PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Keputusan Bersama


__ADS_3

"Menikah!" pekik Julian, Kamila, Namira dan Safira hampir bersamaan. Ketiganya sangat terkejut mendengar keputusan dari orang tua mereka masing masing.


"Paman nggak salah ambil keputusan?" tanya Julian memastikan, wajahnya semakin nampak sangat frustasi. "Bagaimana mungkin aku menikah dengan mereka bertiga, Paman? Pernikahan itu bukan main main! Masa aku menikah sama orang yang jahat sama aku?"


"Yang bilang main main siapa, Jul?" bantah Paman Seno. "Paman sangat serius dengan keputusan ini, Jul! Lagian mereka juga setuju."


"Astaga, Paman! Aku itu disini korban, Paman."


"Iya, Paman tahu. Kamu korban, kamu ternoda, kamu diperkosa! Apa kamu siap ibumu dihina sebagai pria yang tidak bertanggung jawab? Ingat, Jul, meski kamu korban, nama kamu juga akan tetap buruk, begitu juga nama ibu kamu."


Julian langsung terbungkam. Tanpa dia sadari kalau ini semua sebenarnya adalah rencana sang paman untuk menyembuhkan kelainan yang ada pada diri Julian. Entah kenapa Paman Seno yakin dengan cara menikah, Julian akan bisa mengatasi kekurangannya itu.


Beruntung ketiga ayah dari tiga wanita itu setuju untuk membantu Paman Seno, karena mereka juga terlanjur malu dengan keadaan yang menimpa putri mereka. Kalaupun putri mereka tidak bersalah, tapi nama buruk sebagai wanita yang menjebak pria akan selalu melekat pada anak anak mereka. Karena para orang tua tahu, orang orang lebih mudah percaya dengan berita yang buruk daripada mencari tahu kejadian yang sesungguhnya.


"Bapak lagi nggak bercanda kan?" tanya Kamila menegaskan. "Aku menikah dan langsung berbagi suami?"


Bapak Kamila mengangguk. "Bapak juga berat mengambil keputusan ini,tapi menikah adalah alasan yang tepat untuk menyelamatkan nama baik kamu, Mil."


"Menyelamatkan nama baik bagaimana, Pak?" tanya Kamila dengan wajah yang cukup terlihat frustasi.


Ayah Kamila lantas menjelaskan maksud dan tujuannya Kamila menikah dan berbagi suami. Begitu juga dengan Ayah Safia dan Ayah Namira. Mereka menjelaskannya masing masing kepada putri mereka.

__ADS_1


"Tapi aku hanya anak penjual ayam potong, Pak. Yang ada nanti Julian malah makin menghina aku. Dia tidak mau menikah dengan cewek miskin, Bapak," rengek Namira.


Bapak Namira tentu saja terkejut mendengarnya. Dia langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Julian dan Paman Seno. "Apa benar, keponakan Pak Seno tidak mau meliki istri yang miskin?"


Kedua pria yang dilempar pertanyaan oleh Bapaknya Namira tentu saja terkejut mendengarnya."Tidak! Kata siapa, Pak?" tanya Paman Seno.


"Anak saya sendiri yang bilang."


"Bukan, Pak," Julian yang menjawab dengan perasaan was was. "Mereka hanya salah pahan."


"Salah paham? Jelas jelas memang kamu sikapnya kayak gitu!" sungut Safira yang memamg mendengar apa yang dibicarakan orang orang disekitarnya. "Jelas jelas kamu menghina kami dengan sebutan ...."


"Baik! Aku mau menikahi mereka bertiga," ucap Julian dengan lantang. Dia sengaja berteriak mengambil kepusan demi membungkam mulut Safira soal ucapan Julian yang sangat menghina mereka. Julian tidak mau ada orang tua, kembali memaki dirinya karena telah menghina anak wanita mereka.


"Kamu serius?" tanya sang Paman.


"Serius, Paman, jawab Julian lantang.


"Baiklah," balas sang Paman, lalu dia menyampailkan keputusannya pada Pak Rt.


Setelah semua saling setuju, sidang lantas berakhir dan mereka semua bubar. Untuk urusan pernikahan, para orang tua akan bermusyawarah lagi dengan keluarga mereka masing masing.

__ADS_1


Sedangkan Reynan, dia kembali dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Dia pun kembali menuju kamarnya yang berisi fofo foto Julian. "Nggak apa apa malam ini kamu lepas. Tapi aku yakin Julian, pernikahanmu nggak akan lama. Dan jika saat itu, kamu akan menjadi teman tidurku."


Keesokannya peristiwa yang menimpa Julian menjadi sangat gempar. Meski kejadiannya di desa tetangga, tapi gosip tentang kejadian malam itu langsung menyebar luas. Dari warga pasar hingga perumahan, gosip tersebar dari mulut ke mulut dan juga status media sosial.


Keluarga para gadis jelas sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa anak mereka. Mau tidak mau mereka setuju menikahkan anak gadis mereka dengan satu pria.


"Hebat ya, sekalinya mau nikah, langssung sama tiga cewek," ledek Faiz saat Julian dan teman temannya berkumpul di rumah Julian.


"Hebat apaan? Itukan tangggung jawab mereka karena sudah menodai aku," sungut Julian. Adi, Ucup dan Faiz langsung terkekeh mendengar ucapan konyol sahabat mereka.


"Tapi enak kan?" ledek Adi.


"Enak apaan, orang aku dikasih obat tidur."


"Hahaha ... ya udah, nanti malam pertama coba lagi langsung ketiga," balas Ucup.


"Iggh, kalian ini. Ada teman susah malah diketawaain."


"Emang Julian bisa malam pertama?"


"Hahaha ..."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2