
"Ya bener, mending Ibumu disini aja," Paman Seno ikut menimpi. "Lagiankan jaraknya deket, jalan kaki juga sampai."
"Bener!" sambung Bi Atikah. "Biar pengantin baru saja yang tinggal di sana. Biar lancar malam pertamanya. Ibumu kan juga pengin nimang cucu."
Julian dan istrinya sontak salah tingkah mendengar ucapan sang Bibi. Mereka bahkan tidak berani komentar apa apa lagi karena terlalu bingung dan Malu saat itu. Beruntung ada suara yang terdengar dari depan rumah memanggil nama Julian.
"Jul! Julian!"
"Siapa itu yang manggil orang pake teriak? Bukannya ngasih salam, malah teriak kaya di hutan," sungut Bibi Atikah
"Biasa, paling si Adi," ucap Julian sambil sambil berdiri dan beranjak meninggalkan istrinya bersama keluarga.
"Woy cepat banget keluarnya, padahal baru mau masuk," ucap Adi begitu melihat Julian keluar rumah.
"Ada apa sih, teriak teriak? Berisik tatu!" sungut Julian menghmpiri sahabatnya yang sudah duduk di warung batagor.
"Ya elah, mentang mentang penganten baru, bawaannya pengin di kamar mulu," ledek Adi sambil cengengesan. "Lagi enak enaknya ya?"
"Udah cepet ngomong ada apaan?" tanya Julian sedikit kesal. Lagi lagi sindiran yang bertema hubungan ranjang meluncur. Kali dari mulut sahabatnya.
"Kamu sibuk nggak? Kita ke rumah Faiz, yuk?"
"Mau ngapain? Tumban Fais nggak chat?"
"Dia nggak enak katanya mau chat kamu, makanya dia ngomong lewat aku," balas Adi. "Mau bagi undangan kali."
"Ya udah, aku mau ashar dulu, tungguin?"
__ADS_1
"Sipp!"
Julian langsung saja masuk, meninggalkan Adi yang langsung mengambil ponsel dari sakunya. Hingga beberapa puluh menit berlalu, Julian langsung meluncur ke rumah sahabatnya. Tentu saja dia izin pada istrinya terlebih dahulu. Demi formalitas karena sekarang Julian bukan anak muda yang sendirian lagi.
Sesampainya di rumah Faiz, ternyata disana sudah ada Ucup yang sedang membagi beberapa undangan menjadi beberapa kelompok sesuai daerahnya. Julian dan Adi langsung saja bergabung.
"Eh pengantin baru, kok udah keluar?" seru Ibunya Fais saat dia keluar dari dapur.
"Iya, Bu. Suntuk di rumah terus," balas julian tanpa rasa canggung karena memang sudah sangat akrab dengan keluarga sahabatnya.
Ibunya Faiz nampak manggut mangut dan dia keluar rumah tanpa membalas satu patah katapun.
"Nggak nyangka ya, Jul. Yang nikah malah kamu duluan," ucap Faiz sambil memangku toples berisi pilus cikur.
"Namanya juga takdir, Iz" Ucup menimpali. "Terus urusan Lehan dan Reynan gimana, Jul?"
"Hahaha ... sudah diperkosa apa belum emangnya?" tanya Ucup.
"Kalau menurutku sih kayaknya udah deh," Adi yang menjawab. "Secara kan Julian pas digrebek udah lepas pakaian semuanya."
"Belum!" bantah Julain. "Baru dilepas bajunya doang."
"Tapi kan paling enggak, kamu udah di cium dan di raba raba, Jul," ucap Ucup. "Hih! Aku ngebayanginnya aja merinding, nih."
"Hahaha ... ya nggak usah dibayangin, Cup. Praktekin sekalian!" seru Faiz.
"Kayaknya sih aku emang belum diapa apain, soalnya tadi pagi ada tamu ke rumah, cowok. Dia ternyata korbannya Reynan juga."
__ADS_1
"Hah! Yang bener, Jul?" seru Ucup.
Julian mengangguk, lantas dia menceritakan semua infornasi dari tamunya yang bernama Bagas. "Nah, dari sana aku jadi yakin kalau aku memang belum diapa apain."
"Hih, mengerikan! Dasar penyakit!" umpat Adi. "Kamu nggak ada rencana untuk ngasih perhitungan sama mereka?"
"Ya ada sih, tapi nantilah kalau keadan udah aman. Lagian aku juga belum punya bukti."
"Tapi dibalik kejadian ini tetap ada hikmahnya juga," Faiz menimpali. "Kalau nggak ada kejadian kayak gini, nggak tahu deh, kapan kamu bisa dekat sama cewek."
"Nah, bener itu!" sahut Adi. "Eh tapi dengan adanya tamu yang tadi kerumahmu, Kamila, Namira dan Safira terbukti tidak bersalah kan, Jul? Apa kamu masih suka menghina mereka sampai hari ini?"
"Ya nggak sih, aku malah nggak enak dan kasian sama mereka. Tadi aja mereka bertengkar dengan orang lain gara gara aku."
"Ah iya, tadi aku dengar dari Ibu, katanya istri kamu bertengkar," ucap Ucup. "Sampai ada yang jatuh ke sawah ya?"
"Iya, si Safira. Dari situ aku nambah ngerasa salah banget. Semua hinaan mereka kan berawal dari ucapanku."
"Nah kamu udah minta maaf belum?" tanya Faiz, Julian langsung menggeleng. "Ya sebaiknya kamu segera minta maaf."
"Gimana caranya? Kalian kan tahu sendiri? Aku deket sama mereka aja kayak mau pingsan."
"Astaga! Deket sama mereka aja kamu kayak mau pingsan, terus bagaimana kamu melakukan malam pertamanya?"
"Hahahah ..."
...@@@@@...
__ADS_1