PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Utusan Dari Musuh


__ADS_3

Sebuah mobil hitam terlihat memasuki sebuah halaman rumah. Mobil yang terlihat sangat mewah bagi orang yang berekonomi lemah, terlihat sangat bersih dan mengkilat seperti mobil baru. Dari tampilannya jelas sekali kalau mobil itu memang dirawat dengan baik oleh pemiliknya.


Setelah mobil itu terparkir dengan sempurna, sang pemilik langsung keluar dan memandang rumah pemilik halaman dengan pandangan lebih cenderung ke arah menghina. Dengan gaya yang jelas terlihat angkuh, penghuni mobil yang seorang pria paru baya itu melangkah menuju pintu utama rumah tersebut.


"Maaf, Bapak siapa ya?" tanya si pemilik rumah setelah membuka pintu dan membalas sapaan pria pemilik mobil itu.


"Apa benar ini rumah Julian?" tanya pria itu tanpa menunjukan sikap ramahnya.


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?" tanya Julian nampak sedikit terkejut karena sang tamu menyebut namanya. "Silakan masuk, Pak," meski tamunya terlihat kurang ramah, Julian tetap memperlakukan tamunya seramah mungkin.


Mata sang tamu mengedar kesemua penjuru ruangan setelah duduk di kursi tamu. Dari tatapan matanya, Julian yakin kalau pria paruh baya yang jadi tamunya itu orang yang sombong. Sifatnya sudah terbaca karena gerak gerik wajahnya yang terlihat meremehkan.


"Apa benar, kamu akan menyelidiki kasus yang kamu alami dan menyeret putra teman saya?" mendengar pertanyaan pria itu, Julian langsung mengerutkan keningnya.


"Putra teman Bapak? Maksudnya?" tanya Julian yang tidak mengerti dengan pertanyaan tamunya.


Pria itu tersenyum sinis. "Kamu kenal Reynan bukan?"

__ADS_1


Mendengar pria itu menyebut nama Reynan, sekarang Julian paham maksud dari kedatangan pria itu. "Ya, saya kenal. Kenapa, Pak?"


"Perkenalkan, saya Sumanto, pengacaranya Reynan. Kamu pasti mengenal nama saya, bukan?" pria itu semakin menunjukkan sikap angkuhnya.


"Oh pengacaranya Reynan?" Julian sedikit tercengang. "Saya tidak mengenal bapak siapa. Malah saya baru tahu kalau Bapak seorang pengacara."


Pria bernama Sumanto itu nampak terkejut. Dimata dia, Julian seperti sedang meremehkannya. Tapi dia malah tersenyum semakin sinis. "Wajar, kalau kamu tidak mengenal saya. Kamu hanya orang yang yah, hanya orang biasa, jadi saya maklum. Cuma sekedar info buat kamu, saya ini pengacara paling mahal dan paling terkenal di kabupaten ini. Tentu saja saya mahal karena saya pengacara yang hebat. Berbagai kasus saya menangkan karena kecerdasaan saya."


Julian nampak manggut manggut tanpa menunjukan wajah terkejutnya. Padahal Sumanto menjelaskan tentang profesinya dengan sangat lantang dan penuh kebanggaan. Tapi sikap Julian malah terlijat biasa saja.


"Lalu, apa hubungannya dengan saya, Pak?"


Julian nampak terdiam. Sedangkan diamnya Julian disalah artikan oleh pria yang ada dihadapannya. Sumanto berpikir kalau Julian pasti akan mau menurutinya. Pengacaranya itu sekarang malah tersenyum dengan senangnya. "Sudah, tidak perlu berpikir panjang. Mending mundur saja. Karena sudah sangat jelas kalau kamu akan kalah."


Julian tersenyum masam. "Kalau Reynan benar tidak bersalah, ngapain dia repot repot mengirim pengacaranya kesini?"


Pertanyaan Julian sontak membuat Sumanto terperangah. "Maksud kamu?"

__ADS_1


Sekarang Julian yang tersenyum sinis. "Bukankah Bapak orang cerdas? Harusnya Bapak maksud dengan apa yang saya katakan."


Raut wajah Sumanto langsung saja memerah. Mendengar ucapan Julian, Sumanto berpikr kalau apa yang dikatakan Julian adalah sebuah penghinaan besar bagi dirinya. "Apa kamu sedang menguji kecerdasan saya?"


"Tidak!" bantah Julian. "Saya hanya heran saja, bagaimana bisa ada orang cerdas, tapi tidak mengerti dengan apa yang saya katakan."


"Cih!" Sumanto berdecih sinis. "Apa kamu memang berniat menguji kecerdasan saya? Baiklah kalau itu mau kamu, anak muda. Kita bisa ketemu di pengadilan, dan pastinya kamu harus siap siap. Kamu yang sudah hidup miskin, malah akan semakin miskin nantinya setelah kekalahan kamu."


"Baik Bapak pengacara, kita ketemu nanti di pengadilan saja," balas Julian dengan santainya.


Sumanto langsung tersenyum sinis. Tanpa pamit sama sekali, pengacara itu melenggang dengan angkuhnya keluar dari rumah Julian. Di saat bersaman ads dua pria di seberang jalan yang menatap ke arah rumah Julian dengan tatapan serius.


"Bukankah itu Sumanto, Fer? Pengacara kondang di kota ini?"


"Benar. Ngapain dia ke rumah anak bos kita, Bud?"


"Kita basa basi saja yuk ke Julian, kita cari info, terus kita laporkan. Biar kita dapat bonus gede."

__ADS_1


"Wah! Ide bagus, tuh! Ayok!"


...@@@@@...


__ADS_2