PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Ancaman


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, kini tiba saatnya Julian menginap di rumah mertuanya yang ketiga, yaitu rumah Kamila. Dia dan istrinya berangkat sekitar pukul satu siang. Hanya menghabiskan waktu kurang dari dua puluh menit, motor yang dikendarai Julian dan Kamila telah memasuki halaman rumah yang tidak terlalu mewah, tapi tidak terlalu sederhana juga. Ada dua warung di sisi rumah itu. Yang satu warung kebutuhan rumah tangga, sebelahnya lagi konter milik Kamila.


"Eh ada menantu," sapa seorang pria paru baya yang sedang bermain dengan peliharaan burungnya. Kamila dan Namira sontak tersenyum sembari mengucap salam kepada orang itu.


"Bapak suka koleksi burung?" tanya Julian basa basi agar bisa lebih akrab dengan mertuanya. Biar bagaimanapun awalnya mereka tidak saling kenal, jadi wajar kalau ada rasa canggung di dalam diri Julian.


"Ya cuma beberapa aja, Jul, nggak banyak, cuma buat kesibukan kalau di rumah," jawab Bapak mertua. "Masuk dulu, Jul. Mil, ajak suamimu masuk. Ibu lagi keluar sebentar, beli rujak katanya."


"Oh, ya, udah, Ayo, Mas, masuk," ajak Kamila. Julian pun mengangguk dan dia mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam rumah terus duduk di kursi tamu yang ada di sana. "Aku beresin kamar dulu, Mas," pamit sang istri, dan Julian hanya mengangguk.


"Eh ... ada menantu!" suara cempreng ibu mertua dari arah luar rumah langsung menggema, mengejutkan Julian yang sedang menatap ponsel sejak beberapa menit yang lalu. "Kamila mana? Kok nggak di kasih minum?"


Julian langsung bangkit dan menjabat tangan ibu mertuanya. "Lagi di kamar, Bu. Naruh barang dan beresin kamar."


"Ibu dari mana?" tanya Kamila yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Beli rujak, Bapak mana?"


"Di belakang, Bu. Lagi cuci tangan," Julian yang menjawab.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Bapak mertua datang dari arah dapur, Kamila mengikuti ibu mertua ke arah dapur setelah Bapak duduk menemani Julian.


"Kamu sudah mulai dagang, Jul?" tanya Bapak.


"Belum, Pak. Mungkin lusa baru mulai lagi," jawab Julian seramah mungkin meski hatinya agak canggung.


"Terus Kamila sendiri gimana? Mau ikut dagang kamu atau gimana?"


"Mila mau pindah jualan, Pak, disana," ucap Mila sambil membawa nampan berisi teh manis dan cemilan. "Mas Julian kan baru saja beli kios untuk usaha istri istrinya."


"Hah! Beli kios?" pekik Ibu mertua sembari membawa hidangan lainnya dalam toples.


"Apa Lehan pernah kesini, Bu?" tanya Kamila disela sela obrolannya.


"Sejak kasus itu, Lehan dan kaluarganya menjauh, Mil. Bahkan Ibu juga sempat dikucilkan tetangga gara gara masalah yang menimpa kamu," jawab Ibu dengan wajah yang berubah sendu. "Bahkan Masmu sempat mau adu jotos sama keluarga Lehan. Untung aja ada Bapak."


"Ini juga kadang masih ada tetangga yang nyindir nyindir. Tapi Bapak, Ibu, Arif dan Ilham tak menggubrisnya. Biarlah, nanti waktu yang aman menjawab kebenarannya," ucap Bapak yang terlihat sangat tegar.


"Maafin Julian, Pak, Bu, ini semua juga gara gara ucapan Julian yang tidak terkontrol," ucap Julian penuh sesal. Biar bagaimanapun, dirinya memang turut andil besar dalam masalah yang menimpa keluarga istrinya.

__ADS_1


"Nggak apa apa, Jul. Semua udah terjadi. Bapak juga paham posisi kamu gimana. Yang penting, bagi Bapak, asal pernikahan kalian lancar, nggak ada masalah apapun, Bapak ikut seneng," balas Bapak bijak.


Mereka berempat lantas larut dalam obrolan ke hal lainnya. Suara tawa kadang juga menggema dari obrolan mereka. Suasana semakin hangat saat kakak dan adik Kamila datang dan ikut bergabung bersama mereka. Meski baru pertama kali dekat, Julian begitu mudah akrab dengan semua keluarga para istrinya.


"Beneran, Jul? Kamu dapat info darimana?" tanya Arif, kakaknya Kamila.


"Kebetulan ada korban Reynan yang datang ke rumah, sehari setelah pernikahanku, Mas. Orang itu menceritakan semuanya perbuatan Reynan dan temannya," terang Julian.


"Pasti teman yang dimaksud itu si Lehan, siapa lagi," terka kakaknya Kamila. "Bukankah mereka sedang lengket lengketnya."


"Maksud kamu apa, bawa bawa si Lehan, hah!" teriak seseorang pria yang menguping pembicaraan keluarga Kamila dari samping rumah.


"Paman!" pekik Kamila.


"Diam kamu!" bentak sang Paman. "Jika kalian masih menfitnah Lehan, aku nggak akan segan segan bawa kasus ini ke jalur hukum atas tindakan pencemaran nama baik, camkan Itu!"


Deg!


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2