PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Berusaha Untuk Adil


__ADS_3

"Kalau Mas Julian mau sembuh ya dia harus mau dong, tidur berdampingan dengan kita bertiga. Kalau terus terusan terpisah, gimana mau sembuhnya. Benar kan?"


"Ah iya, benar. Gimana Mas Jul? Mau kan tidur berdampingan sama kita?"


Julian tertegun. Mata yang sedari tadi menatap ke arah tiga istrinya berubah ke arah lain sembari garuk garuk kepala yang tidak gatal. Di sisi lain, Julian ingin bilang setuju tidur bersama secara bergantian, tapi di sisi lainnya lagi, rasa panik yang dia derita masih terasa membayangi, membuat Julian merasa dilema.


"Udah Mas Jul, nggak usah banyak mikir. Katanya pengin sembuh," ucap Namira sembari mengingatkan suaminya. "Nanti aku tidur di sebelah kanan Mas Jul."


"Aku di sebelah kiri," Kamila menyahuti dengan cepat.


"Lah, aku di sebelah Mana? Masa aku nggak kebagian?" protes Safira, wajahnya langsung ditekuk. Kedua istri yang lain malah ketawa, sedangkan Julian hanya tersenyum saja. Tapi protesnya Safira membuat Julian jadi berpikir bagaimana caranya agar bisa adil. Masalah tidur adalah hal sepele, tapi jika berebut seperti itu, bukankah itu bisa menjadi pemicu masalah yang lebih besar?


"Mas Jul, ini gimana? Masa aku nggak kebagian jatah?" rengek Safira.


Julian menghembus nafasnya secara pelan. Senyumnya terkembang sebelum dia mulai bersuara. "Gini aja deh, kalau digilir aja gimana?"


"Digilir gimana maksudnya, Mas?"


"Gini, misal, malam ini Namira di sebelah kananku, Kamila di sebelah kiri, Safira di sebelah kiri Kamila. Nah malam besoknya, Safira di sebelah Kananku, Namira pindah sebelah kiriku, Kamila yang di sebelah Namira. Begitu terus sampai semuanya kebagian berada disisiku, gimana?"

__ADS_1


Ketiga istri Julian lansung saling pandang, seperti sedang bermusyawarah lewat tatapan mata, tapi itu hanya berlangsung sejenak, karena mereka kembali menatap suami mereka.


"Ide bagus tuh, Mas. Itu malah terlihat lebih adil," ucap Namira. "Kalian setuju, kan?"


"Ya aku sih setuju aja," balas Kamila tanpa rasa keberatan.


"Sama, aku juga setuju. Jadi semua bisa merasakan hal yang sama," ucap Safira. "Tapi Mas Jul, kalau soal hubungan badan gimana? Mas Jul ada hasrat nggak sih sama wanita?".


Julian terperanjat. Bagaimana bisa Safira menanyakan hal itu tanpa basa basi. Julian pun kembali bingung mau jawab apa. Dia menggarruk kepalanya sambil berpikir. Julian melihat Kamila bergerak dan berbisik ditelinga Safira hingga mata Safira membelalak mendengar bisikan tersebut.


"Oh iya!" Safira spontan menepuk keningnya. "Tidak ada cinta diantara kita."


"Kenapa? Kalian masih meragukanku?" tanya Julian dengan tatatapan menyelidik.


"Aku tahu, aku sudah mendengarnya," ucap Julian yang sukses membuat mata Safira dan Kamila membulat bersama. Berbeda dengan Namira yang memang sudah tahu isi hati Julian. Wanita itu lebih tenang, bahkan sampai tersenyum simpul.


"Biar aku yang ngomong, Mas Jul," kata Namira. "Jadi gini ..." Namira langsung menceritakan kembali isi hati Julian. Meskipun ceritanya terdengar sedikit lebih lebay, karena ada hal yang ditambahkan, Julian sama sekali tidak melayangkan protes. Dia malah senang karena semua yang diceritakan Namira memang mewakili isi hatinya saat ini.


"Wah! Beneran? Mas Jul mau belajar mencintai kita?" tanya Safira dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1


Julian mengangguk malu malu. "Tapi maaf, karena kalian bertiga, ya cintaku nanti dibagi tiga, nggak apa apa kan? Soalnya kalian sudah sah jadi istriku dan tidak akan ada yang aku ceraikan."


"Ya gimana lagi, mau tidak mau ya kami harus terima keadaan. Lagian aku juga nggak mau jadi janda," ucap Kamila.


"Benar, aku juga nggak mau," celetuk Safira. "Apa lagi ternyata Mas Jul kaya raya. Aku sangat tidak mau dicerai, hahaha ..."


"Ya udah, berhubung kita sama sama nggak mau dicerai, berarti kita harus rela berbagi. Jadi mulai sekarang, kita harus sama sama saling terbuka, oke!" kata Namira.


"Oke!" seru Safira dan Namila. Bahkan dengan spontan, Safira langsung maju dan memaksa duduk dipangkuan suaminya. Makasih ya suamiku," ucap safira dan dia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Julian. Tentu saja tingkah Safira sangat mengejutkan bagi yang lainnya terutama Julian.


"Ya ampun Safira, main sosor aja, aku juga mau," protes Kamila.


"Iya ih, apa nggak malu, ada kita disini? Bikin iri" sungut Namira.


"Loh, ngapain malu? Katanya kita harus saling terbuka? Lagian cuma ciuman doang, nggak sampe buka baju," balas Safira membela diri.


"Terbukanya nggak gitu juga kali," Kamila masih tak terima, biar bagaimanapun dia juga ingin perang bibir dengan suaminya, begitu juga dengan Namira.


"Ya udah, biar adil, mending Mas Jul berbaring deh, nanti biar kita bisa gantian cium bibir Mas Jul."

__ADS_1


"Waduh!


...@@@@@@...


__ADS_2