
Seperti itulah Julian. Jika bertemu kenbali dengan wanita yang pernah bilang cinta kepadanya, dia akan bersikap dingin dan sangat acuh. Seakan akan dia tidak pernah kenal dengan wanita itu. Julian beranggapan dengan cara seperti itu, maka wanita itu akan berhenti berharap. Julian tidak ingin memberi celah dan menimbulkan salah paham kepada wanita yang pernah dia tolak jika dia bersikap ramah.
Aneh memang. Tapi mau bagaimana lagi, itulah pemikiran pria dua pulun empat tahun itu. Julian tidak sadar, kalau setiap perasaan orang itu berbeda. Mungkin karena selama ini Julian aman melakukan cara seperti itu, jadi dia yakin semua wanita akan pergi menjauh setelah ditolak dan dianggap tidak pernah mengenalnya. Tanpa Julian ketahui, justru ada beberapa orang yang menyimpan rasa penasaran dan juga denndam karena sikapnya itu.
Seperti halnya dengan tiga wanita cantik yang Julian kenal dari tiga sahabatnya. Namira, Safira dan Kamila. Tiga wanita itu justru malah penasaran dengan sikap yang Julian tunjukkan kepada mereka. Bagi tiga wanita itu, baru kali ini mereka melihat ada pria tampan tapi bersikap anti wanita. Bukankah itu hal terlihat sangat aneh? Maka itu ketiganya seperti tertantang ingin menaklukan pria itu.
Ketiga wanita itu memang saling kenal, hanya saja mereka tidak akrab satu sama lain karena berasal dari desa yang berbeda beda. Mereka hanya saling tahu nama masing masing. itu saja, tidak lebih. Namun saat tiga wanita itu tahu kalau mereka sedang mengincar lelaki yang sama, otomatis mereka langsung pengin kenal dan saling cari informasi satu sama lain.
"Safira dan Namira? Mereka juga ngejar Julian?" seru Kamila nampak terkejut saat mendengar cerita dari sahabatnya yang bernama Rizka.
"Ya Mas Faiz sih cerita gitu, aku aja baru tahu seminggu yang lalu," balas Rizka, calon istri Faiz, sahabatnya Julian.
"Kok Faiz nggak cerita sama aku?" protes Kamila.
"Ya mana aku tahu. Lagian sama aja kan kalau cerita sama aku. Ujung ujungnya juga kamu bakalan tahu dari aku," ucap Rizka membela diri.
"Terus? Kenapa mereka nggak nyerah aja? Udah tahu ditolak, kenapa masih berharap?"
__ADS_1
Rizka sontak mencebikan bibirnya. "Hillih, kamu tuh kalo ngomong sambil ngaca dong, Mil. Orang kamu aja sama kayak mereka, pake ngatain segala."
"Hehehehe ..." Kamila malah cengengesan. "Ya kan aku nggak mau banyak saingan kali, Riz. Gila aja, sainganku nggak main main. Sekelas Safira dan Namira."
"Kamu juga nggak kalah cantik, Mila. Julian aja yang mungkin matanya rabun. Disukai wanita kok malah ngatain cewek murah meriah," ucap Rizka mendadak kesal.
"Hahaha ... gitu gitu juga dia sahabat calon suami kamu, Rizka."
"Yaah, untungnya Mas Faiz nggak ketularan sama sikap dia," balas Rizka. "Kalau dia bukan sahabat Mas Faiz, udah aku labrak dia."
"Hahhaa ... bisa aja kamu! Dahlah, sepertinya aku memang harus kenalan sama Safira dan Namira."
"Enak aja," bantah Kamila. "Emangnya aku bocil apa? Pakainya cara elegan dong. Kalau mau saingan mendapatkan Julian, ya ayo. Asal jangan ada yang curang."
"Astaga! Apes banget Julian. Udah kayak piala aja direbutin."
"Hahaha ... namanya juga perjuangan, Riz. Demi mendapat bibit unggul."
__ADS_1
"Hahahah ... bisa aja kamu kalau ngomong. Dasar centong nasi."
"Asem, huu!"
Niat yang sama juga terjadi pada Safira dan Namira. Mereka juga berencana ingin mengenal saingan cinta mereka. Biar bagaimanapun mereka juga tidak mau kalah selama Julian belum memutuskan pilihannya. Mereka sama sama merasa, masih punya peluang untuk meluluhkan hati pedagang batagor dan siomay itu.
Selain tiga wanita itu, ada juga yang memilki cinta terpendam kepada Julian. Ada dua orang yang bersahabat tapi mereka juga menyukai orang yang sama yaitu Julian. Meski sebenarnya itu adalah cinta yang salah, tapi mereka tidak peduli dan mereka menganggap kalau jalan mereka itu sudah benar sesuai isi hati mereka.
"Darimana kamu dapat foto seksi Julian?" tanya salah satu dari mereka, saat melihat koleksi foto milik temannya. Saat ini kedua orang itu memang sedang bersama di dalam sebuah kamar.
Si pemilik foto tersenyum sumringah. "Beberapa hari yang lalu, aku nggak sengaja melihatnya di kolam renang. Keren banget ya badannya? Lihat juga tonjolannnya? Bikin kepengin."
"Benar banget. Bagus tonjolannya. Kayaknya gede. Terus kapan kita akan menjalankan rencana kita?"
"Aku juga sedang mikir. Gimana caranya ngejebak Julian. Benar benar nggak ada momen yang tepat."
"Astaga! Terus gimana dong? Aku udah pengin banget menikmati tonjolannya!"
__ADS_1
"Ya sama, aku juga," kedua orang itu lantas terdiam hingga beberapa menit kemudian. "Ah, aku tahu caranya!"
...@@@@@...