
"Kamu kenapa, Mil? Kok jalannya pincang?" tanya Namira.
Tubuh Kamila sontak menegang, begitu juga dengan tubuh Julian. Safira dan Namira langsung menatap keduanya dengan tatapan bertanya tanya.
"Kenapa reaksi Mas Jul dan Kamila tegang gitu?" Jangan jangan kalian habis berhubungan badan?"
Julian dan Kamila semakin gugup dan menegang. Pertanyaan Safira membuat keduanya langsung salah tingkah. Apalagi tatapan tajam Safira seakan menuntut mereka untuk berkata jujur.
"Paling habis main beberapa ronde, makanya Kamila ampe pincang. Punya Mas Jul kan gede banget," tebak Namira yang semakin mengarah ke kebenaran.
"Ah iya, di novel novel juga kayak gitu. Banyak," dugaan Safira semakin kuat membuat Julian dan Kamila semakin bingung mau ngomong apa. Tapi dalam hati, mereka sedang tersenyum senang.
"Makanya, kalau minta jatah sama Mas Jul jangan banyak banyak. Kayak aku semalam, satu ronde cukup ya, Mas," Julian malah spontan mengangguk mendengar pengakuan Namira.
"Apa! Jadi kalian berdua sudah dapat jatah lagi? Kok aku malah nggak dikasih?" protes Safira.
"Gimana Mas Jul mau ngasih jatah ke kamu, orang dia udah capek, semalam sama aku, sekarang sama Kamila, besok sama kamu kalau Mas Jul sempat," ledekan Namira membuat semuanya tersenyum kecuali Safira.
"Iya ya, Dek. Sama kamu sesempatnya aku aja," Julian ikut meledeknya sampai semua tertawa kecuali Safira.
"Oh, jadi aku yang dibedain? Mentang mentang aku yang pertama merasakan malam pertama jadi aku nggak berhak minta jatah lagi? Oke! Kalau nggak bisa adil, silakan!" Safira langsung berkata dengan lantang. Dia langsung bangkit dan melangkah menuju rumah sebelah.
__ADS_1
Brak!
Terdengar pintu ditutup dengann kencang, membuat ketiga orang yang ada disana terlonjak kaget. Tentu saja melihat Safira yang tiba tiba marah, membuat tiga orang yang ada disana begitu terkejut. Padahal ucapan Namira dan Juliann hanya sekedar meledek tapi malah dianggap serius oleh Safira.
"Apa Safira beneran marah?" tanya Namira dengan tatapan terkejut dan tak percaya.
"Ya beneran lah. Tuh baksonya saja belum dia makan sesendokpun," balas Kamila.
Julian jelas sekali langsung merasa tak enak hati. Apa lagi Safira langsung melontarkan kata tak adil, membuat Julian merasa bersalah meski yang terjadi bukan seperti yang Safira pikirkan. Julian segera bangkit dan hendak menyusul istri yang lagi ngambek.
Namun baru kakinya hendak melangkah, dia dan dua istrinya yang lain dibuat terkejut saat melihat Safira muncul dengan membawa barang lalu masuk ke kamar lain dan menguncinya. Julian langsung mendekati kamar itu dan mengetuk pintunya.
"Iya, Fir. Aku cuma becanda kok, astaga! Jangan di ambil hati oy!" ucap Namira dengan suara berteriak.
"Serius juga nggak apa apa!" Safira menyahutinya dengan suara keras. "Kan kamu sama Kamila lebih istimewa. Aku cuma ampas!"
"Dek! Kok kamu ngomomgnya kaya gitu? Nggak gitu, Dek."
"Emang kenyataannya, kan. Sudah, jangan pura pura khawatir dan merasa bersalah, nggak usah menyempatkan waktu untuk aku!"
"Dek!" Julian membentak. Dia benar benar terkejut dengan ucapan Safira yang pikirannya bisa sejauh itu.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Biarkan saja dulu. Nanti juga reda marahnya kalau Safira sudah tenang," bujuk Kamila dengan suara pelan.
Julian menghembus kasar nafasnya. Dia menuruti kata Kamila dan memilih kembali duduk bersama dua istrinya yang lain. Perasaannya mendadak menjadi tidak nyaman karena penghuni rumahnya ada yang sedang marah.
Hingga beberapa jam kemudian, sampai malam menjelang, Safira masih diam menikmati kemarahannya, membuat Julian dan dua istrinya yang lain merasa khawatir. Bahkan mereka tidak bisa menikmati makan malam dengan nikmat karena salah satu anggota keluarga mereka tidak menampakkan wajahnya sejak sore tadi.
Julian sebagai suami, tentu saja mulai merasa khawatir dan tidak tenang. Apa lagi saat menjelang tidur, Safira masih berada di dalam kamar terpisah, membuat dirinya merasa gelisah. Julian terus menunggu Safira di atas sofa, sedangkan dua istri yang lain sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu kamar yang sedari tadi terkunci dari dalam pun terbuka. Ada rasa lega pada diri Julian saat melihat Safira keluar kamar. Safira yang melihat suaminya berada di sofa malah terkejut. Dia pikir semuanya sudah tertidur, tapi dia malah melihat suaminya berada di sana.
Safira memalingkan tatapannya ke arah lain sembari melangkah menuju ke toilet. Di kamar rumahnya kamar tidurnya memang tidak ada toiletnya jadi mau tidak mau jika hendak ke toilet harus keluar kamar dulu. Julian langsung bangkit dan mengikutinya.
"Kenapa Mas Jul di sini?" tanya Safira saat keluar kamar mandi dan melihat Julian sudah ada di sana menunggunya.
"Nungguin kamu lah, Dek."
"Aku udah gede Mas, ngapain ditungguin? Udah sana tidur, kasian Namira dan Kamila sendirian."
"Dek!"
...@@@@@...
__ADS_1