
Akhirnya perdebatan dan pertengkaran satu suami dan tiga istri itu berakhir dengan indah. Senyum dan suasana hangat kembali mewarnai rumah yang baru saja ditempati penghuninya beberapa hari. Julian merasa lega karena dia berhasil meluluhkan hati istrinya dan meminta maaf ata kesalahan mereka.
Ting tong!
Suara bel pintu dan ucapan salam terdengar dari arah pintu utama rumah. Julian yang sedang berdiskusi dan bercanda bersama sang istri sontak terdiam karena suara bel pintu. Julian yang kebetulan telah selesai menyantap makannya, memutuskan untuk segera beranjak dan membuka pintu seraya sedikit meninggikan suara, menjawab salam dari orang yang berada di luar rumah.
"Eh ada Dana Dini!" seru Julian ketika pintu terbuka, ada tiga wanita beda usia dan satu bocah laki laki kembaran dari salah satu wanita yang usianya paling muda dibalik pintu. "Kok mau kesini nggak bilang sih, Bu? Kan bisa Jul jemput?"
"Jemput bagaimana maksud kamu? Orang jalan kaki aja sampai kok," Julian hanya tersenyum lebar menanggapi ucapan Ibunya.
Bu Sukma, Sifa dan si kembar langsung saja masuk ke dalam mengkuti Julian. Melihat ibu mertua datang, para menantu bergegas menyelesaikan makannya dan memberi salam. Walaupun ibu mertua tetap santai dan menyuruh tiga istri Julian biasa saja. Tap namanya menantu tetap harus sopan dan menyambut kedatangan mertua dengan hangat.
"Kok kamu belum jualan lagi sih, Jul?" tanya Bu Sukma begitu mereka duduk di sofa yang ada di rumah itu. "Nggak sayang sama pelanggan?"
"Iya, Mas Jul, teman teman aku juga banyak yang nanyain," sambung sifa.
Juian tersenyum tipis. "Awalnya sih minggu minggu ini niat mau jualan lagi, Bu. Tapi karena banyak kesibukan ya jadi ketunda terus?"
"Emang sibuk ngapain aja, Mas? Perasaan Mas Jul bukan orang kantoran," tanya Sifa.
"Ya sibuk ngapain aja. Kan aku juga harus nyiapin usahanya para istri. Kalau aku jualan, siapa yang bantuin mereka? Belum lagi acara nikahnya Faiz juga sebentar lagi, dan juga masalah bikin laporan ke kantor polisi serta yang lainnya. Cukup mennyita banyak waktu."
__ADS_1
"Kamu serius, mau melaporkan orang yang menjebak kamu, Jul?"
"Serius, Bu. Malah aku udah siapin segalanya, termasuk bukti dan juga saksi."
Bu Sukma menghela panjang nafasnya. Wajahnya nampak gelisah dengan segala pemikiran yang ada dalam benaknya. Sikap Bu Sukma tentu saja menimbulkan tanda tanya pada anak dan menantunya.
"Ibu kenapa? Apa ada yang ibu pikirkan?" Julian kembali bersuara.
"Apa kamu nggak sebaiknya mengurungkan niat itu, Jul? Ibu dengar lawan kamu bukan orang sembarangan."
"Bukan orang sembarangan? Maksud Ibu?"
Sang ibu lantas bercerita mengenai apa yang dia tahu tentang Reynan dan keluargnya. "Ibu takut, mereka akan melakukan apa saja untuk melawan kamu, Jul."
"Hah! Yang benar, Fa? Reynan sama Mirna mau tunangan? Kok bisa?"
"Iya," jawab Sifa. Lantas dia menceritakan bagaimana kabar itu mencuat di komplek yang lama. "Rame loh beritanya, Mas. Makin sombong aja itu Pak Rastam Dan istrinya."
"Maka itu, Jul. Bukankah kamu lebih baik batalkan saja melaporkan si Reynan dan temannya itu. Ibu khawatir, terjadi hal buruk sama kamu."
"Ya nggak bisa gitu dong, Bu. Kalau aku membatalkannya, makin besar kepala mereka nantinya. Nggak! Pokoknya aku harus tetap maju."
__ADS_1
"Tapi, Jul ..."
"Bu, dengarkan Jul dulu. Kalau aku nyerah, gimana nasib menantu ibu? Nama mereka udah buruk. Kalau di tengah jalan aku membatalkan rencana aku, bukankah nama istriku akan semakin buruk. Apa lagi itu keluarga Kamila. Hubungan kakak dan adik terputus begitu saja gara gara masalah ini. Jadi tolong, Ibu bantu doa aja cukup. Ibu nggak perlu mikirin macem macem. Yakin saja kalau masalah ini, Jul bisa ngatasi."
Bu Sukma memandang lekat wajah anaknya dan mengedar menatap ketiga menantunya. Helaan nafasnya begitu panjang guna menetralkan gemuruh di ruang dadanya. Bu Sukma pun tidak punya pilihan lain lagi selain mendukung anaknya.
Obrolan mereka pun melebar ke obrolan yang lainnya hingga tanpa terasa waktu semakin malam. Bu Sukma dan Sifa memutuskan pulang dengan jalan kaki, sedangkan si kembar diantar pulang pake motor karena sudah pada tidur saat masih di rumah Julian.
"Mas."
"Hum?"
"Mas yakin akan melanjutkan kasus kita?"
Kening Julain berkerut. Julian yang saat ini berada di dalam kamar bersama ketiga istrinya memandang satu persatu wajah ketita istrinya yany berbaring bersamanya.
"Kenapa? Apa kalian juga merasa takut hanya karena mereka orang kaya?"
"Bukan begitu," bantah salah satu istrinya. "Aku takut mereka akan bermai curang, Mas."
"Benar! Aku juga sepemikiran sama Safira. Kalau mereka main belakang gimana, Mas? Bisa saja kan, mereka menyuap hakim dan sebagainya?"
__ADS_1
...@@@@@...