PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Usaha Ibu Dan Anak


__ADS_3

"Iya, ada apa ya?" sapa Sukma begitu berhadapan dengan sang tamu.


"Maaf mengganggu, saya mau bertemu dengan ibunya Julian."


"Maaf, ibu siapa ya?"


"Saya Munaroh, dan ini Vita., anak saya."


"Oh iya, saya sendiri ibunya Julian, silakan masuk."


Ibu dan anak itu lantas masuk mengikuti si pemilik rumah. Mereka juga langsung duduk setelah dipersilakan oleh nyonya rumah tersebut. Nampak sekali wajah ibu dan anak itu sangat cerah. Mata dua wanita itu mengedar memperhatikanm setiap sudut ruang tamu. Sedangkan Sukma pamit sebentar untuk membuatkan minum. Meski sempat dilarang tapi Sukma tetap memaksa, karena biar bagaimanapun menyuguhkan air minum untuk tamu termasuk perbuatan kesopanan bagi tuan rumah.


"Maaf sebelumnya., sepertinya saya pernah melihat wajah ibu dan anak ibu," ucap Bu Sukma membuka obrolan mereka. Dua gelas teh hangat kini sudah tersaji di hadapan tamunya.


Munaroh dan Vita masih tersenyum sejak berada di sana. "Tentu saja ibu pernah lihat, saya adalah Bibinya Namira dan ini saudara sepupunya. kami pernah datang saat acara syukuran rumah baru Julian beberapa hari yang lalu," ucap Munaroh terlihat sangat antusias.


"Oh iya!" seru Sukma. "Pantes, wajahnya kayak nggak asing. Bagamana kabar orang tua Namira? Padahal nanti sore saya beserta keluarga saya akan berkunjung ke rumahnya loh."

__ADS_1


"Mereka baik, Bu. Semua lagi pada sehat."


"Ya syukurlah kalau lagi pada sehat. Saya ikut senang mendengarnya'" ucap Sukma tulus. "Lalu kenapa Ibu ingin menemui saya? Apa ada hal yang penting? Atau mungkin ada pesan dari orang tuanya Namira?"


Ibu dan anak itu saling pandang sambil melempar senyum, lalu mereka kembali menatap Sukma. "Sebenarnya Kami yang ada perlu sama Ibu, makanya kami sengaja datang kesini," ucap Munaroh.


Kening Bu Sukma lantas berkerut. "Ada perlu sama saya? apa itu?"


Sejenak Munaroh mengatur degup jantungnya yang berdetak sangat kencang. Beberapa kali dia menghela dan menghembus nafasnya agar tidak gugup saat akan mengatakan maksud dan tujuannya datang menemui orang tua Julian. Hal yang sama juga dirasakan oleh anak munaroh yaitu vita. Dia juga terlihat sangat gugup ketika inti dari kedatangan mereka akan disampaikan sang ibu.


Pertanyaan tersebut tentu saja mengerutkan kening Sukma. Wajahnya terlihat heran dan juga bingung. Yang harus Sukma lakukan saat ini adalah meminta penjelasan secara lebih. "maksud Ibu gimana ya?"


Munaroh dan Vita sontak cengengesan, dan lagi lagi sang ibu yang harus menyampaikan maksudnya. "Begini, Bu, kali aja Julian ada minat untuk menambah istri lagi, kebetulan anak saya ini bersedia menjadi istri keempat untuk julian, Bu."


"Apa!" Sukma sontak memekik dengan mata terbuka lebih lebar. Wanita itu sangat terkejut dengan apa yang diucapkan tamunya itu. "Ibu serius? Menawarkan anak ibu?"


"Sangat serius, Bu," jawab Munaroh antusias. "Ibu tenang saja. anak saya gadis yang baik kok, bu. Dia bisa memasak, mencuci, membersihkan rumah. intinya dia bisa menyenangkan suami. Ibu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Sukma menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Jujur, dia masih kaget dengan penawaran dari tamunya itu. Dia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Matanya memperhatiakn sosok gadis yang sedang tersenyum kepadanya.


"Kenapa Ibu nggak coba langsung tanya sama Julian?" tanya Sukma setelah beberapa saat tadi terdiam karena cukup syok dengan apa yang terjadi saat ini.


Lagi lagi Munaroh menunjukkan senyumnya. "Sengaja kami menemui Ibu dulu. kalau ibu sudah merestui, nanti bicara sama Juliannya lebih mudah. Apa lagi kami yakin kalau Julian itu anak yang baik dan penurut kepada orang tuanya."


Sukma nampak manggut manggut. "Tapi kalau saya sih tergantung Juliannya, Bu. Juliannya mau apa enggak. kan yang menjalani pernikahan dia."


"Iya, Bu, saya tahu itu. Semua memang yang menjalani Julian. tapi kalau tanpa restu dari orang tuanya Julian kan, sama saja bohong. Maka itu kami kesini dulu untuk berbicara sama ibu."


"Terus maksud ibu datang kemari, agar saya ngomong sama anak saya atau bagaimana? soalnya ini termasuk bahaya loh, Bu. Apa lagi kalian adalah saudara dari Namira. Saya tidak mau hubungan baik yang sedang terjalin menjadi buruk gara gara hal ini."


"Ibu tenang saja, saya yakin ayah dan ibu Namira juga pasti bakalan ngerti kok. Kan yang paling penting persetujuan dari keluarga Julian dulu. Ibu cukup ngomong saja sama Julian. Sebagai anak yang baik tentu saja Julian pasti akan mendengarkan ucapan orang tuanya."


Sukma nampak terdiam dengan kening yang terus berkerut, sedangkan Munaroh dan Vita senyumnya terus terkembang dengan keyakinan yang sangat tinggi kalau rencana mereka pasti berhasil.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2