
Julian langsung melayaninya tanpa sepatah katapun. Matanya sempat melirik ke arah samping saat melihat tangan pembeli menaruh uang digerobaknya.
"Batagornya taruh situ aja, biar kita tidak bersentuhan. Takutnya kamu kena najis nanti karena bersentuhan dengan cewek murah meriah kayak aku."
Hati Julian lagi lagi tersentil dengan sindiran yang dilontarkan oleh wanita yang membeli batagornya. Dia ingin marah tapi dia tahan. Julian tahu dan sadar diri kalau dia yang salah. Semua berasal dari ucapannya yang diluar kendali. Dan tentunya dia sadar, dia sedang menuai apa yang sudah dia tanam.
Setelah batagor selesai dipotong, ditaruh di dalam plastik dan dikasih bumbu kacang, diikat serta masuk ke dalam kantung plastik, Julian menaruh batagor itu sesuai permintaan pembeli. Wanita itu segera saja mengambil jajan pesenannya lalu bersiap pergi.
"Kalau kamu mau ambil pesenan atas nama Lehan, aku harap kamu hati hati. Maaf, bukannya saya bermaksud menghalangi rejeki kamu, tapi kamu cari tahu dulu siapa Lehan itu," ucap si wanita sebelum dia bener bener pergi meninggalkan lapak Julian.
Julian sontak tertegun mendengarnya. Meski wajah dan matanya menghadap ke arah lain, tapi telinganya mendengar dengan jelas ucapan wanita bernama Kamila itu. Salah satu wanita yang dia kenal dari sahabatnya.
Tidak. Dipungkiri, Julian penasaran dan ingin bertanya apa maksud ucapan dari Kamila, tapi wanita itu keburu pergi. Lagian Julian mana berani menghentikan wanita itu dan bertanya, sikapnya saja sudah sangat keterlaluan. Julian mengambil selembar uang lima ribu yang tadi ditaruh Kamila di tepi gerobag dan memasukkanya ke dalam laci uang yang ada di sisi gerobag.
Hingga senja datang, dagangan Julian sudah benar benar habis tanpa sisa. Julian segera beres beres tempat dagangannya. Saat hampir selesai beberes, Julian kedatangan dua pria yang beberapa hari terakhir ini menyambangi lapaknya.
"Masih, Mas?" tanya salah satu dari dua pria tersebut.
"Wahh, habis, Mas. Maaf ya, besok lagi," jawab Julian ramah.
__ADS_1
"Yahh ... sayang sekali, telat. Ya udah deh. Tapi besok malam minggu jangan lupa ya, Mas, pesanannya?"
"Beres! Nggak bakalan lupa kok, Mas," balas Julian antusias. Dia bahkan sampai lupa dengan pesan yang Kamila tunjukkan.
"Ya udah, Mas. Kalau gitu kita pamit," ucapnya dan dua pria itu langsung pergi setalah Julian membalas ucapan pamit pelanggananya.
Dua pria bernama Lehan dan Reynan itu tertawa bahagia setelah pergi dari lapak Julian. Mereka memang sengaja datang ke lapak pria incarannya hanya ingin melihat wajah Julian dan senyumnya. Aneh memang, tapi itulah yang mereka rasakan dalam hati mereka saat ini.
Hingga beberapa hari kemudian saat yang ditunggu Lehan dan Reynan pun tiba, Julian telah bersiap dengan sepanci siomay pesanan yang akan dibawa ke tempat seseorang bernama Reynan. Karena jarak rumah yang cukup jauh, Julian bersiap siap sejak sore hari.
"Sudah di cek semuanya, Jul? Takut ada yang tertinggal?" tanya Bu Sukma yang baru saja keluar rumah.
"Mas Jul nggak merasa aneh?" tanya Sifa yang ikut memperhatikan persiapan sang kakak sepupu.
"Aneh kenapa, Fa?" tanya Julian dengan santainya.
"Masa ada laki laki ulang tahun, kok, pesannya siomay? Apa itu bukan penipuan?"
Julian yang memang tidak menaruh curiga apapun, bahkan lupa dengan peringatan Kamila, sontak tersenyum lebar. "Penipuan apaan, yang pesan aja udah ngasih uang muka limapuluh persen, masa penipuan. Dah lah lebih baik aku berangkat. Takut kemalaman."
__ADS_1
Setelah mengucap salam, Julian segera melajukan motornya menuju ke lokasi keberadaaan si pemesan. Julian berharap, dari pesanan yang dia terima kali ini, daftar pelanggannya akan semakin bertambah.
Dengan menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dan berhenti sejenak di tempat ibadah terdekat untuk melaksanakan ibadah magbrib, Julian akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah lumayan mewah tapi lokasinya cukup sepi. Mungkin karena sudah petang jadi tempat sekitar terasa sunyi. Julian langsung masuk karena gerbangnya terbuka, dan turun dari mobil terus mengetuk pintu.
"Eh udah datang!" seru pria bernama Lehan. "Silakan masuk, Mas?"
Julian tersenyum lebar dan langsung masuk. "Kok sepi, Mas?" tanya Julian tanpa menaruh curiga.
"Ya kan acaranya nanti pukul delapan malam, baru aja pukul tujuh kurang," jawab pria lain bernama Reynan sambil membawa nampan berisi minuman. "Santai santai saja dulu, Mas."
Julian pun setuju. Dia duduk bersama dua orang itu dan berbagi cerita satu sama lain sembari menikmati minuman yang sudah dicampur sesuatu. Beberapa menit kemudian, Julian merasakan kepalanya sangat pusing.
"Kenapa, Mas? Kok kepalanya dipegangin?" tanya Lehan dengan wajah pura puranya.
"Nggak tahu, Mas tiba tiba pusing banget," jawab Julian, dan tak lama setelah itu perhalan tapi pasti, Julian tertidur.
Lehan dan Reynan pun tersenyum senang. "Saatnya kita pesta, sayang."
...@@@@@@...
__ADS_1