PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Setelah Malam Itu


__ADS_3

"Nggak dingin, Jul? Jam segini keramas?" tanya Ayah mertua saat melihat menantunya kelihatan segar di pagi hari bersamaan waktu ibadah pagi datang. Melihat menantunya keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut yang basah, membuat bapak mertua sontan bertanya tanpa ada niat menggodanya.


"E-enggak, Bah," jawab Julian gugup. Padahal pertanyaan itu terdengar biasa saja. Tapi bagi Julian, pertanyaan dari Bapak mertuanya itu seperti sebuah ledekan bagi pria yang baru saja merasakan nikmatnya tubuh wanita. "Aku ke kamar dulu, Bah."


Sang mertua menyilahkan dan dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Julian bergegas menuju kamarnya guna berganti pakaian dengan baju koko dan sarung untuk melaksanakan ibabah. Sedangkan sang istri sudah menunggu dengan menggunakan alat ibadahnya. Safira memang bangun lebih pagi dan memilih mandi terlebih dahulu, terus membangunkan suaminya.


Setelah ibadah bersama selesai, Julian dan Safira memilih rebahan sejenak. Apa lagi saat Safira ingin membantu ibunya, sang ibu malah melarang dan menyuruh sang anak menemai suaminya saja. Mau tidak mau Safira langsung menurutinya.


"Lubangnya masih sakit nggak, Dek?" tanya Julian disela sela percakapannya.


"Masih sedikit pegal, Mas," jawab sang istri yang merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Apa setiap wanita kalau pertama kali dimasukin batang lelaki akan sesakit ini yah?"


"Ya nggak tahu, Sayang. Mungkin saja iya," balas Julian sembari mengusap rambut istrinya.


"Mas, denger denger, katanya punya pria di negara kita, kan kecil kecil, tapi kok punya Mas Jul, itunya bisa gede banget sih, Mas?"


Senyum Julian langsung terkembang mendengar pertanyaan istirnya. "Aku sendiri juga nggak tahu, Dek. Pernah dengar sih kalau punya laki laki di negara kita itu ya rata rata panjangnya antara empat belas sampai enam belas cm."


"Nah kan! Punya Mas Jul kayaknya lebih deh, ada kali dua puluh cm lebih."

__ADS_1


"Ya nggak tahu, aku kan nggak pernah ngukur. Mungkin karena aku keturunan orang Italia kali yah? Jadi ya punyaku beda."


"Orang Italia?" tanya Safira nampak terkejut. Dia bahkan sampai mendongak menatap wajah suaminya.


"Iya, ayahku kan asli orang Italia, kenapa? Kok kaget gitu?"


"Pantes, Mas Jul tampangnya nggak main main. Kayak bule gitu. Wajar sih kalau batang Mas Jul gede. Langsung keturunan bule gitu loh."


"Hhehehe bisa aja kamu, Dek. Tapi makasih ya, Sayang. Berkat kamu, Kamila dan Namira, aku bisa kayak gini, jadi nggak panik lagi."


"Nggak perlu terima kasih, Mas. Semua ini kan karena kita suami istri. Akan sangat lucu jika ada orang yang tahu kalau sudah menikah tapi sama sekali tidak saling menyentuh."


"Kalian kenapa? Kok kayak gugup gitu? Masakan Umi nggak enak?" tanya Abah dengan wajah terlihat heran. Meskipun dia tahu apa yang terjadi pada anak serta menantunya, Abah lebih memilih bersandiwara. Biar bagaimanapun abah juga pernah merasakan berada di posisi seperti mereka.


Julian dan Safira langsung menegang mendengar pertanyaan Abahnya. "Nggak apa apa kok, Bah. Masakan Umi enak kok," balas Safira berusaha tenang. Padahal gugupnya luar biasa. Begitu juga dengan Julian, dia sampai salah tingkah sendiri.


Setelah sarapan bersama selesai dan sedikit beres beres, Julian dan Safira langsung pamit pulang karena mereka masih banyak yang harus dikerjakan untuk persiapan usaha istrinya. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Julian dan Safira sudah sampai di rumah lama Julian.


"Motornya sudah datang, Dek?" tanya Julian setelah mengucap salam atas kedatanganya dan disambut oleh dua istrinya yang lain.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Tuh," jawab Zafira sambil menunjukkan motor yang berada di belakang lapak jualan suaminya.


"Kalian udah cobain belum?" tanya Julian setelah menaruh dua kardus berisi barang dagangan Safira.


"Sudah dong, Mas," balas Namira. "Enak banget bawanya. Kita kemarin langsung jadi pusat perhatian, hehhehe ..."


"Ya syukurlah kalau kalian suka,"Julian lantas duduk menghampiri si kembar. "Bibi kemana? Kok si kembar bersama kalian?"


Ketiga istri Julian pun ikut duduk bersama sang suami. "Lagi ke pasar sebentar."


Julian nampak manggut manggut. Obrolan mereka berkembang kemana mana, karena mereka memag belum ada kesibukan yang berarti. Di saat Julian sedang asyik bercanda dengan ketiga istrinya dan si kembar. Mereka dikejutkan dengan adanya mobil yang cukup bagus, masuk ke halaman rumah Julian.


"Mobil siapa itu? Bagus benar. Mas Jul sewa mobil lagi?"


"Enggak, sewa mobil buat apa?"


"Lah terus itu siapa?"


Julian dan istrinya bertanya tanya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2