PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Bermanja Ria


__ADS_3

"Mas."


"Apa, Sayang? Hum?"


"Pegal."


Julian sontak tersenyum mendengar rengekan istrinya yang sedang tenggelam dalam pelukan di dadanya. Di usapnya kepala sang istri dengan penuh kelembutan. "Maaf ya?"


Antara senang dan sedikit menyesal, itulah yang dirasakan Julian saat ini. Julian merasa sedikit menyesal karena telah membuat istrinya merasakan sakit yang luar biasa. Tapi dari rasa sesalnya itu, Julian lebih banyak merasakan kebahagiaan karena perjuangannya membobol kesucian sang istri berakhir dengan sangat memuaskan.


"Tapi tadi kok kamu sangat keenakan, Dek?"


"Ya tadi sih emang enak banget, tapi pas selesai malah terasa nyeri," rengek Kamila.


"Ya sudah sini aku pijat. Kali aja pegelnya reda," tawar Julian sembari mengurai tangannya dan meraba tubuh Kamila. "Kamu kepalanya geser ke atas dong, Dek."


Kamila langsung menurutinya. Dia menggeser tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah suaminya. Kaki Kamila melebar sedikit hingga jari kekar Julian bisa dengan mudah bergerak memijat lubang nikmatnya.


"Gimana, enak?" tanya Julian, Safira mengangguk sambil tersenyum.


"Mas,"


"Hum? Apa?"


"Mas Jul beneran sayang sama aku?"


Alis Julian terangkat satu lalu dia tersenyum. "Yah, begitulah, kenapa?"


"Ya nggak nyangka aja, Mas Jul secepat itu sayang sama aku."

__ADS_1


"Ya ini semua kan karena kebaikan kalian. Wajar kan jika aku menyayangi istri istriku?"


Kamila kembali mengangguk sambil tersenyum. "Berarti Mas Jul kemarin sudah malam pertama sama Safira?" terka Kamila. Julian langsung mengiyakan sambil tersenyum lebar. "Curang!"


"Hahhaa ... ya nggak curang, Sayang. Itu aja aku yang minta duluan loh. Mungkin kalau aku nggak inisatif nonton film dewasa ya nggak akan terjadi."


"Loh kok sama?"


"Ya kan aku sudah jelasin, aku nggak tahu caranya membuat istriku berhasrat, makanya aku lihat video."


Kamila hanya ber-Oh saja, lalu tangannnya bergerak mengusap pipi suaminya. "Kenapa kamu bisa tampan banget sih, Mas? Aku takut, banyak yang menggodamu."


"Nggak perlu takut. Bagaimana mungkin aku bisa tergoda cewek lain, kalau aku aja sudah punya tiga istri yang menerimaku apa adanya. Jangan berpikir yang berlebihan."


Kamila langsung tersenyum senang mendengarnya. "Besok pasti Namira bakalan kaget banget tuh lihat punya kamu, Mas. Gede banget gitu."


"Hehhe ... mending kita tidur ya."


"Besok lagi aja kalau pegelnya udah hilang, Sayang, kita coba main berkali kali."


Kamila kembali tersenyum dan dia langsung beringsut dan menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. Suaana hening langsung tercipta. Suami istri itu saling diam, menungggu rasa nangtuk yang perlahan menyerang mata mereka.


Waktu begitu cepat bergulir, kini pagi kembali menyapa dan sepasang suami istri itu sudah nampak segar dengan rambut yang basah. Setelah melakukan rutinitas pagi. Kini semua keluarga Kamila nampak sedang berkumul di atas tikar, mengilingi hidangan yang disiapkan ibu mertua.


"Seger ya, Jul. Subuh subuh udah keramas," celetuk Arif sembari menimati hidangannya. Julian tak dapat memberi tanggapan. Dia terlalu malu sampai tidak bsa membalas ucapan kakak iparnya. Begitu juga dengan Kamila.


"Arif! Jangan diledekin, kasian!" hardik Bapak mertua. "Pacarnya cepet dihalalin makanya. Jadi isi celana kamu ada fungsinya, bukan cuma buat kencing doang."


Muka Arif langsung merah padam, sedangkan Julian dan Safira langsung cekikikan mendengar ucapan konyol Bapak.

__ADS_1


"Tapi semalam dari dalam kamar Mbak Mila ada suara 'Aaaakhh' gitu, Mbak Mila dengar nggak?" tanya Ilham dengan polosnya sambil mencomot bakwan. Sedangkan semua yang ada di sana ada yang terbahak, ada yang terkekeh, dan tentu saja ada yanng semakin malu.


"Itu suara Mbak Mila lagi kena tembak Mas Julian, Ham" jawab Arif antusias.


"Kena tembak? Tapi kok Mbak Mila baik baik saja?" balas Ilham dengan tatapan menyelidik ke arah kakak perempuannya. "Yang kena tembak mana, Mbak?"


"Hahaha ..." Arif tertawa paling kencang. Sedanngkan Kamila dan Julian benar benar tak bisa berkata kata.


"Ilham! Udah sana siap siap berangka! Udah siang!" hardik ibu mertua yang merasa tidak enak dengan menantunya. Ilham hanya mendengus sebal. Setelah selesai sarapan, remaja itu beranjak menuju kamarnya mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.


"Gimana, Jul, urusan Lehan? Jadi mengusutnya?"


"Jadi, Mas," jawab Julian agak gugup karena masiy terbawa suasana malu.


"Lehan dan Reynan malah sudah siap pengacara, Mas," Kamila menimpali. "Kemarin pengacaranya datang ke rumah kita dan nyuruh Mas Jul untuk mundur."


"Loh kok gitu? Apa dia ngancam?" tanya Arif lagi.


"Nggak sih. Dia cuma ngasih peringatan doang, ya Mas ya?" Julian langsung mengangguk. "Untung aja ada orang yang mau bantu Mas Jul. Jadi ya kita sedikit lega."


"Ada orang yang mau bantu? Siapa?"


Julian menyebut nama dua orang yang akan membantunya. Sementara itu dua orang yang yang akan membantu Julian, saat ini sedang terlihat membicarakan hal yang serius dengan orang yang ada di hadapannya.


"Jadi kamu tahu kan, tugas kamu apa?"


"Tentu."


"Baguslah. Jika berhasil, maka kamu akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi lagi."

__ADS_1


"Oke!"


...@@@@@@@...


__ADS_2