PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Ada Yang Beda


__ADS_3

Pagi kini kembali menyapa. Hari sudah berganti lagi. Tanpa terasa sudah tiga hari Julian menjalani rumah tangga dadakannya. Namun ada yang beda dipagi ini. Jika hari sebelumnya Julian dan tiga istrinya mengawali hari tanpa adanya sapaan, tapi pagi ini untuk pertama kalinya Julian menyapa para istri dan mengajaknya ngobrol setelah subuh berakhir.


Meski saat ngobrol, Julian masih terlihat jaga jarak, setidaknya ada kemajuan sedikit yang terlihat dan dirasakan oleh pria itu. Julian berani menatap ketiga istrinya dengan rasa panik yang tidak berlebihan. Kemajuan yang cukup baik. Mungkin semua itu terjadi lantaran Julian sudah berbicara yang sebenarnya akan kondisinya pada tiga istrinya semalam. Jadi efek dari pembicaraan itu, kondisi Julian menjadi lebih baik di pagi ini


"Kalian mau beli ponsel disini apa ke kota aja?" tanya Julian disela sela obrolannya.


"Nggak tahu, Mas Jul, bingung," jawab Safira.


"Loh kok bingung?" Julian bertanya dengan tatapan heran.


"Aku nggak tahu ganti ponsel apaan, Mas jul."


"Astaga!" seru Julian. "Ya udah aku aja yang pilihkan nanti, gimana?"


"Terserah, Mas Jul aja deh, aku mah pasrah aja, orang dibeliin ini," jawab Safira sambil cengengesan.


Julian pun ikut tersenyum, lalu dia menatap ke arah Kamila dan Narima. "Kalian juga nanti aku belikan."


"Ngggak usah Mas Jul. Ponsel aku masih bagus kok," tolak Namira dengan ekspresi yang cukup terkejut dengan keputusan suaminya.


"Iya, Mas Jul. Safira aja yang dibelikan. Ponsel aku masih cukup bagus," Kamila pun ikut menolaknya.

__ADS_1


"Tidak! Semua akan aku ganti termasuk ponselku juga," ucap Julian sambil bangkit dari ranjangnya. "Aku mau ke rumah tukang dulu buat ngurusin rumah baru kita."


Tanpa menunggu balasan dari para istrinya, Julian bergegas keluar kamar dengan hati yang riang. Sedangkan para istrinya dibuat melongo dengan sikap Julian yang berbeda dari sebelumnya.


"Julian kenapa ya? Kok sikapnya jadi manis gitu?" tanya Kamila yang tidak dapat menyembungukan rasa herannya.


"Hihihi ... kirain cuma aku saja yang mikirnya gitu," jawab Namira.


"Aneh aja, biasanya jam segini juga udah keluar kamar sedari pagi. Eh ini malah ngajak ngobrol," Kamila masih tidak percaya dengan perubahan yang baru saja terjadi.


"Ya udah, anggap aja ini kemajuan buat suami kita," ucap Safira berpikir positif. "Daripada kita terus bertengkar, bukankah ini lebih baik?"


"Benar juga sih apa kata kamu," balas Namira. "Eh tapi Julian ngijinin nggak ya, aku pulang ke rumah? Kangen rumah."


"Ya udah deh, nanti kalau dia pulang, aku coba tanyakan."


Kedua istri Julian yang lain pun setuju dengan ucapan Namira. Mereka lantas keluar kamar karena memang ada tugas rumah yang harus mereka kerjakan.


Julian sendiri mengajak tetangganya yang menjadi ahlli tukang bangunan ke rumah barunya. Raut wajah tak percaya jelas sekali terlihat dari tukang bangunan itu saat mengetahui rumah yang sekarang dia masuki adalah rumah Julian.


"Ini serius rumah kamu, Jul?" tanya tukang bangunan sambil mengedarkan pandangannya ke semua ruangan yang ada di sana.

__ADS_1


"Ya serius, Mas Bari," jawab Julian singkat.


"Pasti mahal banget ya, Jul? Cicilannya berapa?" tanya tukang bangunan lagi. "Eh tapi ini kan ini rumah baru, terus apa yang aka kamu lakukan? Kok kamu bawa aku ke sini?"


"Gini Mas Bari, ini kan dua kamar berdampingan? Aku ingin kamar ini di jadikan satu. Terus itu di sana, kan ada tembok. Aku ingin tembok itu dijebol dan dibikin jalan selebar pintu."


Kening Mas Bari sontak berkerut. "Kok dijebol? Itu kan di sebelah ada rumah lagi,Jul?" tanya Mas Bari tanpa mengurangi rasa terejutnya.


"Iya aku tahu, Mas. Yang disebelah sana kan rumah aku juga."


"Apa! Rumah kamu? Kamu beli dua rumah? Astaga!"


Julian hanya tersenyum lebar melihat wajah terkejut milik Mas Bari. Julian memilih melanjutkan berdiskusi dengan sang tukang. Dia menjawab soal rumah seadanya saja. Julian pun menyerahkan semua kebutuhan material untuk di urus Mas Bari. Dia percaya, pria bernama Bari memang terkenal menjadi tukang yang jujur.


Setelah urusan rumah telah selesai, Julian langsung pergi menuju toko ponsel terbesar yang ada di daerahnya. Dia langsung memilih ponsel keluaran terbaru dari salah satu merk ponsel ternama. Betapa terkejutnya para karyawan, saat Julian membayar empat ponsel sekaligus dengan kartu hitam miliknya.


"Astaga! Idaman banget pria itu. Aku juga mau sama dia kalau dia sekaya itu," ucap salah satu pelayan.


"Ya udah, deketin coba. Kali aja dia mau sama kamu. Kamu kan cantik."


"Wah! Benar juga, aku deketin ah!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2