PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Di Pesta Pernikahan


__ADS_3

Duhai senangnya pengantin baru ...


Duduk bersanding bersenda gurau ...


Alunan musik bersuara merdu menggema dari salah satu halaman rumah warga yang sedang melaksanakan acara pernikahan. Di sana, di salah satu sisi halaman yang menyatu dengan sebagian jalan kampung yang disulap menjadi panggung pernikahan, sepasang pria dan wanita nampak tersenyum lebar penuh kebahagiaan, berdiri di depan kursi pelaminan sambil menerima uluran tangan para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat atas pernikahan yang mereka tempuh.


Namun sayang, dalam acara pernikahan tersebut, bukan dua orang mempelai yang menjadi pusat perhatian, tapi salah satu tamu sekaligus sahabat dari sang pengantin yang menjadi pusat perhatian para tamu. Sejak acara itu berlangsung pria beristri tiga dan juga keluarganya menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan bagi para tamu yang hadir disana.


Siapa lagi kalau bukan Julian dan ayahnya. Bapak dan anak itu menjadi buah bibir yang tidak pernah habis menjadi bahan pembicaraan terutama bagi kaum wanita. Dimanapaun mereka berdua berada, ayah dan anak itu selalu mengundang rasa lapar kaum wanita yang memandangnya. Pesona ayah dan anak itu memang selalu menghipnotis kaum wanita untuk berfantasi yang tidak semestinya.


Usai rangkaian acara pernikahan selesai, Julian memilih tetap berada di tempat si pemilik acara guna melepas kangen dengan sahabat sahabatnya. Karena kesibukan masing masing, Julian mengunakan kesempatan ini untuk bercengkrama dengan tiga sahabatnya yang salah satu diantaranya adalah si mempelai pria.


"Wuihh, pengantin baru udah seger aja nih, Kamu langsung keramas, Iz?" tanya Ucup saat sang pengantin pria menghampiri ketiga sahabatnya dimana ada Julian di sana. Mereka duduk di salah satu pijok tenda pengantin. "Nggak sabaran amat sih, nggak tahan ya? mentang mentang sudah sah, jadi langsung tancap, hahaha ..."


Suara tawa langsung menggelegar diantara empat pria itu hingga mengundang perhatian orang sekitar. sedangkan Fais, sang pengantin baru, wajahnya memerah mendapat ledekan dari sahabatnya.


"Apaan sih, Cup, orang belum ngapa ngapain juga," bantah Fais apa adanya.


"Udah ngapa ngapain juga nggak apa apa kali, kan udah halal," Ucup kembali bersuara. "Atau kamu ingin belajar dulu? Tuh, belajar sama Julian yang sudah suhu urusan peranjangan, hahaha ..." lagi lagi suara tawa pecah di antara mereka.

__ADS_1


"Nggak perlu belajar, nanti juga bisa sendiri, ya nggak, Jul?" Faiz membela diri.


"Iya dong, ngapain kayak gitu pake belajar segala," balas julian dengan sangat percaya dirinya. Padahal jika teman temannya tahu kalau saat malam pertama, Julian belajar dari sebuah video, pasti Julian akan jadi bahan ledekan yang tidak ada habisnya.


"Cih, sombong amat kamu, Jul. mentang mentang punya tiga lubang, enak bener hidup kamu. Udah jadi anak sultan eh istrinya tiga," Adi yang sedari tadi diam, tak tahan ikut mengeluarkan suaranya. sedangkan Julian hanya tersenyum lebar penuh kebanggaan mendapat cibiran dari sahabatnya.


"Iz, kamu udah buka amplop dari Julian belum? Aku penasaran, kondangan anak sultan berapa?"


"Cuma seratus," jawab Faiz dengan wajah datar.


"Cuma seratus? Seratus ribu?" tanya Ucup memastikan. "Pelit amat. Masa Sultan kondangannya seratus ribu. Satu juta lah pantas."


"Seratu sjuta maksudnya," Faiz meralat ucapannya sambil cengengesan.


"Wahh, jadi pengin cepat cepat halalin ayang kalau gini, biar dapat seratus juta juga," celetuk Adi.


"Hahaha ... sama. Nanti kondangannya samain loh, Jul, kayak kamu kondangan ke faiz."


"Dih, kalian ini. Niat nikah cuma demi amplop kondangan doang apa gimana?" kini giliran faiz yang mencibir.

__ADS_1


"Ya kan sekalian. lumayan kan, buat modal usaha," bantah Ucup. Julian hanya tersenyum lebar melihat perdebatan di depan matanya.


"terus, Jul, nasib Lehan sama Reynan gimana?"


Julian yang sedari tadi tersenyum langsung memasang wajah seriusnya. "Yah, mereka diproses secara hukum. Mau bagaimana lagi, korbannya kan bukan hanya aku saja. Yang lebh parah banyak."


"Hih, menjijikkan, kayak nggak ada cewek aja."


"Namanya juga kelainan, Cup. Cuma ya itu sih, mereka benar benar nekat, ya, Jul."


"Eh,bkeluarga Rastam juga sekarang berubah ya? Udah nggak bisa sombong lagi."


"Ya mana mungkin bisa sombong lah, Di. Sejak tahu Julian anak sultan, mereka kayak kehilangan muka gitu. Apa lagi istrinya. Biasanya, kalau ke warung, udah kayak toko emas berjalan aja itu orang, lalu bergosip sambil memamerkan kekayaannya, eh sekarang kayak belalang keinjak kaki monyet, diam tak pandai berkata apa apa."


"Hahahah ... benar.Katanya orang paling kayak di kampung, tapi isi amplopnya cuma sepuluh ribu."


"Hah! yang bener, Iz?"


"Ya benar lah, bapak sendiri yang ngomong. Tapi memang bukan rahasia umum sih, mereka memang terkenal begitu, kalau kondangan ya segitu."

__ADS_1


Julian malah lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik dari obrolan ketiga sahabatnya. Pada akhirnya semua yang menjadi pembenci Julian, menemukan balasan yang semestinya.


...@@@@@@...


__ADS_2