
Malu, cuma itu yang dirasakan pasangan suami istri di malam ini. Keduanya saling memunggungi dengan senyum yang tak pernah pudar meski rasa malu mendera wajah mereka. Tidak pernah menyangka, mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sama sekali di dalam hidup Julian maupun Safira . Sungguh mengesankan. Terutama bagi diri sang suami.
Julian masih tidak percaya, dia bisa bersentuhan bibir dengan seorang wanita malam ini. Rasa panik yang sering menyerang dirinya, entah mengilang kemana sejak beberapa menit yang lalu. Apa lagi saat bibirnya menempel pada pada bibir sang istri, rasa panik itu seakan terkubur tanpa sisa berganti rasa nikmat yang baru saja dia rasakan seumur hidupnya.
Bahkan, hasrat Julian sebagai laki laki sempat terpancing karena adegan perang bibir yang dia lakukan bersama istrinya. Sesuatu yang bersembunyi di dalam celananya, menegang begitu saja akibat peran bibir yang dia lakukan. Gerakan tubuh Safira yang duduk pangkuan Julian, semakin memancing jiwa liar Julian terbangun.
Namun sayang, begitu perang bibir selesai, Safira langsung berbaring karena tak kuat menahan malu. Dia langsung memunggungi sang suami dan menutup wajahnya dengan selimut. Julian pun merasa gemas melihatnya, dia juga akhirnya ikut berbaring memunggungi istrinya. Hening, cuma itu yang terjadi diantara mereka sejak beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana perasaan Mas Jul?" tanya Safira tanpa merubah posisi berbaringnya.
"Hm? Em ... perasaan gimana maksudnya?" tanya Julian agak gugup karena kaget dengan pertanyaan Safira yang tiba tiba. Julian bahkan sampai menoleh ke arah punggung istrinya.
"Rasa paniknya gimana saat ciuman tadi? Apa semakin kuat?" tanya Safira.
Wajah Julian kembali bersemu malu. Dia langsung memunggungi istrinya kembali. "Tidak. Sepertinya paniknya malah menghilang."
Kening Safira sontak berkerut, tapi tak lama kemudian senyumnya terkembang. "Syukurlah. Berarti kemungkinan besar Mas Jul sebentar lagi sembuh."
Julian juga diam diam tersenyum senang. "Terimakasih. Aku ..."
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah selayaknya, aku membantu suamiku. Setidaknya Mas Jul sudah menemukan jalan untuk menghilangkan rasa panik itu. Untuk selanjutnya coba Mas julian kembangkan lagi. Coba ajak Namira dan Kamilla ciuman juga."
__ADS_1
Deg!
Julian tertegun mendengar saran istrinya. Tapi jika dipikirkan dengan baik, apa yang dikatakan Safira ada benarnya. Julian sudah menemukan jalan untuk mengatasi panik akut yang menderanya. Ternyata rasa paniknya memang harus dilawan. Tapi yang jadi pikiran Julian, bagaimana caranya dia mengajak istri yang lainnya?
Hening kembali menyapa Julian dan Safira. Hingga tak lama setelahnya, mereka diserang rasa ngantuk secara perlahan. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya terlelap dalam selisih waktu yang tidak terlalu banyak.
Saat pagi menjelang, Julian dan Safira pun masih merasa malu satu sama lain. Bahkan mereka sempat tidak saling tatap wajah. Setiap mata mereka bertemu, pasti mereka akan langsung tersenyum sembari melempar pandangan ke sembarang arah. Mereka sanggup saling tatap saat keduanya sama sama duduk di atas karpet sambil menikmati sarapan bersama keluarga Safira.
"Abah nggak jualan?" tanya Safira disela sela menikmati hidangannya.
"Nanti siang, baru jam berapa. Rasyid aja belum berangkat," jawab Abah. "Sepertinya kalian semalam tidur nyenyak? Apa Julian udah nggak panik lagi sejak menikah?"
"Ya baguslah kalau nyenyak. Berarti keputusan Paman kamu memilih menikah saat itu tepat," balas Abah. "Kamu memang harus menikah biar nggak panik terus tiap ada cewek yang deketin."
"Iya, Bah makasih. Abah sudah mengijinkan Safira menikah dengan saya."
"Ya memang lebih baik menikah kan? Daripada pacaran? Takutnya kebablasan."
"Hehehe ... iya, Bah," balas Julian dengan segala rasa canggung yang ada.
"Wah! Kalau Julian sembuh, berarti ada peluang untuk ngasih Umi cucu dong," celetuk Umi dengan santainya, tapi kembali menghadirkan rasa malu pada anak dan memantunya.
__ADS_1
"Astaga, Umi kalau ngomong!" seru Abah. "Lihat tuh, anak dan menantu Umi, wajahnya merah," ledek Bapak, dan sukses membuat Julian Dan Safira semakin merasa malu dan salah tingkah.
Hingga waktu terus melaju, Safira dan Julian pun memutuskan segera untuk pulang. Alasannya sama, Julian harus mengawasi rumah barunya. Setelah pamit kepada Abah dan Umi, Julian melajukan motornya menuju rumah mereka.
"Mas Jul," panggil Safira dari belakang jok motor."
"Hum? Ada apa?" tanya Julian dengan agak keras.
"Mas Jul tidak tersinggung kan, dengan ucapan Umi tadi?"
"Astaga! Ya nggak lah. Bukankah wajar setiap orang tua yang anaknya menikah pasti ingin memiliki cucu?"
"Iya sih, wajar. Tapi ..." Safira menggantung ucapannya.
"Tapi apa?"
"Emang Mas Julian mampu bikin anak?"
Deg!
...@@@@...
__ADS_1