PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Persiapan Syukuran


__ADS_3

Suasana di rumah baru Julian terlihat cukup ramai. Selain kedatangan para sahabatnya, satu persatu keluarga mertua juga berdatangan. Untuk urusan dapur, semua diserahkan pada para wanita. Sedangkan para pria lebih banyak berbincang karena pekerjaannya memang tidak terlalu banyak. Untuk urusan tentengan buat dibagi, menjadi urusan para istri Julian. Mereka juga dibantu oleh teman masing masing.


Isi keranjang yang akan dibagi jumlahnya memang cukup banyak. Ada beras, telur, teh, minyak, gula, kopi dan sejumlah uang yang nanti akan dibagi kepada tamu undangan yang akan hadir. Keseruan yang sedang terjadi di rumah Julian tentu saja menumbuhkan decak kagum bagi yang melihat maupun yang mendengar kabar itu.


Yang membuat para tetangga kagum, bukan karena Julian yang ternyata anak sultan. Hal itu belum banyak orang yang tahu. Tapi yang membuat tatangga kagum adalah kebersamaan serta kedamaian para keluarga dari tiga istri Julian. Tidak terlihat adanya persaingan atau terlihat paling menonjol diantara satu dengan yang lainnya. Semua terlihat kompak dan bahagia bersama.


Namun dari kebahagiaan yang ada disana, terlihat dua orang wanita yang menanpakkan wajah tak suka berada di dalam kumpulan tersebut. Dua wanita itu lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik disaat yang lain sedang bercakap dan bercanda.


"Vita, Bibi Mun. Dinikmati hidangannya?" ucap Namira basa basi. Dia tadi tidak menyangka kalau Bibi dan sepupunya ikut datang setelah apa yang mereka lakukan pada Julian beberapa waktu yang lalu.


"Nggak usah canggung, Bu, Mbak. Anggap aja kita keluarga," Safira yang sedang mengemas telur juga ikut bersuara sok ramah. Padahal dalam hati dia sebal juga dengan wanita yang namanya Vita itu.


"Oh iya, Mbak, makasih," jawab Vita pelan dan sok anggun.


"Ibumu dimana, Nam?" tanya si Bibi.


"Ibu di rumah Mas Jul yang lama, lagi bantuin masak, Bi," jawab Namira sembari memasukan sembako ke dalam keranjang.

__ADS_1


"Kok Bibi nggak diajak? Malah ditinggalin disini sendiriann?" Tanya Bibi lagi terlihat kesal.


Mendengar ucapan Bibi, kening Namira sontak saja berkerut. "Loh, Bukannya Bibi tadi yang menolak ikut? Kan tadi Bibi sudah diajak?"


Si Bibi pun nampak celingukan dan salah tingkah. "Ya kan Bibi nggak tahu kalau masaknya di tempat yang berbeda," Bibi Mun masih saja membela diri.


Melihat Namira yang merasa kesal, Kamila lantas berinisiatif memberi bantuan. "Ibu mau nyusul ke tempatnya Mas Jul? Mari aku anter."


"Nggak usah! Takut ngerepotin," balas Bibi semakin ketus.


Melihat Kamila yang hendak mengeluarkan suara kembali, Namira segera menahannya dan menggeleng agar Kamila membiarkannya saja. Kamila langsung diam dan kembali melanjutkan pekerjaanya. Sedangkan Bibi Mun malah meluapkan kekesalannya sembari berbisik kepada anaknya.


"Ya udah sih, Bu, diam aja. Lagian salah Ibu juga, pake nolak segala," balas si Vita. Mata wanita itu diam diam terus mengedar mencari sosok pria yang memiliki tiga istri itu.


Tujuan Vita meminta ikut datang ke rumah Julian adalah wanita itu memang ingin bertemu pria beristi tiga itu. Jika ada kesempatan, Vita juga ingin ngobrol dengan Julian untuk berpura pura minta maaf. Melihat rumah baru Julian yang cukup bagus, membuat wanita itu semakin semangat ingin menjadi istri ke empat Julian.


Seperti biasa yang namanya makhluk bertetangga. Ada yang ikut merasakan senang dengan keadaan tetangganya, tapi ada juga yang merasa tidak senang dengan apa yang terjadi pada Julian. Salah satu dari mereka adalah keluarga Pak Rastam. Mereka benar benar tidak suka ada yang lebih kaya dari mereka di kampung itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa cemberut gitu, Mir?" Mirna yang sedang memperhatikan keseruan di rumah baru Julian lantas menoleh ke arah sumber suara. "Kamu pengin gabung sama mereka."


"Apaan sih, Mbak. Nggak level gabung sama mereka," sungut Mirna sambil memalingkan wajah dan membelakangi kacs yang tadi buat memantau kegiatan di rumah Julian.


"Lah katanya kamu mau ngejar Julian, gimana sih?" Widia sebagai kakak ipar gadis itu memang paling senang meledek.


"Udah nggak minat. Belagu, baru kaya sedikit saja sudah sombong. Lihat saja nanti kalau aku jadi dijodohkan sama anak arsitek. Julian pasti bakalan nyesel," ucap Mirna berapi api.


"Loh emang bapak jadi ngenalin kamu sama keluarga temannya?"


"Ya jadilah. Nggak tahu alasannya apa, pacar dari anaknya Om Suryo itu memutus hubungan secara sepihak. Padahal mereka berencana mau tunangan."


"Wah! Padahal kan Om Suryo orang paling kaya di kabupaten ini ya? Kok bisa itu cewek melepas anaknya begitu saja?"


"Ya nggak tahu, Mbak. Mungkin anak Om Suryo jodohnya aku kali, jadi, ada aja jalan untuk ketemu."


"Hahha ... benar juga. Eh emang nama anaknya siapa sih?"

__ADS_1


"Namanya Reynan, dia sedang menyelesaikan kuliah S2. Keren kan? Ya kerenlah, daripada Julian, cuma penjual batagor. Cih!"


...@@@@@...


__ADS_2