PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Tawaran Sang Istri


__ADS_3

Setelah mendapat kabar tentang siapa orang yang akan membangun super mall di kota itu, Sukma terlihat lebih banyak diam dengan pikiran yang sangat kacau. Terlihat jelas sekali dari raut wajahnya kalau saat ini Sukma sedang merasa panik luar biasa.


"Mbak," panggil seseorang dari samping lapak wanita itu. Tapi karena pikirannya sedang kacau, sukma tetal diam dengan pikiran yang sangat kacau.


"Mbak," orang itu memanggil lagi. Tapi hasilnya sama, tidak ada reaksi sama sekali dari orang yang sedang dipanggil.


Orang yang memanggil Sukma merasa heran dan dia kembali memanggil sembari menepukk pundak wanita itu dengan nada yang cukup tinggi. "Mbak Sukma!"


Wanita itu terjengat kaget. Dia langsung saja menoleh ke arah sumber suara. Raut wajahnya berubah menjadi kesal. "Apaan sih, Sen? Ngagetin aja!" sungutnya.


"Lah, orang dipanggilin dari tadi, Mbak diam aja," Seno membela diri. "Lagian, lagi ngelamunin apaan sih, Mbak? Sampe ada orang yang manggil nggak nyadar."


Raut wajah Sukma kembali berubah, dari agak kesal karena dikagetin menjadi resah dengan sesekali menghembus pelan nafasnya dengan tatapan menerawang ke sembarang arah. Melihat sikap sang kakak sedikit aneh, tentu saja mengundang pertanyaan dalam benak sang adik. Dengan kening Seno berkerut dan bertanya tanya sembari memperhatikan sikap kakaknya. Pikiran Seno pun bekerja, memikirkan apa yang terjadi pada kakaknya saat ini. Hingga tak lama kemudian, Seno akhirnya tahu kemungkinan apa yang membuat kakaknya merasa resah.


"Mbak Sukma sedang memikirkan orang yang akan membuat Mall di daerah sini?" terka Seno, dan terkaannya ternyata sangat tepat.


Mata Sukma membelalak mendengar pertanyaan sang adik. "Kamu sudah dengar berita itu?"


"Loh, kan emang lagi rame di pasar, Mbak. Lagi pada heboh. Banyak yang setuju tapi ngga sedikit juga yang tidak setuju. Takut pasarnya kalah saing. Lagian, Mbak Sukma kenapa bisa gelisah banget?"

__ADS_1


Sukma menghembus nafasnya dengan kasar. "Kamu tahu kan siapa yang ingin membangun super Mall itu? Maksudnya apa coba, dia membangun Mall disini?"


Kening Seno kembali berkerut. "Dia? Maksud, Mbak, Alonso?"


Wanita itu mengangguk. "Siapa lagi. Sepertinya dia dendam sama aku, Sen."


"Hahaha ..." Seno sontak tergelak. "Emang orang Italia yang kaya raya Alonso doang? Mbak ada ada aja deh. Lagian kalau memang itu sih Alonso? Mbak akan menghindar begitu? Udah tua, Mbak, mau lari kemana. Julian juga udah nikah."


"Ya kan Mbak takut aja itu orang dendam sama aku. Kamu tahu kan, orang kaya bisa melakukan apa saja dengan uang? Belum lagi istri barunya, terus orang tuanya. Bakalan tambah kacau."


Seno terdiam sejenak sembari mencerna ucapan sang kakak, biar bagaimanapum dia tahu masalah kakaknya dan ketakutannya. "Ya udah, Mbak, kita hadapi saja. Dulu kan aku diam karena aku masih terlalu muda. Julian juga pasti akan membela ibunya. Mbak nggak perlu khawatir."


Sukma memilih diam dengan perasaan yang masih gusar. Mungkin ucapan sang adik ada benar, dia memang harus menghadapinya.


"Mas Jul, nanti jadi nginep di rumah Safira nggak sih?" tanya Namira disela sela kesibukanya.


"Ya jadi, biar urusan usaha kalian cepet seleai," jawab Julian tanpa menoleh sedikitpun dari layar ponselnya.


"Terus urusan motor gimana?" tanya Namira lagi.

__ADS_1


"Tinggal diterima aja, orang udah dibayar lunas. Katanya nanti sore motornya diantar," jawab Julian lagi tanpa menoleh.


"Ya udah, Mas Jul, ini dus yang udah siap tolong bawain ke rumah baru, lalu baru kita ke pasar beresin daganganku," titah Safira.


"Oke!"


Julian langsung menghentikan main gamenya dan beranjak keluar sembari menenteng dua dus berisi pakaian istrinya. Setelah tugas dari sang istri selesai, Julian dan Safira langsung pergi ke pasar, guna membereskan barang dagangan yang ada di lapak sang istri.


"Dek, orang rumah udah di kabarin belum kalau kita mau nginap?" tanya Julian sembari melipat beberapa barang dagangan sang istri dan memasukkannya ke dalam karung.


"Sudah, Mas. Baru aja," jawab Safira yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan suaminya.


"Oh ya, syukurlah," balas Jul merasa lega. Mereka kembai fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Mas," suara Safira memecah kediaman mereka.


"Apa, Dek?" sahut Julian tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Apa Mas Jul mau? Kita melakukan malam pertama nanti di rumahku?"

__ADS_1


"Waduh!"


...@@@@@...


__ADS_2