PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Pemikiran Buruk


__ADS_3

Kluntang kluntang kluntang.


Dering sebuah ponsel yang berada dalam tas terdengar lagi. Si pemilik ponsel yang sedang berbicara serius dengan seorang wanita nampak medengus kesal gara gara ponsel yang berbunyi berulang kali. Si pemilik posel merasa tak enak hati kepada wanita di hadapannya karena bunyi telfon yang berdering terus sejak dia belum lama sampai di rumah si wanita itu.


"Angkat dulu deh, Mas. Sepertinya istri Mas Julian kurang percaya dengan tujuan Masnya datang kesini," ucap si wanita bernama Lita.


"Kurang percaya? Maksudnya, Mbak?" Julian rada tergelitik dengan ucapan wanita yang akan mengajaknya kerja sama dalam bisnis itu.


"Dalam hubungan kan memang harus ada rasa saling percaya, Mas. Nah disini istri kamu itu aneh. Bukankah tadi kamu sudah pamit dan berkata jujur saat mau pergi? Tapi, kenapa istri kamu telfon terus nggak mau berhenti? Bukankah itu sama saja dengan istri yang tidak percaya sama suaminya sendiri? Seaakan akan, suami itu harus selalu bersamanya, tidak boleh berhubungan dengan orang lain dengan alasan apapun."


Mendengar ucapan wanita dihadapannya, sontak saja membuat Julian tercengang dan terdiam. Meski begitu, pikiran Julian juga mencerna kata kata yang dilontarkan oleh wanita itu. Mendadak ada rasa marah dalam diri Julian setelah memahami ucapan Lita dan kelakuan istrinya yang terus memanggil dirinya tanpa ada jeda. Julian terpengaruh ucapan wanita itu dan merasa kalau sang istri sudah sangat keterlaluan karena tidak mempercayainya.


"Kalau gitu aku minta ijin ke teras sebentar, Mbak, buat terima telfon," ucap Julian dengan perasaan tak enak kepada si pemilik rumah.


"Oh iya, silakan, Mas."


Julian segera keluar dari ruang tamu dan mengambil ponsel dari dalam tas yang masih berbunyi dengan segala amarah yang dia tahan.


"Assalamu'alaikum, hallo," ucap Julian dengan ketus. Begitu di seberang sana selesai menjawab salam, Julian langsung meluapkan amarahnya. "Ada apa sih, telfon telfon mulu?"

__ADS_1


"Mas Jul, udah sampai apa belum?" tanya seorang wanita dari seberang telfon.


"Udah. Baru juga sampai, udah ditelfonin terus. Nggak percaya apa suaminya pergi karena usaha?" jawab Julian ketus dan sedikit menghardik.


"Maksudnya, Mas?" tanya suara seorang wanita dari dalam telfon yang menempel pada telinga Julian.


"Ya kalian ini loh, kayak anak kecil aja. Bukankah tadi aku udah pamit dan menjelaskan mau pergi kemana dan mau ngapain. Kenapa kalian malah pada bertingkah seperti anak kecil sih?"


"Apa! Anak kecil?" meski raut wajahnya tidak terlihat, tapi dari suaranya terdengar kalau wanita di seberang ponsel itu cukup kaget. "Mas, aku cuma mau ..."


"Cuma mau apa? Hah! Cuma mau ganggu aku karena kalian tidak percaya pada suami kalian begitu? Kalian sampai berulang kali telfon dan mengganggu pembicaraan aku sama orang itu, gara gara kalian tidak percaya sama aku kan?"


"Udah jelas sekarang, bukan? Jadi tolong jangan telfon telfon lagi atau ponsel aku matiin kalau kalian masih mau ganggu!" ancam Julian dan langsung mematikan hubungan telfon secara sepihak dan memasukkan telfon itu kembali ke dalam tas. Setelah emosinya stabil, Julian kembali masuk ke ruang tamu. "Maaf ya, Mbak. Jadi nggak enak aku."


"Nggak apa apa, Mas," jawab Lita dengan ramah dengan senyum yang penuh arti. Dalam hati wanita itu bersorak. Dengan sikap yang ditunjukkan Julian, Lita yakin kalau rencananya kali ini pasti akan berjalan lancar. Dia tinggal menyusun rencana berikutnya dengan rapi dan terlihat mengalir begitu saja. "Kalian kan masih pengantin baru, menurutku wajar sih jika istrimu sedikit posesif, Mas."


"Iya sih, Mbak. Tapi kan nggak kayak gini juga. Wajar jika aku tadi berangkatnya nggak pamit, mereka berhak marah. Orang aku pamit dengan sangat jelas, eh malah telfon telfon nggak jelas," balas Julian terdengar masih ada sedikit rasa kesal dalam ucapannya.


"Emang tadi istri kamu bilang apa, Mas?"

__ADS_1


Julian tersenyum masam. "Nggak bilang apa apa. Ngeselin nggak sih? Kiraian ada hal penting yang akan disampaikan, eh malah cuma tanya udah nyampe apa belum. Apa nggak ngeselin?"


Lita sontak tersenyum lebar mendengarnya. "Wah, nanti kalau kamu pulang, bisa bisa perang, Mas."


Julian ikutan meringis. "Nggak apa apa lah. Sesekali bertengkar, kayaknya wajar kan?"


Lita menganggukan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum. "Benar juga sih."


"Ya udah, Mbak. Kembali ke rencana awal kita, bagaimana kerja samanya?"


"Oh iya, begini, aku kan sangat penasaran dengan batagor buatan kamu, Mas. Gimana kalau Mas buat batagor disini. Aku sudah siapin bahan bahannya kok."


"Wahh! Sampe segitunya, Mbak."


"Iya, Mas. Habis aku penasaran."


"Ya udah, baik, Mbak."


"Kalau begitu aku siapin bahan bahannya dulu ya?" Julian mengangguk saja tanpa ada rasa curiga.

__ADS_1


...@@@@@@@...


__ADS_2