di dekatnya.
"Loh? Kalian udah pulang? Kok cepet?" ucap Bi Atikah begitu melihat Julian dan Namira datang.
__ADS_1
"Iya, Bi. Aku mau ngawasin rumah baru," jawab Julian begitu keduanya turun dari motor. "Kok Bibi sendirian?"
"Dana Dini di dalam, lagi main sama Safira dan Kamila. Kalau Paman dan Ibumu, kan, hari ini udah mulai jualan," balas Bibi sambil menentang kantung pastik. Sepertinya Bi Atikah baru pulang dari warung. Julian dan si Bibi pun masuk ke dalam. Sedangkan Namira, dia sudah masuk duluan setelah mengucap salam tadi saat turun dari motor.
Setelah memakai pakaian dengan menggunakan celana kolor dan kaos tanpa lengan, Julian kembali pamit untuk keluar rumah. "Aku mau ke rumah baru ya? Nanti kalau ada apa apa, susul aja, aku nggak bawa ponsel soalnya."
"Oke!" jawab salah satu istrinya. Setelah mendapat ijin, Julian bergegas keluar kamar. Dan kepergian Julian langsung digunakan untuk bergosip bagi ketiga istrinya. Selain membicarakan soal Vita yang minta dijadikan istri ke empat, Narima juga menceritakan perubahan yang terjari pada suami mereka.
"Serius? Julian peluk kamu?" tanya Kamila dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. Begitu juga dengan Safira yang fokusnya terbagi karena lagi menyuapi si kembar dengan soup.
"Wah! Kalau gitu, Julian ada kemajuan dong? Nggak sia sia kita kasih les privat kemarin saat mau berangkat," ucap Kamila bangga.
"Apa nanti aku juga mencobanya?" ucap Safira. "Aku akan pura pura tidur gitu, aku juga pengin tahu perubahan dia kayak apa."
"Wah! Ide bagus tuh, Fir. Aku juga besok akan mencobanya," seru Kamila.
Ketiga wanita itu benar benar heboh sendiri karena perubahan Julian yang dianggap sangat bagus. Tak jauh dari tempat keberadaan mereka, Bi Atikah juga turut senang mendengar perubahan yang terjadi pada ponakannya.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat. Tepatnya di rumah baru, Julian sedang mengawasi dua tukang yang sedang merombak rumah barunya. Mas Bari, orang yang dipercaya Julian untuk merenovasi rumah, hanya membawa dua orang tukang sebagai tambahan. Sambil mengawasi, Julian juga terlihat sedang berbincang dengan pegawai perumahan tersebut. Namun pembicaraan mereka terganggu saat ada suara yang Julian kenal, datang menghampirinya.
"Kamu ngapain disini, Jul? Mau lihat lihat rumah lagi?" tanya seorang pria bernama Samsul. "Nggak malu kamu, datang kesini cuma lihat lihat dong tapi nggak beli?"
"Maksud Bapak apa yah?" Pegawai perumahan yang bertanya.
"Ini, Mbak, tetanggaku. Masa datang kesini cuma mau lihat doang," ucap Samsul sambil menunjuk Julian.
"Loh, emang salah, kalau Mas Julian melihat rumahnya sendiri?"
"Rumahnya sendiri? Maksudnya, Mbak?"
"Ya Mas Julian memang beli rumah disini, Pak. Dua rumah ini memang milik Mas Julian."
"Apa! Dua rumah!"
...@@@@@@...
__ADS_1