
"Gimana kalau Mas Julian buat batagor disini. Aku sudah siapin bahan bahannya kok."
"Wahh! Sampe segitunya, Mbak."
"Iya, Mas. Habis aku penasaran."
"Ya udah, baik, Mbak, kita coba."
"Kalau begitu aku siapin bahan bahannya dulu ya?"
Julian mengangguk saja tanpa ada rasa curiga. Sembari menunggu si tuan rumah mempersiapkan bahan bahan yang katanya sudah tersedia, Julian mengambil ponsel dari dalam tasnya karena sejak terima telfon tadi dia melihat ada chat masuk juga.
Betapa terkejutnya Julian saat dia membaca pesan dari ketiga istrinya dan juga dari seorang bernama Ferdi. Rasa terkejutnya semakin bertambah saat dia melihat foto yang dikirim istrinya dan cuplikan video hasil rekaman Ferdi dan Budi. Julian sungguh dibuat terperangah tak percaya menatap layar ponselnya.
__ADS_1
Di sana, Julian menatap beberapa foto wanita yang saat ini bersamanya sedang duduk bersama temanya dan dua orang pria yang tentu saja Julian sangat kenal. Di tambah lagi rekaman video yang menunjukkan kalau wanita bernama Lita itu sengaja mendekati Julian atas suruhan dua pria yang akan berurusan bersamanya melalui jalur hukum.
Dada Julian langsung bergemuruh. Dia tidak menyangka ternyata istrinya berkali kali menghubunginya dengan tujuan baik. Rasa sesal langsung menelungkup dalam hatinya. Karena sudah melihat kenyataan yang sebenarnya, Julian memilih langsung pergi tanpa permisi. Dia merasa seperti pria bodoh yang justru memarahi istrinya demi wanita yang memiliki maksud tidak baik.
"Loh, Julian mana?" ucap Lita begitu dia kembali ke ruang tamu tapi tidak menemukan sosok pria yang sedari tadi duduk di sana. Lita yang tadi sedikit lama karena berganti pakaian dengan yang lebih seksi, celingukan mencari Julian hingga sampai ke halaman rumah.
"Loh, motornya nggak ada. Apa Julian pergi?" gumam wanita itu dan dia langsung masuk untuk mengambil ponselnya dan menghubungi nomer pria beristri tiga tersebut. Namun sayang, berkali kali dia mencoba telfon dan mengirim pesan, Julian tak merespon sama sekali.
Sepanjang perjalanan pulang, Julian sungguh dibuat tak tenang. Rasa bersalahnya kepada sang istri membuat dirinya ingin segera pulang dan bertemu sang istri serta minta maaf. Dia benar benar merutuki kebodohannya sendiri. Tanpa memberi kesempatan istrinya berbicara, dia malah memarahinya tanpa jeda. Wajar saat telfon tadi sang istri langsung terbungkam, mereka pasti sangat terkejut mendapat kemarahan dari suaminya.
Begitu sampai di rumahnya dan motor terparkir di halaman, Julian bergegas masuk ke dalam rumah mencari tiga istrinya. Julian kembali dibuat terkejut. Rumahnya sepi, tak ada seorangpun yang ada di sana.
"Apa istriku sedang pada keluar?" Julian mencoba berpikiran positif karena memang secara kebetulan motor yang satunya juga tidak ada. Julian berpikir mungkin istrinya pergi bertiga menggunakan satu motor. Julian lantas mendudukan diri di atas sofa sambil kembali mengecek ponselnya.
__ADS_1
Julian tersenyum sinis saat nama Lita terpampang di layar ponselnya karena mengirim beberapa pesan dan juga panggilan. Julian tak berniat untuk membalasnya. Julian memilih fokus membaca pesan dari istrinya dan dia baru sadar, ada pesan yang mengandung penuh rasa kecewa dari istrinya.
"Maaf jika sebagai istri, kita hanya bisa mengganggu. Mas Jul tenang aja, anggap aja ini pesan terakhir dari kita. Maaf, bukannya kita tidak percaya sama Mas Jul. Tapi mendengar kemarahan Mas Jul barusan, membuat kami sadar, kami tidak memiliki hak untuk menganggu Mas Jul saat diluar rumah. Semoga usaha kerja samanya sukses tanpa hambatan."
Julian mengusap wajahnya yang tampak frustasi. Dia mencoba menghubungi nomer telfon sang istri dan betapa kagetnya dia saat mendengar dering telfon dari dalam kamar. Julian bergegas menuju kamar utama dan pria itu semakin dibuat terkejut karena ketiga ponsel istrinya tergeletak di meja rias.
"Mereka sengaja pergi nggak bawa hp apa gimana? Astaga!" Julian bertanya tanya sendiri di dalam hati sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Mungkin mereka memang sedang pergi sebentar, makanya nggak bawa ponsel."
Sambil menunggu sang istri pulang, Julian rebahan sambil bermain game. Hingga lama kelamaan, rasa kantuk menyerang matanya. Tak butuh waktu lama, mata Julian terpejam dan dia terlelap.
Hingga waktu bergulir maju, dua jam kemudian, Julian mulai terbangun dari tidurnya. Begitu mata terbuka, Julian meraih ponsel untuk melihat waktu. Di layar terpampang jelas kalau saat ini sudah pukul tiga sore. Namun Julian merasa rumah masih dalam keadaan sepi. Dia pun langsung bangkit dan segera keluar dari kamar.
"Astaga! Apa mereka belum pada pulang? Ini udah jam berapa? Ya ampun mereka pada kemana?" Julian terlihat makin frustasi.
__ADS_1
...@@@@@@...